INDONESIA DAR AL SALAAM BUKAN DAR AL ISLAM

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

MALAM ini menghadiri misa arwah 40 hari wafatnya ayahanda sahabat baik kami di Cempaka Putih. Pertama kali bagi saya hadir di cara seperti ini. Pastilah doanya dengan tata cara liturgi Katolik. Yang didoakan bukan beragama Katolik. Namanya Bapak Muhammad Saeri bin Djamin. Rajin shalat lima waktunya. Siangnya ba’da Dzuhur diadakan tahlilan terlebih dahulu.

Di lingkungan rumah saya, bukan aneh ada tahlilan di sebuah rumah, sementara salib Jesus tergantung di dinding. Romonya masih muda. Cuma sebaris kalimat yang saya inget dari misa arwah ini.

“Tidak ada kebetulan. Semua sudah direncanakan dalam penyelenggaraan Tuhan. Hanya kita harus mencari tahu maknanya”, begitu Romo bilang.

Waktu saya masih rajin ikut model kajian semasih di ahensi (bukan pengajian konvensional) kalimat yang sama keluar dari habib Arab bin Yahya asal Pemalang: “tak insiden dalam alam semesta, semua sudah direncakan Allah”. Mirip seperti DNA yang sudah berisi data kita di masa depan. Dari penyakit sampai hal-hal besar,

Semua agama banyak samanya daripada bedanya. Cuma kita di Indonesia sering cari perbedaannya, jadilah beda total.

 

 

5 Comments to "INDONESIA DAR AL SALAAM BUKAN DAR AL ISLAM"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 March, 2017 at 04:57

    Tidak seperti itu yang terjadi di Indonesia saat ini sekarang. Anak-anak dididik untuk mengutamakan perbedaan dan kadang kebencian terhadap golongan lain. Hampir semua diajarkan seperti itu.

    Kecuali anak saya.

  2. Alvina VB  21 March, 2017 at 23:09

    Memang berbeda itu indah banget, utk anak2 pitik ngajarinnya gampang aja utk menghargai perbedaan ras, suku/agama: kebayang gak sich kl pelangi itu cuman 1 warna aja? merah aja atau oranye/kuning/hijau aja? Nah kl berwarna-warni kan jauuuuhhhh lebih indah…begitu juga utk manusia.

  3. Dj. 813  21 March, 2017 at 19:45

    Dj hanya melihat kata Cempaka Putih . . .
    Kampoeng halaman selama beberapa bulan tinggal di Taman Solo .
    Dimana tahun 1973 masih banyak rawa dan dari rumah kalau mau ke Sesen, nasik Robur dan harus jalan dulu lewat rawa-rawa . . .
    Hahahahahahahahahahaha . . .
    Salam mani untuk keluarga dirumah .

  4. James  21 March, 2017 at 05:12

    Indahnya perbedaan tapi tetap aman dan damai

  5. Lani  20 March, 2017 at 12:30

    ISK: suka alinea plg akhir………spt gong saja……..mmg begitulah dicari, dipetani yg berbeda terus jelas beda kok ngotot mencari agar sama pie to??????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *