Kisahku Sore Ini

Dian Nugraheni

 

Pesan buat yang baca: take it easy, beibeh..!

Aku, sebenere, bukan sosok yang melihat orang dari sisi agamanya. Sebab aku tau, agama ini sangat privat dalam kehidupan seseorang.

Juga, karena menurut pendapatku, nggak semua orang yang kehidupan agamanya, kelihatannya baik, khusuk, dan tampilannya pun “agamis”, adalah sosok-sosok yang “humanis” dalam kehidupan sehari-hari dengan manusia lain yang pastinya berbeda-beda antara gundul satu dengan lainnya.

Di apartemen baruku ini, cukup banyak penghuni yang menurut caranya berpakaian, adalah Moslem. Ada juga yang satu lantai denganku, bahkan tembok kamar kami berhimpitan.

Sering banget aku berpapasan dengan si Ibu muda ini, juga ketika dia bersama anak-anaknya yang masih kecil. Selalu aku sapa, “hai, how are you..” Juga aku tawarkan untuk memencetkan tombol angka di dinding ruang lift ketika kami kebetulan masuk lift bersamaan, “lantai berapa..?’

Bagaimana pun ramahnya aku, muka si Ibu muda ini, biasa-biasa saja, tidak menunjukkan ingin membalas dengan keramahan pula.

Sore tadi, hanya si Ibu ini denganku yang masuk lift. Aku bawa belanjaan di tangan kiri dan kanan. Si Ibu menawarkan, “Lantai 5..?”

Aku, “Sure…thaanks…”

Setelah diam sedetik dua detik, aku berkata, “Assalamu alaikum…, where you come from..? I’m from Indonesia..”

Dia tersenyum, tapi matanya menatapku masih curiga. Lalu dia tanya, “Apakah kamu tau dan bisa baca bahasa Arabic..?”

Aku, “little bit…, mmm, I’m..Moslem too.., but I don’t wear hijab like you..”

Aku bilang bahwa aku Moslem, agak plegak-pleguk, karena aku merasa sangat kecil, dan mungkin ga terlalu berhak untuk menyatakan bahwa aku, Moslem. Inginku, siapa aku secara reliji, biarlah hanya Tuhanku yang tau dan memberi label. Tapi aku “terpaksa” bilang begitu, untuk mencoba menjalin hubungan bertetangga dengan lebih baik saja.

Ternyata “pancinganku” berhasil, “Ohh, niiiice…wa alaikum salam…”

Bla..bla..bla.., lalu kami terlibat pembicaraan singkat selama berjalan berdampingan di lorong menuju room kami masing-masing.

Bla..bla..blanya gini, aku, di mana pun, kalau orang mengucapkan salam, maka tanpa curiga, aku langsung balas salam, bahkan bila itu bukan orang Islam. Karena bagiku, bahasa, bisa jadi adalah universal, dan siapa pun, boleh mengucapkan salam padaku.

Tapi kayaknya si Ibu tetanggaku tadi, kalau ada orang ngucap salam begitu, dia ga akan balas sebelom dia tau bahwa yang ngucapin salam itu, beragama yang sama dengan dia.

Atau, ini kan di Amrik, boo..! Mana suasana politik lagi ga tentu..Kaum moslem sedang didiskreditkan secara politis. Siapa tau si Ibu itu mengiraku adalah mata-mata, dengan pura-pura mengucapkan salam…, dan seterusnya…dan seterusnya…he..he..

Okay, aku nggak ada hard feeling. Aku senang sudah bisa buka jalan buat berhai-hai dan mendapatkan tanggapan lebih ramah dari dia.

Mohon, kalau ada yang komen, nggak usah pakai nanduk-nanduk, dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan ya.., ini mbak Di cuma menceritakan, bagaimana orang asing dengan orang asing, memulai suatu hubungan…Dengan lain orang, dan lain bangsa, serta lain latar belakang budaya dan kehidupannya, tentu ceritanya akan menjadi lain lagi..

Tapi, believe me..semua ini, indah adanya…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

4 Comments to "Kisahku Sore Ini"

  1. Lani  16 March, 2017 at 10:39

    Dian: aku langsung ngakak ketika kamu pesan “Mohon, kalau ada yang komen, nggak usah pakai nanduk-nanduk” mmgnya kebo punya tanduk kkkkkk………

    Dari artikelmu diatas sptnya, nampaknya utk berkenalan saja spt ada rasa curiga, ada keragu-raguan spt kamu katakan tetanggamu itu mikir utk menjawab ucapan salam mu………

    Mungkin tdk memperbandingkan tp kondisinya boleh dikatakan beda klu di Kona atau mungkin bisa aku sebut Hawaii………sgt mudah utk berkenalan, bahkan tdk kenal waktu pagi2 butapun ktk aku olahraga klu ketemu sesama pejalan kaki walaupun mereka tdk berolahraga kami saling sapa……….

    Apakah mungkin latar belakang Hawaii sbg tourist destination jd mempengaruhi penduduknya aku tidak tahu akan ttp kenyataannya mmg orangnya lebih terbuka walau dibilang sesama orang asing………..

  2. sugiarto goh  16 March, 2017 at 08:47

    indeed….nice to share the story. GBU

  3. James  16 March, 2017 at 04:50

    Wah komenku hilang lagi disini

    DN justru artikel keseharian spt lbj menarik utk di baca dan diikuti, thanks

  4. Dj. 813  15 March, 2017 at 02:39

    Persahabatan atau bertetangg tanpa melihat apa agamanya, itu Dj. rasa sangat baik .
    Terimakasih dan salam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *