Wisata Sekitar Borobudur

Handoko Widagdo – Solo

 

Dulu aku menyangka bahwa tempat wisata Borobudur hanyalah candi. Candi Buddha terbesar di dunia itu memang sungguh sangat menarik. Namun ternyata, selain dari candi nan megah, ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di sekitar Borobudur. Ada candi-candi lain yang lebih kecil dan eksotik. Ada Ketep Pass yang memamerkan indahnya Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Ada bukit Punthuk Setumbu yang menyajikan indahnya sun rise. Ada Gereja Ayam yang memesona. Dan ada wisata rafting di Sungai Elo atau Sungai Progo.

 

Candi-candi

Menuju ke arah barat laut dari Kota Mungkid, menyusuri jalan kampung yang beraspal bagus kita sampai ke jalan raya Jogja – Magelang. Setelah menyeberangi Kota Muntilan kami menuju ke utara. Sampai di Pasar Dukun yang pagi tiu sudah ramai, perjalanan mobil kami agak tersendat. Namun lima menit kemudian kami disuguhi sebuah pemandangan indah di dekat lahan sayur. Candi Asu memamerkan wujudnya yang kecil tapi berwibawa. Nama Candi Asu diberikan oleh warga setempat karena di depan pintu bangunan candi terdapat patung yang mirip dengan anjing (asu dalam Bahasa Jawa).

Tak jauh dari lokasi Candi Asu, ada candi yang tersembunyi di tengah kebun sayur yang terpagari rumpun-rumpun bambu yang lebat. Berjalan kaki sekitar 300 meter masuk ke dalam kebun sayur kami menemukan bangunan candi lain yang perwujudannya mirip dengan Candi Asu. Candi ini diberi nama Candi Pendem. Sebab candi ini memang awalnya terpendam di dalam tanah. Itulah sebabnya candi ini diberi nama Candi Pendem. Baik Candi Asu maupun Candi Pendem tidak lengkap bagian atasnya. Mungkin bagian atas yang hilang ini adalah akibat batu-batunya diambili oleh masyarakat secara tidak sengaja, waktu kedua candi ini masih dalam bentuk reruntuhan.

Candi lain yang berada di sekitar Borobudur adalah Candi Ngawen. Candi Buddha ini terdiri dari empat bangunan candi sejajar. Di masing-masing candi terdapat patung Buddha di dalamnya. Candi pertama berupa reruntuhan. Di candi pertama ini kita hanya bisa melihat bagian kaki candi saja. Di candi kedua juga masih dalam bentuk reruntuhan terbuka. Namun di candi kedua ini kita bisa melihat patung Buddha yang tak terlindungi dinding candi sama sekali. Sedangkan dua bangunan candi lainnya masih lumayan utuh. Di kedua bangunan candi yang utuh itu kita bisa melihat patung Buddha tanpa kepala yang duduk di tengah bangunan candi. Di keempat ujung bangunan candi terdapat patung singa yang terlihat sangat gagah, seakan menyangga dan menjaga bangunan candi.

Satu candi lagi yang tak boleh dilewatkan adalah Candi Mendut. Candi yang merupakan bagian penting dari ritual Waisak di Borobudur ini sangat megah dan utuh. Lokasinya tak jauh dari Candi Borobudur. Tepat di tepi jalan menuju Borobudur dari arah jalan Jogja – Magelang. Bangunan candi berdiri megah di tengah lapangan rumput yang hijau. Di dalam candi terdapat tiga patung Buddha dengan posisi yang berbeda. Dinding candi dipenuhi dengan relief yang mengisahkan penggalan-penggalan perjalanan sang Buddha.

 

Sun rise dan Gereja Ayam

Perjalanan mengagumi candi belumlah selesai. Tepat setelah kawan-kawan menunaikan shalat subuh, kami segera bergegas menuju bukit Punthuk Setumbu. Bukit yang berbentuk seperti tumbu ini memberikan kesempatan kepada kita untuk menyaksikan indahnya matahari yang muncul di seberang lembah, dimana Candi Borobudur bermukim. Lembah luas itu bagaikan danau dan Borobudur bagaikan bunga teratai di tengahnya. Mentari yang pelan-pelan muncul menyapa awan tipis yang memeluk candi dan menyelimuti lembah yang masih berwarna hitam. Betapa hebatnya Wangsa Syailindra yang memilih lembah di bukit Menoreh ini untuk mendirikan sebuah bangunan candi yang layaknya bunga teratai di tengah danau.

Keindahan Candi Borobudur di saat fajar bisa juga disaksikan melalui atap Gereja Ayam. Gereja Ayam adalah nama yang diberikan kepada sebuah bangunan berbentuk burung merpati yang berada di atas bukit. Bangunan ini adalah sebuah gereja. Namun demikian bangunan ini bukan semata gereja. Sebab pendirinya Daniel Alamsjah mendapatkan firman langsung dari Tuhan (rhema) untuk mendirikan rumah doa bagi segala bangsa. Itulah sebabnya di dalam gereja ini disediakan tempat doa yang bisa digunakan oleh semua agama. Di gereja ini juga disediakan ruang khusus seperti mushalla bagi umat Islam yang ingin menunaikan ibadah shalatnya. Betapa indahnya jika semua bangsa dan semua agama bisa berdoa, menyembah yang Maha Kuasa bersama-sama.

 

Rafting di Sungai Elo

Salah satu wisata yang tak boleh dilewatkan di sekitar Borobudur adalah wisata sungai. Ada dua sungai yang menyediakan wisata rafting, yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo. Mengingat umur kami yang rata-arat sudah lewat 50 tahun, kami memilih rafting di Sungai Elo yang levelnya adalah untuk pemula. Setelah mendapatkan pengarahan dari instruktur bagaimana kami harus menggunakan dayung, aspek keselamatan dan lain-lain, kami segera menuju ke perahu karet yang sudah merapat di tepi sungai. Satu perahu karet diisi 5-6 orang. Perahu pun melaju di arus sungai yang mula-mula tenang. Instruktur kami mulai berulah nakal saat perahu mendekati jeram. Ia sengaja mengarahkan perahu sehingga perahu menabrak arus saat melewati jeram. Seketika kami berteriak seiring adrenalin yang memasuki darah kami. Namun setelahnya kami begitu gembira karena ternyata kengerian sesaat tapi tak membuat kami celaka. Di beberapa jeram instruktur kami menghadapkan perahu kami dengan berbagai ketegangan yang membuat kami menjerit. Selebihnya di sepanjang sungai kami bergurau dengan cara saling siram antar perahu.

 

Ketep Pass

Ketep Pass tak jauh dari Borobudur. Hanya memerlukan sekitar satu setengah jam berkendara dari Borobudur. Dari puncak Ketep Pass kita bisa menyaksikan indahnya Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Jika cuaca jernih, kedua gunung ini bisa nikmati keindahannya. Seakan keduanya hanya sejangkau tangan saja. Ketep Pass dilengkapi dengan theater yang menggambarkan betapa ganasnya Gunung Merapi saat meletus. Namun dalam film yang sama kita disuguhi berkat yang diberikan oleh Merapi kepada alam dan masyarakatnya. Sungai yang jernih, lahan sayur yang subur, burung-burung yang hidup ceria manja dan senyum anak-anak yang menikmati alam.

Wisata di Borobudur memang bukan hanya menyaksikan candi Buddha terbesar di dunia saja. Banyak obyek wisata lain yang tak kalah menarik di sekitar Borobudur. Lagi pula saat ini telah tersedia berbagai kelas penginapan. Bagi yang berkantong pas-pasan, kamar-kamar di rumah penduduk dan losmen-losmen kecil tapi bersih di sekitar Borobudur siap memberi layanan penginapan. Bagi anda yang berkantong tebal, hotel seperti Hotel Amanjiwo, Hotel Manohara dan lainnya akan memberikan kenikmatan yang siap memanjakan Anda.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Wisata Sekitar Borobudur"

  1. Handoko Widagdo  12 March, 2017 at 12:12

    James, ayolah sempatkan ke Indonesia dan menikmati indahnya Nusantara.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *