Jejak itu di Sungai Kapuas

Dwi Klik Santosa

 

Matahari tepat di atas sumbu bumi, bayangan pun mulai menghilang di Pontianak. Kota ini memanas, karena dilewati garis khatulistiwa, yaitu garis yang membelah bumi menjadi 2 bagian, utara dan selatan. Berada pada lintasan matahari tepat pada 0 detik, 0 menit, dan 0 derajat, begitulah sang bagaskara seperti membakar seisi kota. Maka, ketika posisi matahari tepat berada di atas kepala, segala bayangan benda-benda di permukaan bumi mulai pula menghilang.

Ah, panas apa? Bagiku lebih panas ibukota yang dalam siklus lima tahunan akhir-akhir ini dibombardir ledakan isu sara hanya gara-gara pilkada. Keyakinan yang semestinya mengademkan dan mengayemkan seperti malah menjilma komoditas politik yang menggejolak dan menjadikan hawa yang panasnya melebihi equinox. Bahkan bayang-bayangnya seperti melekat dan tak terhapus dalam ingatan kemana pun pergi. Bagi yang terlibat kecintaan kepada ke-bhinekaan di negeri yang terbangun atas kesepakatan hidup bersama tanpa mempersoalkan perbedaan yang ada itu semestinya, bukankah ini bahan bagi kesedihan dan gelisahnya?

Di Pontianak, memang mengejutkan belaka bagi yang pertama kali datang ke sana, apalagi bersamaan dengan itu akan terjadi gejala alam 2 tahunan yang unik. Tapi, anak-anak, sekali lagi bermain-main dengan anak-anak dimana pun tempat bisa menjadi pengalih perhatian yang nyata. Sehingga panas-panas keadaan dan amarahpun bisa saja sirap, jika mampu larut dan hanyut serta menandai arti bagi kehadiran itu. Menjadi romantisme yang tersendiri bahkan dan siapa tahu kelak menjilma benih-benih cerita.

Kapuas, sungai yang berhilir di Selat Karimata
dan bermata-air dari pegunungan Muller
adalah sungai terpanjang di Indonesia
Jika sabar menghikmati sepanjang alirnya
kiranya banyak cerita bisa digali
Tidak mengapa tak bisa menduga
berapa kedangkalan dan kedalamannya
Tapi kisah-kisah peradaban dan mitos
yang kemudian bahkan menandai Pontianak
mungkin sebanyak itu kekayaan
tersimpan dan melekat di sebalik luasnya
Sekian hari berpanas-panas
dan berkeringat bersama geliat para sahabat di kota itu
berkenaan dengan anak-anak dan sebuah kemungkinan
tentunya adalah sebuah cerita juga
Tetapi apakah baunya akan menjilma jejak
dan menjawab kelak
mengurai misteri yang sungguh pelik di negeri ini
yaitu sebuah fakta bernama prestasi?
Tidak ada proses yang salah
kehadiran yang mengalir pun
tak jua kiranya mustahil
jika dilandasi dengan gembira
Bukankah cinta itu pada hakikatnya
adalah sebuah cara untuk menggali senang
Maka, panas dingin cuaca yang mana
menyebabkan derita, jika lugu belaka
Ah, Kapuas yang panjang …
Terima kasih, telah mengikatkan
kesenangan yang tiada terkira
Dan kepadamu, Nak ..
Teruslah gembira, tumbuh sebagai dirimu sendiri
Sebagai anak-anak Indonesia yang pejuang dan periang
Tak harus kalian mewarisi watak orangtua-orangtua
yang gemar menasihati tapi rakus juga berkorupsi
Mari mengalir sebagaimana Kapuas …
yang bermata jernih pegunungan
dan berhilir di keluasan samudera

 

Bandara Supadio Pontianak
19 Maret 2017 : 17.00

 

 

4 Comments to "Jejak itu di Sungai Kapuas"

  1. Night  17 April, 2017 at 14:26

    James, Kebetulan lagi di Pontianak, menghitung jumlah warkop dan sedang menghitung jumlah lampu di indomaret dan alfamart.
    Perbedaan panas Jakarta dan Pontianak adalah jakarta humid dan pontianak terik dan kering.

  2. James  3 April, 2017 at 18:38

    Ponti anak…Kuntil anak…..jadi ingat si Night dulu tuh, kemana dia sekarang yah ?

  3. Sumonggo  3 April, 2017 at 16:48

    Kapuas, teruslah mengalir …
    Meskipun …
    Sumbu makin pendek
    Bumi makin datar ….

  4. Lani  3 April, 2017 at 13:14

    SARA mmg sgt membombardir……..sampai bosan membaca, menyimak, apalagi mendengarnya…..krn tdk ada positifnya sama sekali…….hanya bertujuan utk memecah belah saja lain tidak……..

    Menurutku hanya orang-orang tidak waras saja yg msh mau dikelabui dengan menggunakan SARA

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *