Tahi

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SEBELUM September 1984, ibu saya berkala ikut pengajian ibu-ibu Gorontalo di Tanjung Priok. Di sana memang lokasi ghetto-nya etnis Gorontalo dan Indonesia Timur lainnya (Sangir, Maluku, Minahasa dan Bugis-Makassar). Usai kejadian Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, baru kita sadar bahwa ibu saya ikut pengajian yang dikelola Amir Biki. Tokoh sentral Perintiwa tragis Tanjung Priok. Biki berasal dari etnis Gorontalo, sama dengan keluarga saya. Puluhan umat Islam dibunuhi oleh kaum militer atas perintah pemerintah Orde Baru dalam Peristiwa Tanjung Priok, termasuk Amir Biki sang tokoh. Jenazahnya tidak dimandikan dan tidak dishalatkan karena dianggap jihad.

Usai kejadian itu, kami etnis Gorontalo yang tak tahu apa-apa sering mendapat kesulitan dalam banyak hal. Kecuali komunitas Gorontalo kelas atas yang akrab dengan Orde Baru (spt fam atau marga Uno, Pedju, Habibie, etc) Misalnya, kakak saya saat screening oleh militer (dulu ini syarat mutlak bila ingin jadi PNS) dengan pertanyaan, “apakah Anda kenal Amir Biki?”. Ya, kenallah! Hitler saja kami kenal. Masalah dia kenal kita, lain masalah lagi.

Intinya, bagi kami, Orde Baru banyak membunuhi dan memberangus dinamika umat Islam. Hanya jelang akhir kekuasaannya, umat Islam digandeng kembali oleh Orde Baru,

Sabtu 11 Maret 2017 di sebuah mesjid di TMII, tokoh-tokoh umat Islam dikumpulkan oleh tuan rumah yang pernah membunuhi umat Islam semasa Orde Baru. Mereka mencoba melupakan tragedi saudaranya sendiri, tapi lantang membela umat Islam, di ujung dunia entah berantah.

Acara 11 Maret 2017 itu mirip orang-orang Yahudi menghadiri acara Nazi.

Tahi.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Tahi"

  1. Lani  20 March, 2017 at 12:37

    Al: kamu betul sekali mmg jalan satu2nya babat habis bissssssss………..cuma ada tukang babat habis yg berani apa tidak? Klu belum ada sementara pakai caramu dulu nunggu sampai pd tuiiiiiiiiir dan koit sendiri2 hahaha………nunggune sampai tahun piro??

  2. Alvina VB  19 March, 2017 at 08:44

    Simpatisan Nazi aja pada bangkit, …gak heran simpatisan Orba juga bangkit lagi, kecuali spt yg mbakyu Lani bilang, babat habis sampe ke akar2nya.Kayanya makan waktu dah…nungguin mereka tua dan koit….coba, numpang tanya….lah siapa yg berani mencabut kekuasaan kel. Habibie dan SBY, dua kel. yg merupakan kroni yg terdekat dgn Soeharto.

  3. James  15 March, 2017 at 07:56

    warisan Soeharto tidak pernah dikembalikan kepada Rakyat Indonesia termasuk kekejamannya

  4. Dj. 813  15 March, 2017 at 02:30

    Mas Iwan . . .
    Kok malah mengoingat Dj. akan pacar yang dari Gorontalo . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Atiolo . . . ! ! !

  5. Lani  14 March, 2017 at 23:19

    ISK: Bukannya warisan orde baru nyolong, maling, keserakahan ditinggalkan nancep sedalam dalamnya dibumi Indonesia…….contohnya siapa lagi klu bukan Soeharto dan para kroninya……….mrk semua hrs dicabut sampai keakar akarnya

  6. Sumonggo  14 March, 2017 at 20:30

    Warisan terbesar Pak Harto bagi anak-anaknya adalah keserakahan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *