Mengunjungi Phnom Penh

Handoko Widagdo – Solo

 

Kami dijemput oleh Sokchanna, teman kantor kami yang di Phnom Penh. Ia gembira karena kami akhirnya bisa mengunjunginya di Phnom Penh. Ia telah berkunjung ke Indonesia beberapa bulan lalu. Sebelum keluar dari bandara ia sudah mengeluhkan betapa macetnya kota Phnom Penh. “Saya membutuhkan waktu 2 jam setiap pagi. Padahal jaraknya hanya 7 km saja,” demikian gerutunya.

Ibukota Cambodia ini memang telah berubah banyak dalam 5-10 tahun terakhir. Gedung-gedung bertingkat mulai dibagung. Hotel-hotel dan bar-bar bertebaran di seluruh penjuru kota. Perkembangan infrastruktur kota yang sangat cepat ini jelas tak terencana. Bagaimana mungkin membangun gadung bertingkat tanpa menyiapkan lahan parkir dan sarana jalan yang cukup? Kesemrawutan transportasi ditunjang dengan kemaruknya warga kota yang suka memakai mobil berukuran besar. Mobil-mobil berbadan besar seperti Land cruiser, Pajero, Lexus berpenggerak 4 roda berkeliaran di jalan-jalan yang lebih cocok untuk becak motor. Akibatnya mobil-mobil tersebut baku serudug beradu tanduk di perempatan jalan.

Maka, anjuran saya, jika suatu saat Anda berkunjung ke kota ini, gunakanlah taksi tuk-tuk yang lebih nyaman dan lebih cepat untuk bepergian. Taksi tuk-tuk adalah sepeda motor yang diberi gandengan di bagian belakang untuk mengangkut penumpang. Semacam betor (becak motor) di Sumatra Utara.

Meski kota semrawut, tetapi Phnom Penh sepertinya menyiapkan diri dengan baik untuk menyambut wisatawan asing. Standar street foods-nya telah mengikuti Thailand. Artinya para wisatawan tak perlu takut menyantap makanan di pinggir jalan. Sebab makanannya bersih dan hygiene. Bahkan jika anda makan di dalam pasar tradisional sekalipun. Hanya memang sulit mencari makanan halal di kota ini.

Ah…sudahlah. Tak perlu mengeluh tentang kemacetan di Phnom Penh. Bukankah Jakarta juga masih macet? Marilah kita menikmati keindahan dan sejarah kota Phnom Penh yang tersimpan di antara jalan-jalan sempit dan parit-parit lebar dan dalam, serta gedung-gedung tinggi yang tak memiliki halaman. Ayo aku ajak menyaksikan pertunjukan tari-tarian tradisional Cambodia. Kuajak juga menyaksikan indahnya istana kerajaan Angkor. Tak lupa kuajak juga menyaksikan kekejaman rejim Pol Pot melalui museum Tuol Sleng atau sering disebut sebagai penjara S-21.

Pada sebuah sore, saya menonton pertunjukan tari tradisional di Musium Nasional. Pertunjukan ini diselenggarakan oleh group tari bernama Cambodia Living Art (CLA). CLA adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Arn Chorn-Pond, seorang survivor (yang selamat dari) pembantaian rejim Pol Pot. Ia dibesarkan di Amerika. Saat kembali ke Cambodia ia mengumpulkan kembali tari-tarian tradisional Cambodia yang hampir musnah karena para artisnya ikut terbunuh di era Pol pot. Ia berkeliling Cambodia untuk menemui para artis yang masih hidup dan mendorong mereka untuk melatih anak-anak muda menggeluti tari tradisional tersebut. Ia berhasil menghidupkan kembali berbagai tarian tradisional dari berbagai provinsi di Cambodia.

Pertunjukan yang berdurasi hampir 2 jam ini menyajikan tari-tarian yang sangat indah. Banyak tari-tarian yang mirip dengan tarian yang ada di Indonesia. Misalnya tarian pengorbanan kerbau mirip dengan upacara adat Toraja; tari belalang sembah gerakannya mirip dengan tari Saman dari Aceh, demikian juga dengan tari-tarian lain gerakannya banyak yang mirip dengan tradisi dan tarian yang ada di Indonesia.

Tempat yang harus dikunjungi saat ke Phnom Penh adalah Royal Palace. Istana raja yang terletak di pinggir Sungai Mekong ini sungguh indah. Saya membayangkan bagaimana Raja Norodom pada tahun 1866 memilih tempat ini saat memindahkan istananya dari Oudong. Ia pasti menyaksikan indahnya pemandangan tepi Sungai Mekong saat sinar mentari menyapa air berwarna kuning keruh yang mengalir.

Istana Phnom Penh terdiri dari beberapa bangunan. Selain dari bangunan istana, ada juga beberapa bangunan pagoda. Salah satunya adalah Pagoda Perak. Ornamen masing-masing bangunan sangat indah.

Keluar dari istana raja, kami bercengkerama di taman luas. Di taman ini ada Monumen Kemerdekaan. Foto Monumen Kemerdekaan menghiasi uang kertas Cambodia. Selain dari Monumen Kemerdekaan kita juga bisa mengunjungi Monumen Persaudaraan, yang dibangun untuk menghormati orang-orang Vietman dan Cambodia yang menjadi korban bom Amerika.

Jika anda suka sejarah, jangan lewatkan untuk mengunjungi Museum Tuol Sleng atau disebut juga dengan nama Penjara S-21. Penjara yang asalnya bangunan sekolah menengah ini menampilkan kekejaman rejim Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot. Rejim Khmer Merah menghabisi penduduk Cambodia yang disangkakan menjadi musuh Khmer Merah. Diperkirakan lebih dari 20.000 orang terbunuh di penjara ini.

Di museum ini kita bisa menyaksikan berbagai alat penyiksaan. Kita juga disuguhi foto-foto, pakaian dan tengkorak para korban. Proses interograsi yang sangat sadis terekam dalam ruang-ruang tahanan, dipan besi untuk eksekusi dan foto-foto penyiksaan. Lihatlah tengkorak yang pecah itu. Tentu sebuah benda tumpul pernah mengepruknya dengan sangat keras. Lihat juga lubang kecil di bagian ubun-ubun. Lubang itu tentu dihasilkan oleh sebuah logam tajam yang dihujamkan. Anda bisa mencari alat mana yang dipakai sesuai dengan foto di atas yang cocok dengan kerusakan tengkorak tersebut.

Ketika keluar dari museum ini saya berdoa: “Tuhan, semoga tidak ada lagi manusia kejam yang Engkau ijinkan lahir ke bumi. Biarlah kasih selalu ada di antara manusia.”

Dan saya bahagia karena orang muda Cambodia telah mengampuni kejadian yang mengerikan tersebut. Mereka lebih suka memandang masa depan daripada menyesali masa lalu. Saat ini para pemuda Cambodia keranjingan belajar Bahasa Inggris. “Kalau kami tak bisa berkomunikasi secara internasional, siapa nanti yang akan bekerja untuk Cambodia?” Kata temanku. Negara pun berupaya membangun kelompok pemuda khusus yang diharapkan akan menjadi pemimpin bangsa. New School Generation adalah sekolah yang dipilih oleh negara untuk menampung anak-anak yang prestasi akademiknya menonjol. Alhamdullilah haleluyah. Lega rasanya melihat bagaimana bangsa Cambodia berbenah ke depan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Mengunjungi Phnom Penh"

  1. Lani  1 April, 2017 at 13:53

    Hand: yang aku tahu adalah masakan Cambodia wuenaaaak krn ktk msh tinggal di California dan kerja di San Francisco boleh dikatakan sering banget wisata kuliner, dan bbrp kali ke restoran Cambodia, salah satu yg msh aku ingat namanya Angkhor Wat pernah dikunjungi oleh Paus Paulus kedua klu tdk salah.

    Aku punya teman orang asal Cambodia, dia bercerita ktk masa perang melarikan diri ke Thailand, kisahnya sgt mengerikan, tapi happy ending akhirnya dia mendarat di America dan kami msh saling kontak.

    Tentang penjara yg tadinya sekolahan dan dijadikan tempat penjagalan manusia aku sdh pernah melihat dr salah satu vloger dari UK mengerikan, dan musiknya bikin merinding bulu kuduk. Menurutmu kesemrawutan dan macetnya lebih parah mana antara Jakarta dan Phnom Penh?

    Al dan James: mahalo sdh diingat, bukannya sdg tidur akan ttp lagi banyak kegiatan jd telat mampir kerumah ini

  2. James  1 April, 2017 at 05:39

    soal kemacetan Phnom Penh bersaing dengan Jakarta, siapa yang lebih unggul

    Al, hadir nih cuma yang di Kona masih Bobo rupanya

  3. Wiwit  31 March, 2017 at 14:08

    Istana dan pagodanya bagus banget, tapi ngeri melihat alat penyiksanaya apalagi membayangkan kepala dikepruk dan ubun2 ditusuk hi hi…

  4. Handoko Widagdo  31 March, 2017 at 11:15

    Avy, saya sangat bersyukur bahwa anak-anak muda Cambodia memilih untuk melupakan persitiwa tersebut dan move on ke masa depan. Betul ini sebenarnya adalah acara kantor. Acara pertunjukan tari adalah bagian dari kegiatan kantor. Sebab lembaga kami dulu pernah ikut mendukung CLA saat awal-awal merreka berdiri. Saya tidak berkesempatan ke Angkor karena waktunya sangat sempir. Saya sudah pernah ke Angkor 2 kali saat pertemuan kantor dilakukan di Siem Riep.

  5. Alvina VB  31 March, 2017 at 10:32

    Wah…komennya ilang…

    Absenin para kenthirs dulu…mumpung ada di tempat…
    Han, serem banget ngeliat alat penyiksaan kaya gitu ya….semoga gak ada Pol Pot ke 2.
    Bagus kl generasi mudanya berbenah diri utk masa depan yg lebih baik. Apa ini kunjungan kerja sekalian jjs, he..he….

  6. Alvina VB  31 March, 2017 at 10:31

    Absenin para kenthirs dulu…mumpung ada di tempat…
    Han, serem banget ngeliat alat penyiksaan kaya gitu ya….semoga gak ada Pol Pot ke 2.
    Bagus kl generasi mudanya berbenah diri utk masa depan yg lebih baik. Apa ini kunjungan kerja sekalian jjs, sekalian. mampir di Angkor Wat sekalian, he..he…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *