Menonton Drama Kong di Pulau Tengkorak

Dwi Klik Santosa

 

Kong: Skull Island … sebuah film fiksi yang mengambil latar belakang romantisme fragmen perang dunia ke II. Tentang sebuah pulau yang tak terpetakan di Lautan Pasifik. Terhalang kabut dan bahaya alam yang berasal dari aliran listrik alam yang entah apa namanya. Dan ketika bisa menembusnya, terhampar pemandangan alam yang indah dan sekaligus terdapat peradaban lama yang misterius, yang hidup di dalamnya suku primitif, binatang-binatang raksasa, bahkan kadal raksasa sejenis tiranosaurus dan … gorila raksasa bernama Kong.

Secara umum film ini fantasi belaka yang menggambarkan peran Kong sebagai raja atau yang dianggap dewa oleh suku primitif itu karena keberadaannya adalah pelindung bagi pulau itu terhadap ancaman yang berasal dari para tiranosaurus yang ganas dan memakan dan menghancurkan apa saja kalau sudah terbangun. Maka, ketika tim pemetaan dari Amrik yang dikawal US Army mampu menembus tabir misteri yaitu kabut tebal yang penuh mara bahaya itu dengan belasan helikopter, segera mereka takjub dan kagum bahwa ada wilayah kepulauan yang seindah itu dan selama ini tak terbaca sebagai peta.

Setelah bom-bom seismik itu dijatuhkan dari atas helikopter untuk menguji tanah kepulauan yang dianalisa ahli geologi Corey Hawkins sebagai tanah berongga, maka, segera mengundang makhluk-makhluk monster yang berdiri seakan-akan sebagai penguasanya. Kong pun mengamuk menjatuhkan semua helikopter tak terkecuali, menewaskan banyak tentara, dan menjadikannya petualangan bagi yang selamat.

Tak hanya Kong yang terkagetkan akan dentuman bom, tetapi juga para tirano yang ganas. Sehingga terlibat perkelahian dengan gorila raksasa yang super kuat itu, dan kesemuanya dimenagnkan oleh Kong. Kemarahan Kolonel Preston Packard yang diperankan aktor kawak, Samuel L.Jackson kepada Kong karena bagaimana pun monster itu telah menyebabkan hancur helikopter mereka dan menyebabkan tewasnya para prajuritnya menjadi tambahan soal yang menalikannya sebagai dramaturgi.

James Conrad, mantan kapten USA dalam perang Vietnam yang dibayar mahal untuk ekspedisi ini dan Mason Weaver, wartawan foto yang berperangai protagonis untungnya punya intuisi bahwa sebagaimana pun ganas, Kong adalah monster yang baik, jika ia mati, maka memungkinkan akan punahnya populasi kehidupan di kepulauan itu karena makin beranak-pinaknya para tirano yang jahat dan tak punya lawan. Kecerdesan berpikir tirano ini bisa kita simak di salah satu adegan film ini, yakni ketika raja tirano sedang memburu para awak ekspedisi, lalu terbesit di pikiran kapten tentara bernama Cole untuk menjadi martir bagi keselamatan teman-temannya, yaitu meledakkan diri dengan bom di tubuh dan digenggam kedua tangannya. Seperti yang pernah disaksikan, teman-teman tentara ini gugur karena dilahap bagaikan lalat dengan lidah yang terjulur dari para tirano yang ganas itu, ia pun seakan berharap akan dilahap juga begitu. Maka, ketika tubuhnya telah masuk ke dalam mulut dan tubuh kadal raksasa yang ganas itu, ia pun akan meledak, jadi puing-puing berikut binatang itu. Tapi rupanya pemikiran itu dapat terbaca oleh pemikiran si raja tirano, maka, ia pun tidak dilahap melalui juluran lidahnya, akan tetapi disepak dengan ekornya yang dapat berfungsi juga sebagai senjata. Sehingga terlemparlah tubuh Cole, mencelat menabrak tebing dan meledak dahsyat.

Tapi atas romantisme Hank Marlow, veteran perang yang mengalami naas terdampar di kepulauan itu dan akhirnya hidup selama 28 tahun di situ, kepenuhan meyakini Kong sebagai sang raja sekaligus pelindung pun mendapatkan kemenangannya. Bahu-membahu awak ekspedisi tersisa memberondong monster ganas itu dengan mitralyur dan peluru senapan, meski tak mempan dan mentah saja mengenai badan, toh, bisa sejenak mengalihkan perhatiannya.

Maka ketika jeratan rantai yang membelit Kong lepas, lekas raja kepulauan itu menunjukkan kepahlawanannya. Raja tirano pun mati, tentu dengan duel sengit yang nyaris-nyaris, jika saja Kong yang banyak luka itu karena ulah sang kolonel yang menjebaknya dalam kobaran api dendamnya itu, tak mendapatkan keajaiban dan memiliki setidaknya kebijaksanaan, tentu semua orang yang hidup di pulau itu akan tewas dan menjadi tengkorak yang terserak … sehingga karenanya pulau itu dinamai pulau Tengkorak.

Sebagai film fantasi, Kong: Skull Island asyik juga untuk sejenak melupakan kejenuhan. Film besutan sutradara Jordan Vogt-Roberts dan didistribusikan Warner Bross pictures ini cukup laris. Diproduksi dengan biaya sekitar 2,5 trilyun rupiah, sejak diluncurkan pertama kali di London akhir Februari lalu, hingga memasuki akhir Maret ini konon sudah meraup pendapatan lebih dari 3,6 trilyun rupiah.

 

 

4 Comments to "Menonton Drama Kong di Pulau Tengkorak"

  1. Alvina VB  31 March, 2017 at 06:16

    Blm sempet nonton lagi euy….film King Kong banyak versinya sejak jadul sampe sekarang,; betul James, selalu buntut2nya itu Kong jatuh cinta sama pemeran wanita utamanya. Terakhir nonton film King Kong, ceweknya si Naomi Watts.

  2. Sumonggo  29 March, 2017 at 04:45

    Manusia-nya yang nranyak. Si (eng)kong enak-enak bobok siang kok diganggu? Ya ngamuklah ….

  3. James  29 March, 2017 at 04:43

    Film Kong ini tetap seru meski versinya berubah terus tapi spt biasanya Kong jinak terhadap cewe, Kongnya falling in love

    Halo para Kenthirs dah nonton film ini?

  4. Lani  28 March, 2017 at 23:40

    Sejak pindah ke Hawaii banyak ketinggalan nonton dibioskop krn jarak yg jauh, tp jg malas utk pinjam Netflix jd skrng tdk tahu mengenai dunia perfilman

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.