Guru Terpaksa atau Tersesat?

Wesiati Setyaningsih

 

Ada guru-guru yang sebenarnya masuk dalam profesi ini karena tersesat. Minat mereka tidak mengajar tapi karena dorongan orang sekitar, mereka kuliah di universitas keguruan. Ketika lulus, nggak ada kerjaan lain, maka jadilah mereka guru. Yang seperti ini lumayan banyak, semoga ada survey mengenai hal ini.

Mereka ini biasanya malas meningkatkan kompetensi. Malas bikin soal, malas ngajar, malas membaca hal-hal yang bisa dibagi ke siswa. Pokoknya ngajar yang penting datang, dapat gaji dan tunjangan, selesai. Meningkatkan kualitas diri itu nggak penting.

Repotnya, kalo karena nggak kompeten ngajar, lantas juga suka marah-marah. Kompetensi materi enggak mencukupi, kompetensi sebagai pendidik juga nggak ada. Buat apa peduli nyari tau gimana mengajar yang menyenangkan? anak orang inih. Kerjaannya kalo di kelas marah-marah melulu, bikin stres anak muridnya.

Nah, kalau seperti ini lantas bagaimana? Mengingat aturan PNS, memecat pegawai itu sangat kecil kemungkinan. Bahkan guru yang sakit jiwa saja masih dipekerjakan hanya gara-gara dia PNS. Alhasil orang tua nyesek karena anaknya dimarahi dan dipukuli hampir tiap hari, tapi kepala sekolah nggak mau menindak karena takut dianggap tidak bisa memimpin anak buah.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Guru Terpaksa atau Tersesat?"

  1. HennieTriana Oberst  22 March, 2017 at 19:02

    Jadi ingat sebagian guru dulu yang ngajarnya asal.

  2. wesiati  22 March, 2017 at 12:56

    alvina : benar banget…

    james : ideologinya duit. gimana dong?

  3. Alvina VB  19 March, 2017 at 01:39

    James: double tugasnya sekarang jadi guru khentir dan jadi murid lage….

  4. Lani  17 March, 2017 at 08:36

    James: engga tahu kenthirs yg lainnya……………klu yg di Kona ndak bisa jd guru………

  5. James  17 March, 2017 at 04:50

    1…..
    Seharisnyalah guru itu dgn kesadaran dan tanggung jawab yg tinggi krn utk membangun genrasi penerus bangsa dan negara

    Para Kenthirs jd guru apa yah?

  6. Alvina VB  17 March, 2017 at 00:39

    Lanjut komen ya….Kl di sekolahan swasta, guru2nya lebih kompeten lah krn gajinya juga kan jauh lebih tinggi dan guru2nya punya teaching certificate yg jelas, ttp nanti yg gemblung sekolahannya. Kl kekurangan guru, nanti guru matematika bisa ngajar gym/sport, atau guru Bahasa perancis bisa ngajar bahasa spanyol, krn katanya gramarnya mirip2, opo tumon….Sebetulnya guru yg tidak kompeten itu jadi guru krn terpaksa… bukan panggilan. Ada banyak guru di sini ngajar krn kerjaan yg lainnya gak dapet, ya ngajar aja dah ambil aja teaching certificate yg kilat kan ada, apalagi kl mereka almamater sekolahan tsb, gampang aja dptnya.

  7. Alvina VB  17 March, 2017 at 00:17

    Westi: Ini fenomena di sekolahan diTimur dan Barat ya….makanya saya gak confident masukin anak saya di sekolahan negri ya krn masalah satu ini. Banyak guru ngajar seenak udelnya, sering bolos dan diganti sama substitute teacher. Sekolahan negri di sini punya union yg cukup kuat dan gak gampang pecat guru, kl gurunya yg betulan ngilani, misalnya pelecehan seksual baru bisa dipecat, kl cuman sering bolos atau mukul anak, paling kena disiplin ttp tetep masih bisa ngajar.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *