Ratmini: 90 Tahun Mengarungi Samudera Kehidupan

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Ratmini – 90 Tahun Mengarungi Samudera Kehidupan

Penulis: Ratmini

Tahun Terbit: 2015

Penerbit:

Tebal: 191

ISBN:

 

Buku ini adalah kesaksian Ibu Ratmini tentang pernik-pernik sejarah Republik Indonesia dari mata seorang istri seorang pejuang. Kisah Republik Indonesia sejak belum lahir, masa awal kemerdekaan, era Sukarno, era Suharto, era reformasi sampai dengan tahun 2004. Sungguh sangat luar biasa bahwa beliau mempersembahkan buku ini di hari ulang tahunnya yang ke – 90.

“Aku dilahirkan pada masa Hindia Belanda, menjadi remaja pada jaman Perang Dunia Kedua, mengalami pendudukan Jepang dan menjadi saksi mata masa-masa awal Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Kehidupan rumah tanggaku ikut mengalami gejolak sejarah: pertikaian kepentingan pada akhir masa pemerintahan Soekarno, kekerasan pada tahun 1965-1966, peristiwa Malari, dan tangan besi pemerintahan Soeharto, jatuhnya Orde Baru dan masa reformasi.” Demikian tulis Ratmini pada epilog. Beliau adalah saksi sejarah lima jaman.

Ratmini adalah seorang blue blood dari Banyumas (hal. 67). Beliau adalah keturunan Bupati Banyumas dari jalur ayah dan patih Wonosobo dari jalur ibu. Itulah sebabnya Ratmini mendapatkan pendidikan yang baik saat mudanya. Beliau sempat bersekolah di MULO di Magelang (hal. 32) dan kemudian melanjutkan ke Sekolah Guru (OSVO) di Surabaya. Meski pendidikannya di sekolah guru sempat terputus akibat masuknya Jepang ke Indonesia, beliau berhasil menyelesaikan sekolahnya di OSVO Jakarta.

Ratmini kemudian menjadi guru di Jakarta. Di kota inilah beliau bertemu dengan sang kekasih hati, seorang pemuda Solo bernama Soedjatmoko. Pasangan ini akhirnya menikah di Banyumas pada tanggal 15 Oktober 1957 (hal. 68). Kehidupannya dengan Koko, demikian ia memanggil Soedjatmoko – suaminya, penuh pasang surut tetapi bahagia. Mereka dikaruniai 3 orang putri. Sebagai seorang politisi anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI), hubungan Koko dengan pemerintah naik turun. Saat Syahrir sebagai ketua PSI masih dekat dengan Sukarno, kehidupan Koko cukup mapan. Namun saat Syahrir tidak lagi sejalan dengan Sukarno, dan PSI dibubarkan (hal. 77), kehidupan ekonomi Koko menurun drastis. Tidak saja di jaman Sukarno, di jaman Suharto pun hubungan Koko dengan pemerintah tidak selalu dekat. Pernah dikirim sebagai duta besar Indonesia untuk Amerika di awal Orde Baru (hal. 87), Koko lebih sering menjadi orang luar pemerintahan di era Orde Baru. Demikian pula ketika Koko sudah menjadi seorang intelektual daripada orang partai, tidak selalu ekonomi Koko baik.

Ratmini bukanlah seorang istri yang hanya memanfaatkan ketenaran suaminya. Ia benar-benar adalah seorang pendamping yang baik serta seorang perempuan yang mempunyai kepribadiannya sendiri. Kemana pun Koko bertugas, Ratmini selalu menemani. Ia berupaya untuk menjadi Ibu Duta Besar yang baik (hal. 89). Koko adalah seorang yang sangat sibuk. Oleh sebab itu Ratminilah yang sesungguhnya mengurus keluarga.

Ratmini adalah seorang seniman. Ia sangat tertarik dengan busana, etiket dan seni lukis. Di sela-sela mengurus keluarga, Ratmini mengembangkan hobinya sebagai seorang pemerhati mode, penasihat etiket dan sebagai pelukis. Ratmini pernah terpilih sebagai wanita Indonesia berbusana terbaik (hal. 98) dan kemudian beliau menjadi bagian dari pantia pemilihan wanita berbusana terbaik.

Kariernya sebagai pelukis diawali saat beliau masih sekolah. Ia belajar melukis saat berkesempatan belajar ke Belanda (hal. 60). Bersama dengan “Group Sembilan” Ratmini mengembangkan kelompok pelukis (hal. 98). Ia belajar melukis gaya Jepang saat Koko menjadi Rektor Universitas PBB (hal. 121). Puncaknya, Ratmini bersama dengan para pelukis perempuan lainnya melakukan pameran di Universitas Gregoriana, Vatikan (hal. 172).

Sangat menarik mengamati apa yang dilakukan dan dicatat oleh Ratmini saat mendampingi Koko ke berbagai negara. Ratmini tidak mengisahkan tempat-tempat belanja atau menceritakan barang-barang mewah yang dibelinya. Ratmini lebih tertarik untuk mengamati budaya, mempelajarinya dan menceritakannya dengan detail. Ia juga sangat menyukai keindahan alam dari tempat-tempat yang dikunjunginya.

Ibu Ratmini adalah seorang yang suka bercanda. Kejadian yang seharusnya membuat ia sedih malah dijadikan sebuah candaan. Seperti yang beliau tuliskan pada halaman 101, saat kakinya digigit anjing herder milik polisi. “Kejadian ini ketika aku ke rumah teman; aku menekan bel, mendadak seekor anjing menyerang dan menggigit kaki kananku. Rupa-rupanya herder itu dipinjam dari kepolisian untuk dikawinkan dengan herder teman yang aku kunjungi, tetapi ditolak oleh si betina, sehingga ia melampiaskan kemarahan kepada tamu betina: ialah aku!”

Karya yang ditulis oleh Ibu Ratmini di usianya yang sudah senja ini merupakan sebuah dokumen penting bagi sejarah perjalanan NKRI. Perni-pernik sejarah dari pandangan “seorang perempuan biasa” sering terlewat oleh para sejarahwan yang kebanyakan maskulin. Kisah beliau ini bisa menjadi rujukan untuk membuat wajah sejarah Indonesia menjadi lebih seimbang dengan membawa cerita-cerita yang feminim.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Ratmini: 90 Tahun Mengarungi Samudera Kehidupan"

  1. Lani  8 April, 2017 at 07:58

    James: hahaha……….langka yg kuat sampai 5 zaman wes duuuuuuuuuut…………….kkkkkkkk

  2. Handoko Widagdo  7 April, 2017 at 06:47

    Avy, benar ini adalah buku tulisan Ibu Ratmini istri dari Pak Soedjadmoko, ipar dari Sutan Syahrir. Popy Syahrir adalah kakak kandung Soedjadmoko. Buku ini adalah buku dari persepsi seorang istri yang tidak banyak menyinggung politik. Memang ada bab dimana Soedjadmoko tidak dikehendaki oleh rejim Suharto dan kemudian melanglang-buana sebagai intelektual.

  3. Alvina VB  6 April, 2017 at 22:44

    Wah, menarik juga nich buku. Bukannya Ibu Ratmini ini istrinya Pak Soedjatmoko Mangoendiningrat? Kl gak salah masih iparan sama Sutan Syahrir. Pak Soedjatmoko kl gak salah tersinyalir waktu itu terlibat dlm Malari, disinggung gak di buku ini?
    James, ha..ha…..

  4. Handoko Widagdo  6 April, 2017 at 13:14

    James, rata-rata para Baltyran hanya bertahan 5 menit.

  5. James  6 April, 2017 at 13:05

    keren nih buku….

    para Kenthirs 5 jaman di Baltyra ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *