Jadi Orangtua

Dian Nugraheni

 

Kebanyakan, orang tua itu selalu membela anaknya. Kalau anaknya posisi bener, ya baguslah orang tua bela anaknya. Tapi kalau posisi nggak bener, dan orang tua tetep bela dia, itu namanya membabi buta. Apalagi kalau ngebelainnya karena berkasus dengan pihak lain.

Pengalamanku, kalau anak-anakku berkasus dengan pihak lain, biasanya aku diem dulu, mengamati keadaan, mempelajari kasus, kalau sudah jelas, baru aku maju, bicara. Soalnya, kalau aku cepet-cepet menyelesaikan masalah, itu berarti bisa jadi akan terjadi tindak kekerasan fisik. Secara, dulu di Indo, aku premin banget…Gampar orang lebih mudah ketimbang disuruh adu mulut. Tapi, lebih mudah lagi aku bersikap diam, lalu menjauh.

Pernah anakku dikasuskan oleh salah satu tetangga. Dan belom-belom, si Tetangga ini sudah pengumuman seantero RT, dan tentu saja meneleponku, ngomel tanpa henti. Aku datangi si Tetangga, dan menjelaskan peristiwanya dari cerita anakku, dan juga karena ada beberapa saksi. Aku sendiri ga menyaksikan peristiwa ini.

Setelah menerima penjelasanku, si Tetangga masih ngotot, marah, merendahkan anakku, dan sekaligus itu merendahkan aku sebagai Ibunya. Dia, tetanggaku yang berpenampilan alim itu, juga bilang, “Biar Allah yang selesaikan masalah ini..!”

Mendengar kata itu, aku ayem, mak plong. Kataku, “Ohh, bagus Bu.., jadi biar Allah yang kasih penyelesaian yaa…”

Lalu aku pulang ke rumahku sendiri. Dan, setelah waktu berjalan, memang Allah yang kasih penyelesaian, karena tanpa aku sibuk melakukan apa pun, tiba-tiba ada bukti valid yang muncul. Seorang anak sebaya anakku, sebut saja namanya A, ya teman mainnya di kompleks, mengirim sms, ke teman anakku yang lain, sebut saja B, yang isinya, “Aku memang sengaja ngotorin mobil bu K, biar disangka dia (anakku) yang ngotorin…aku kan mau ngerjain dia..(anakku)…”

Aku panggil B, dan minta tolong agar aku boleh memperlihatkan sms dari A itu ke bu K.

Trus, ya sms ke B itu aku tunjukkan ke si Tetangga yang udah emosi banget, marah, pengumuman sana-sini, padahal lawannya cuma anak SD, dan dia juga ga liat sendiri peristiwanya…

Aku, “Ini Bu, buktinya..jadi, selesai ya Bu, Allah sudah kasih petunjuk untuk selesaikan masalah ini…”

Si Tetanggaku itu, akhirnya minta maaf pada kami. Tapi nggak tau, apakah dia juga klarifikasi ke tetangga-tetangga lain yang sudah dia aduin pas pertama kali kasus itu terjadi, soalnya aku juga ga ngomong sehuruf pun ke tetangga-tetangga lain soal ini, sampai hari ini…

Aku, ya belain anakku, tapi ya ga membabi buta, liat kasusnya..Apalagi kalau lawannya enggak selevel, kayak tetanggaku yang Ibu-ibu, lawan anakku yang usia SD, ya wajib orang tua ikut campur. Nek masih sesama teman dengan anakku, aku masih liat dari sekian jarak, sambil berusaha mengarahkan..

_Aku samarkan nama teman dan tetangga, ya..soalnya mereka semua ada di friend listku di FB ini..he2…Bukan buka aib yaa…yuuk, kita sama-sama belajar…_

 

 

6 Comments to "Jadi Orangtua"

  1. Alvina VB  31 March, 2017 at 06:12

    Jadi org tua emang gampang2 susah ya apalagi kl ngadepin org tua spt di cerita ini….kl nasehat saya no.1 ke anak saya selalu: stay away from troubles and troubled people, jadi mengurangi kemungkinan adanya perselisihan. Apa lagi jaman sekarang masalah kecil bisa jadi guede kl diributkan di social media, tambah refot je…..

  2. Lani  29 March, 2017 at 09:16

    James: kita sama, ndak pernah mikir mendidik anak akan ttp mendidik diri sendiri saja hahaha………

  3. James  29 March, 2017 at 04:56

    Memang dlm mendidik anak itu kita hrs bijak, kalo anak salah ya hrs disalahkan kalo benar ya hrs hrs dibenarkan dan dibela agar anak juga belajar yg salah dan yg benar

    Semoga semua anak para Kenthirs baik semua yah, sy sih gak punya ekor jd gak puyeng lah

  4. James  29 March, 2017 at 04:51

    Memang dlm mendidil anak kita hrs bijak? kalo anak salah ya hrs disalahkan kalo benar ys hrs dibenarkan dam dibela agar anak juga belajar jalan yg benar

    Semoga anak para Kenthirs baik semua yah

  5. Dj. 813  29 March, 2017 at 00:42

    Hallo Dian . . .
    Sebagai orang tua yang sayang ke anak nya itu normal .
    Tapi anak-anak kami din´biasakan menyelesaikan masalahnya sendiri .
    Kecuali kalau mereka minta nasehat, biasanya saat makan malam sambil ngobrol .
    Kebanyakan kami juga tidak turut campur urusan mereka .

    Memang di Indonesia itu juga normal ( untuk masyarakat disana ) .
    Anak sudah punya keluarga sendiri dan punya anak, masih diatur oleh orang tuanya .
    Apalagi yang belum berkeluarga, harus kuat mental . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !

    Kadang memang lucu, saat makan malam, ada wajah yang kurang menarik .
    Biasanya si susi yang bertanya, ada apa . . . ? ? ?
    Putus pacaran, sudah itu ya sudah . . .
    Hahahahahahahaha . . .
    Kami juga tidak ingin tahu, mengapa pisah atau bla…bla…bla…

    Mereka sejak umur 17 suadh kami anggap dewasa .

  6. Lani  28 March, 2017 at 23:39

    Dian: komentarku kamu sdh benar cara ngadepinnya, jangan hanya membela anak sendiri membabi buta, kalau benar dibela klu salah ya dikatakan salah, ini bagian dr pendidikan orang tua buat anak2nya……….

    Akan ttp mmg kdg orang tua yg membabi buta itu tetap membela anaknya walaupun orang tua tsb sadar klu anaknya yg salah……….ngadepin yg beginian mmg repot

    Karena aku tdk pernah punya anak jd tdk pernah ngadepin hal2 beginian……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *