Telat Panas

Wesiati Setyaningsih

 

Kalau saya di rumah cerita tentang murid-murid saya yang bandel, diberi tahu berulang-ulang tapi seolah tidak mau mendengarkan, atau malas mengerjakan tugas yang diberikan, bahkan sampai suka bolos sekolah, Ibu saya yang juga guru SMA cuma bilang,

“Gitu-gitu nanti juga bisa jadi orang. Sudah banyak muridku dulu nakalnya minta ampun. Sekarang sudah jadi ini itu…”

Lalu mengalirkan cerita beliau tentang murid-muridnya yang dulu di SMA bukan anak-anak yang masuk ‘pelajar teladan’, tapi setelah lulus SMA melanjutkan di tempat pendidikan yang baik, baik universitas ataupun menjadi polisi atau tentara.

Ketika awal menjadi guru, belum ada murid saya yang lulus, saya belum yakin akan hal ini. Tapi nyatanya setelah murid yang saya ajar pada lulus, apa yang dikatakan Ibu saya memang benar. Dari banyak contoh, ada satu murid saya yang dulu ketika sekolah bisa dibilang, “minta ampun, deh”.

Seragamnya sudah tidak jelas warnanya antara putih dan coklat. Rambutnya panjang berantakan, kaya tidak disisir. Di kelas bukan anak yang bisa perhatian ketika diterangkan. Selalu ngobrol dengan teman sebelahnya. Jelas saya ingatkan kalau begini. Tapi nyatanya dia mengerjakan semua soal di LKS jadi dia selesai duluan ketika temannya diminta mengerjakan.

Maka tak heran dia sudah tidak punya kerjaan ketika teman-temannya sedang mengerjakan. Beberapa waktu lalu ketemu, ceritanya malah lebih parah. Dia sekolah karena dijemput temannya, kalau temannya tidak menjemput, dia berangkat telat, dan ini sering. Kalau sudah telat begini, dia lompat dari tembok batas sekolah dengan mesjid. Sementara kalau temannya menjemput saat dia masih tidur, dia akan bangun dan ganti baju begitu saja, tanpa mandi. Dia masukkan sabun dan handuk kecil di tas, untuk mandi di sekolah saat istirahat. Tak heran kalau di jam pertama dia akan kelihatan kusut minta ampun, bahkan mungkin kotoran mata masih tersisa.

Setelah dia lulus, saya tidak terlalu mendengar kabarnya. Tiba-tiba ketika saya usai belanja di sebuah mini market, ada seorang anak muda menyapa. Rambutnya cepak, badannya gagah dan rapi. Dia mengulurkan tangan.

“Masih ingat saya, Bu?”

Saya menatap dan berpikir lama. Dia menyebutkan nama untuk mengingatkan saya. Si anak kusut yang jarang itu sekarang sudah jadi polisi!

Peristiwa seperti ini banyak sekali. Sehingga saya selalu mengatakan pada orang tua yang panik dan kuatir pada anaknya, “Tenang saja. Sejauh dia tidak melakukan tindak kriminal, Bapak Ibu tidak perlu kuatir. Paling telat panas saja, itu.”

Saya maklum kalau orang tua panik ketika anaknya seperti tidak punya tanggung jawab. Diberi tahu begini, yang dilakuin apa. Dinasehati begitu, lewat saja. Tapi nyatanya, sebenarnya apa yang dinasehatkan itu bukan ‘masuk telinga kiri keluar kuping kanan’ kok. Mungkin sedang diolah di otak, tapi ngolahnya lama.

Saya sendiri punya pengalaman dengan si sulung saya, Dila. Banyak hal yang membuat saya kuatir dengan dia. Saya bangga dengan semangat belajarnya yang luar biasa. Sejak kecil dia selalu mengerjakan PR tepat waktu. Tiap ada ulangan saya bahkan nggak tahu dia akan ada ulangan karena sudah belajar sendiri. Dia belajar tiap malam, ada ulangan atau tidak. Saya tidak pernah menata bukunya untuk esok hari sejak dia TK. Dia sudah tahu tanggung jawabnya sendiri.

Tapi, untuk hal-hal yang bersifat sosialisasi, aduh saya sampai kesal. Dia tidak mau kalau disuruh ke tetangga untuk hal-hal seperti memberikan oleh-oleh, nitip arisan atau urusan apapun. Bahkan sampai SMA, disuruh ke apotik dekat rumah untuk membelikan obat saja dia tidak mau karena malu. Bagaimana saya tidak kesal dan kuatir?

Nyatanya begitu lulus SMA semua berubah. Selulus SMA dia diterima di Komunikasi Undip. Anak sekarang, tidak seperti jaman saya dulu. Sekarang bahkan menunggu jadwal kuliah, mereka sudah terhubung dalam line. Jadi begitu ada pengumuman mereka diterima di Komunikasi Undip, masing-masing sudah bisa diskusi di line. Lalu mereka memutuskan untuk ‘meet up’ duluan. Karena posisi rumah dekat dengan Undip, Dila mengambil tanggung jawab untuk mengurus pertempuan ini. Saya sudah tidak ikut campur sama sekali, dia cuma ijin mau makan di resto-resto murah meriah dekat rumah dan membandingkannya.

Pokoknya dia jadi EO untuk acara ‘meet up’ ini. Pada harinya, sekitar separuh lebih dari seluruh angkatan dia yang datang. Acara berlangsung lancar dan tidak ada keluhan mengenai iuran dan menu. Beberapa teman berterima kasih atas apa yang sudah dia lakukan. Dia ceritakan ini dengan bangga. Dan saya sebagai Mama jelas lega. Nyatanya dia cuma ‘telat panas’.

Jadi sekarang kalau Izza masih males belajar dan perlu diingatkan terus-terusan, masih saja berantakan saat menyiapkan ini, selalu ada barang ketinggalan, saya tahu saya tidak perlu kuatir. Kesal, jelas. Mengingatkan, juga selalu saya lakukan. Memang salah satu tugas orang tua kan cerewet sama anak. Tapi kalau dia masih begitu-begitu melulu, saya tidak panik lagi. Paling-paling dia cuma ‘telat panas’.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "Telat Panas"

  1. wesiati  22 March, 2017 at 13:00

    Artikel ini saya buat karena sebagian gemas juga sama ibu-ibu yang kuatiran mulu anaknya itu bodoh atau apa. gemas lagi kalau lantas dia mikir “anakku bakalan jadi apa nanti kalo sekarang enggak pinter di sekolah?”

    Woiii… anak-anak yang dulunya nilainya jelek mulu nyatanya malah bisa kuliah dan lancar jaya, tuh. Kenapa coba? karena mereka sudah mulai mikir tanggung jawab. pas jaman sekolah mereka hepi2 sepuasnya. ini yang orang tua nggak mikir. lagian gimana2 juga orang itu sudah ada jalan hidupnya. Tugas orang tua adalah membantu mereka menemukan jalan hidupnya dengan lebih cepat kan? biar nggak kelamaan muter2. Bukannya malah bikin mereka belibet sendiri.

  2. Alvina VB  16 March, 2017 at 03:21

    He..he….setuju dengan article ini. Banyak anak2 yg biasa2 aja waktu masih kecil, ttp sukses stl dewasa. Ini yg masuk kategori ‘telat panas’. Yg udah panas duluan, biasanya kebakar pas dewasa/ panasnya hilang, he..he…..

  3. Jeng Margi  15 March, 2017 at 09:47

    Nice article mb wesi, apa yg mb wesi tulis sangat mewakili ibu-ibu yang kebetulan punya anak sekolah. Intinya nggak boleh terlalu khawatir ya, sepanjang anaknya tdk berbuat kriminal. mantafff
    anyway, istilahnya koq ” telat panas” to mb ? hehehe

  4. Titin  15 March, 2017 at 03:13

    Jempol 5 biji buat mu bu..

  5. James  14 March, 2017 at 09:32

    Ci Lani, ya iya kalau saya melahirkan anak berarti sama seperti si Arnie Swarsegeran dong

  6. Lani  14 March, 2017 at 08:26

    Bagaimana dgn kamu James? Klu tdk salah kita sama2 tdk pernah punya anak (jelas istrimu kamu mana bisa hamil hahaha)

  7. Lani  14 March, 2017 at 08:25

    Wesi: Karena saya tidak pernah punya anak sendiri, atau mengadopsi anak akan tetapi saya akan diposisi yg sama spt ibu2 kuatir, deg2-an, mau jadi apa ini anakku kedepannya……….

    Nakal, malas, suka bolos dan serentetan lain2nya………

    Tapi aku jd ingat ketika membaca kata2 bijak disalah satu Bank di Kona yg kata2nya begini ” anak2 akan lebih mudah mengikuti contoh2 yang diberikan oleh orang tua mereka drpd dikasih nasehat dengan kata2″

  8. Handoko Widagdo  13 March, 2017 at 18:46

    Aduh…aku rindu tulisan-tulisan seperti ini. Senang rasanya ada guru yang memberi kesempatan bagi siswa-siswanya untuk tumbuh sesuai dengan kecepatannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *