‘Menukar’ Hari Kartini dengan Sumpah Pemuda

Probo Harjanti

 

Sebentar lagi  April tiba, artinya bakal ada peringatan hari lahir RA Kartini, pahlawan perempuan pejuang emansipasi. Pemandangan  hari itu akan terlihat berbeda dibanding hari-hari biasa. Siswa-siswa akan berbusana adat, sehingga membuat pemandangan menjadi indah, beragam, dan warna-warni. Meski sebagian orangtua merasa kerepotan, tetapi demi putra-putrinya mereka, para orangtua  rela bangun lebih pagi untuk mengantar putra-putrinya berdandan di salon, demi dapat tampil cantik,  dan ganteng tentu saja.

Biasanya peringatan lahirnya RA Kartini  akan diwarnai berbagai kegiatan yang terkait dengan ke-perempuanan, dan tidak lupa lomba keluwesan. Keluwesan saat memakai pakaian daerah (Jawa), yakni kain panjang, kebaya, sanggul, dan yang putra dengan surjan/beskap, blangkon dan kain panjang. Meskipun banyak siswa memakai busana adat dari di berbagai daerah di Nusantara, yang mempertontonkan keberagaman budaya suku bangsa, namun yang diminta mewakili, biasanya yang berbusana adat Jawa.

Terbayang bukan betapa warna-warninya suasana di sekolah hari itu. Berbagai bentuk sanggul dan atau penutup kepala beserta kelengkapannya, berbagai macam warna kain dan  corak, berikut  cara pakai yang beraneka merupakan contoh konkret betapa keberagaman itu indah, perbedaan itu memperkaya. Ditambah lagi dengan bentuk sanggul yang beraneka, model baju yang bermacam ragam, kain panjang, kain sarung, tenun, songket yang beraneka motif itu perbedaan nyata, yang justru menyadarkan kita, bahwa Indonesia kaya raya dengan ragam budayanya.

Terkait dengan peringatan Hari Kartini, nampaknya ada yang harus ditafsir ulang, lomba dalam rangka  yakni penyelenggaraan  perayaan, dan  pemakaian baju daerah. Bandingkan gempitanya perayaan hari lahir RA Kartini dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda, yang makin ke sini makin senyap. Alih-alih gempita, gema pun nyaris tiada. Jika ada upacara di sekolah,  kebanyakan ala kadarnya, sekedar menggugurkan kewajiban, karena  ada edaran dari dinas terkait untuk melaksanakan upacara Hari Sumpah Pemuda. Jika tak ada edaran, bendera merah putih pun tidak berkibar di sekolah. Seolah 28 Oktober tiada artinya lagi bagi bangsa Indonesia. Padahal semestinya hari bersejarah tersebut  juga diperingati seluruh bangsa Indonesia, mengingat hari Sumpah Pemuda menjadi cikal bakal persatuan bangsa yang membawa Indonesia merdeka.

Jika kita membaca sejarah, betapa pemuda Indonesia laki-laki perempuan berbusana daerah masing-masing  berkumpul dan berikrar mengakui bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Pemuda dari berbagai latar belakang suku bangsa, dan bahasa, aneka baju daerah, berikrar, demi tegaknya negara kita, dalam keberagaman.

Oleh sebab itu, sebenarnya pada hari Sumpah Pemuda-lah yang mestinya sekolah mewajibkan siswanya memakai baju daerah. Dan seyogianya diperingati  secara besar-besaran, dengan beraneka lomba yang mengakomodasi keberagaman di Indonesia, dari bahasa, budaya, seni dan lain sebagainya. Dan tentu dengan memakai busana daerah se Nusantara. Ada baiknya  justru dibuat bertema, kelas tertentu menampilkan budaya dari suku atau  provinsi X, kelas lain budaya provinsi lain lagi. wakil kelas presentasi, mengenalkan busana daerah yang dipakai, berikut nama, cara memakai, dan filosofi busana yang dikenakan.

Lebih menyenangkan kagi jika diikuti sajian kuliner, tari, musik, dan teater dari daerah-daerah yang diwakilinya. Supaya siswa makin mengenal budaya Nusantara,  mencintainya, hingga mau melestarikan dan mengembangkannya. Hari Sumpah Pemudan adalah saat yang tepat untuk meneguhkan kembali kebhinekaan, di saat ancaman radikal dan intoleransi makin merebak dan kebhinekaan terancam. Saatnya mengingatkan  kembali bahwa Indonesia tegak berdiri di atas keberagaman.

Jadi baiknya perayaan hari Kartini tidak lagi diperingati dengan sekedar berbusana adat. Tidak harus menanti hari Kartini untuk memakau baju daerahnya sendiri. Apalagi, ruh perayaan hari Kartini adalah emansipasi dan kesetaraan gender, bukan keberagaman. Pemakain baju daerah lepih tepat dilakukan pada  peringatan hari  Sumpah Pemuda yang ruh-nya adalah keberagaman dengan simbol pemakaian baju daerah se Indonesia. Dengan langkah ini, diharapkan generasi muda kembali ‘berpijak’ di bumi, bahwa kekuatan dan kekayaan Indonesia adalah kebergaman, dalam berbagai hal.

 

Probo Harjanti

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "‘Menukar’ Hari Kartini dengan Sumpah Pemuda"

  1. James  27 March, 2017 at 07:51

    mbak Lani, bisa saja kaum Pria/Laki2 memperjuangkan untuk Hamil agar dapat disamakan haknya dengan Wanita ala si Arnie….wkwkwk dunia bisa berputar terbalik deh

  2. probo  25 March, 2017 at 19:33

    @ lani: memang bagus kok ya mbak lani….

    @heni: ternyata teman guru juga berpikiran yang sama.

    @ James, bikin pa gimana

    @Alvina, sementara berharap dibaca orang kemdikbud

    Pak Dj….dijamin jawa asli….hehe
    salam disampaikan, salam juga buat keluarga pak DJ

  3. Lani  25 March, 2017 at 08:43

    James: Karena para Kartono tidak perlu dan tidak pernah berjuang utk mesepadankan harkatnya agar sama dgn wanita…….

    Para Kartono tanpa perjuangan sdh diakui atau mengakui diri mereka sdh tinggi dibandingkan dgn wanita, padahal dimata Tuhan wanita dan pria itu sama kedudukannya ya to?

  4. Dj. 813  25 March, 2017 at 01:26

    Ya ng nulis ini pasti orang Jawa asli dan hbukan orang arab , atau yang bangga dengan budaya arab.
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Bu Gucan , salam manis untuk keluarga dirumah ya .

  5. Alvina VB  25 March, 2017 at 00:25

    Idem sama mbakyu Lani, suka sama perangkonya, he..he….
    Mbak Probo, coba ide ini diteruskan ke depdikbud lokal dan selanjutnya bisa ke pusat.

  6. James  24 March, 2017 at 16:58

    mbak Lani, mengapa gak ada Hari Kartono ?

  7. HennieTriana Oberst  24 March, 2017 at 15:34

    Setuju sekali dengan tulisan ini.

  8. Lani  24 March, 2017 at 12:54

    Aku suka gambar2 baju adat di perangko tsb…….

    Bagaimana James menurutmu dgn hari Kartini?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *