Kecele

Wesiati Setyaningsih

 

Seminggu ini ujian sekolah berlangsung. Ritualnya, dua guru masuk kelas dengan membawa map soal dan lembar jawab, juga kunci ruang. Setelah membuka pintu, guru masuk diikuti anak yang bertempat di ruang tersebut.

Pagi itu saya bersama seorang teman yang hampir pensiun bulan ini. Suaminya barusan meninggal beberapa tahun lalu. Dulunya sih beliau biasa saja. Tapi sepulang haji ada yang berubah.

Ketika anak-anak masuk kelas, mereka akan mencium tangan gurunya. Nah, anak-anak laki-laki yang mengulurkan tangan ke teman saya, pada kecele. Soalnya teman saya hanya menangkupkan tangan kalo dengan anak laki-laki. Entah kenapa di usia paruh baya, teman saya memutuskan untuk tidak lagi bersentuhan dengan lawan jenis, anak-anak remaja sekalipun.

Seorang anak perempuan meledek temannya yang laki-laki.

“Ngapa kowe? Kecele yo?” lantas anak itu tertawa.
Temannya tertawa kecut, “He-eh ok…”

Di sekolah sudah ada teman perempuan yang demikian. Tapi sejak mula memang sudah begitu. Saya tidak tahu itu menjadi masalah buat anak-anak sampai saya dikerjain salah satu anak.

Ceritanya, pas saya ngajar kelas dia, dia mengulurkan tangan seperti biasa. Saya sambut. Eh, dia tarik tangannya.

“Bukan muhrim,” katanya.
“Gaya…” kata saya kesal. wong biasanya dia nggak gitu.
“Kan niru Ibu itu, Bu (nyebut nama gurunya). Lah napa to Bu kok nggak mau salaman sama kita yang laki? Saya ini se-anaknya to Bu?” dia protes.
“Yo mbuh. keyakinannya gitu. Kok nanya aku…”

Lah apalagi teman saya yang mau pensiun ini? Yang ngajak salaman tadi kan seusia cucunya. Tapi wong maunya gitu. Terserah beliau.

Masalah kecele ini memang kadang agak bikin pedih. Ada teman saya yang tuna netra, perempuan single, lebih tua dua tahun dari saya. Dia pernah cerita dia pernah menghadap kepala sekolah Islam. ketika dia mengulurkan tangan mengajak salaman, nggak ada sambutan sampai beberapa saat. akhirnya dia mendengar ada yang berbisik kalau pak kepala sekolah nggak mau salaman dengan lawan jenis.

Saya sendiri meski nggak peduli, tak pernah menemukan alasan yang kuat untuk bisa memahami. Apalagi ketika raja Arab datang dan mau saja salaman dengan Megawati. Jangan-jangan kita yang lebay.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Kecele"

  1. WESIATI SETYANINGSIH  30 March, 2017 at 09:58

    muhrim itu orang yang tidak bisa dinikahi. misalnya bapak kandung, sodara kandung. banyak sih, seperti sepupu dari pihak ibu, dst. tapi saya lupa. nah, muhrim itu kalau bersentuhan tidak membatalkan wudlu. kalo bukan muhrim, membatalkan wudlu. itu yang nggak boleh sentuhan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *