Robotisasi Guru

Probo Harjanti

 

Hari Kamis 23 Maret 2017, saya menengok teman sekantor yang sedang sakit, karena kecelakaan saat berangkat ke kantor (sekolah kami). Menurut  cerita,  ada yang ngerem mendadak di depannya, teman saya oleng, nyerempet sesama pengendara motor dan jatuh. Itu terjadi di jalur lambat, jalur yang salah nama, karena faktanya semua ngebut di jalur tersebut. Kalau dibilang jalur motor, nyatanya banyak mobil ikut lewat di situ.  Menjelang pukul 07.00 lalu lintas memang sangat padat dan semua adu cepat.

Gigi teman saya patah 3, 1 gigi atas dan 2 gigi bawah. Ada luka yang  cukup dalam di bawah lutut kiri, hingga harus dijahit luar dan alam. Dan luka lecet di beberapa tempat, termasuk di wajah (orang Jawa bilang beset-beset),  juga kaki luka-luka. Kemungkinan  akan memakan waktu lumayan sampai teman saya masuk kerja lagi. Teman saya tidak serumah dengan suaminya, karena suaminya baru saja dimutasi ke Ibukota. Dalam sakitnya (kesadaran belum pulih) dia selalu ingat tanggung jawabnya, mengajar. Terlebih teman saya mengajar kelas 9, yang hampir Ujian Nasional. Gigi yang patah sampai pangkal membuatnya tidak jelas saat bicara, hingga komunikasi dengan tulisan. Dia wanti-wanti muridnya supaya giat belajar, biar nilai ujiannya bagus.

Dengan absennya guru karena kecelakaan ini, dikuatirkan akan kehilangan tunjangan profesinya, setidaknya yang bulan Maret, seperti beberapa kejadian semacam. Kalau awal  April belum bisa masuk kerja juga, artinya dia akan kehilangan tunjangan tersebut  sebanyak 2 kali gaji pokok. Sementara  beaya perawatan di rumah sakit  tidak sedikit, malah  tidak menerima tunjangan profesi.  Memang ada ASKES, yang  semenjak menjadi BPJS layanan dan fasilitasnya berbeda, dan konon lebih rumit. Dan sedihya lagi, teman saya ini pernah kehilangan tunjangan profesi sebulan, karena 3 hari sakit cikungunya, serumah semua sakit sampai tidak dapat bangun.

Urusan tunjangan ini memang banyak permasalahan, di beberapa kabupaten, ada aturan yang sangat ketat, dan terasa kurang manusiawi, tidak masuk kerja apa pun alasannya, tunjangan profesi tidak diberikan. Kalau sakit sampai opname saja tunjangan hangus, apalagi kalau ‘hanya’ keluarganya yang sakit, orangtuanya meninggal, atau tetangga dekat kesripahan. Biarpun ada surat cuti sakit dari dokter,  percuma, tidak akan berarti apa-apa. Tetap kehilangan tunjangan profesi sebulan. Karena, beberapa daerah membuat kebijakan, jika guru tidak masuk, meskipun hanya 1 hari kerja, apa pun alasannya, tunjangan profesinya pada bulan yang sama akan hilang, bukan dipotong. Jadi seandainya guru tidak masuk kerja 1 hari karena sakit, kehilangan tunjangan profesi sebulan.

Itu tadi kisah yang pertama. Kisah yang lain hari Senin sore kurang lebih sebulan lalu, saya janjian sama teman untuk bezuk teman kami. Usai bezuk saya ikut teman saya bezuk guru putrinya sekalian, yang kebetulan dirawat di Rumah Sakit yang sama, hanya beda gedung. Sang guru yang baru saja selesai operasi, berita yang cukup membuat sekolah putri teman saya menjadi heboh, pasalnya hari Sabtu sebelumnya masih masuk mengajar, bahkan  tidak pernah absen mengajar, tiba-tiba ada berita beliau dioperasi hari Minggu. Dari cerita pihak keluarga, ibu guru ini ternyata sudah beberapa lama mengidap sakit, dan dalam perawatan dokter. Beliau sudah menjalani 1 paket kemoterapi, tetapi efek kemo tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap masuk mengajar.  Karenanya  tidak ada yang mengira kalau sang guru sedang sakit.

Itu baru dua  cerita dari dua sekolah, di sekolah lain tidak sedikit guru yang bernasib sama. Kalau yang memaksakan diri masuk kerja, meskipun sebenarnya dalam masa cuti dokter karena sakit, sepanjang masih bisa berjalan, lebih banyak lagi. Bahkan guru yang saya ceritaka di atas, habis  operasi tumor itu pun segera masuk setelah  3 hari keluar dari rumah sakit. Kalau sekedar batuk, flu, pusing, hidung mampet, atau pun demam, guru pasti berusaha masuk kerja. Kebanyakan  guru memaksakan diri masuk kerja, karena berusaha ‘memenuhi’ kewajiban jam mengajar per minggunya, atau jumlah hari kerja di bulan berlangsung.

Mungkin  sebagian orang menganggap guru hanya memikirkan duitnya saja, hingga memaksa diri masuk kerja. Mungkin juga justru dengan  sadis mengatakan gurunya mata duitan. Banyak yang lupa, bahwa sebagian besar guru berasal dari  keluarga sederhana, sudah terlanjur banyak ‘lubang’ yang harus segera ditutup. Adanya tunjangan profesi, bagi sebagian guru  adalah ‘darah segar’ atau oksigen saat hampir kehabisan nafas.

Bukankah pada awalnya jurusan keguruan tidak dilirik sama sekali oleh lulusan SMA, terlebih yang nilainya bagus-bagus, karena profesi guru tidak ‘menjanjikan’ apa-apa. Masa itu, guru swasta pun tidak mau diangkat menjadi PNS, karena gajinya memang kalah dibanding swasta. Jadi sebagian mahaisswa yang kuliah di keguruan ada yang terpaksa karena tidak diterima di universitas lain, ada juga yang ingin segera bekerja untuk meringankan beban orangtua. Kebetulan tahun 80-an kebutuhan guru luar biasa banyak, sehingga dibuka program diploma, agar segera dapat mengisi kekurangan guru di berbagai wilayah di Indonesia.

 

Dipotong silakan, dibabat  jangan

Jika saja pemotongan dilakukan berdasarkan persentase, tentu tidak masalah. Tetapi ketika tidak masuk 1 hari, sama dengan tidak masuk 24 hari, itu sangat menyakitkan. Sangat tidak adil, sakit disamakan dengan mangkir, alpa. Jika sakit saja ‘tidak boleh’ cuti , apalagi ‘hanya’ keperluan keluarga seperti ada keluarga dekat meninggal, bahkan orangtua, mertua, atau menikahkan putra-putrinya. Apalagi hanya melayat tetangga, kerabat, atau hajatan tetangga/ kerabat.

Entahlah, apakah  ketika membuat aturan (yang tidak pernah kami tahu ujud fisiknya), guru dianggap mesin atau kah masih manusia. Mungkin memang guru ibarat robot, yang tidak punya perasaan, tidak bisa sakit. Tetapi, jika  pun dianggap mesin, mesin juga butuh perawatan, secara berkala harus ‘diistirahatkan’ supaya awet. Perawatan di rumah sakit (baca opname) tentu butuh beaya yang tidak sedikit, perawatan mesin ada anggaran dari instansi, ketika guru robot sakit, harus mengeluarkan beaya sendiri, sementara tunjangan profesi tidak turun. Pelayanan Askes setelah menjelma  menjadi BPJS kadang dirasa kurang memadai,  menguras tenaga dan pikiran. Bisa dibayangkan sakitnya menjadi doble bukan?

Dengan gaji yang ‘tidak seberapa’ (awal capeg th 86 gaji guru lulusan D-2 adalah 55 ribu, setelah PNS menjadi 80 ribu), jadi  tidak mengherankan jika tidak banyak guru yang dapat melanjutkan pendidikan, atau menambah pengetahuan dengan berbagai bacaan. Apalagi yang  ditugaskan di daerah terpencil, dan tertinggal pula. Semakin sulit memperoleh akses informasi.  Sehingga ketika dilakukan Uji Kompetensi Guru (UKG), guru-guru yang sudah kisaran usia 50-an tahun banyak yang tidak mencapai nilai minimum.  Setelah adaUU Guru dan Dosen, profesi guru diminati, karena gaji guru menjadi ‘lumayan’, salah satu daya tariknya adanya tunjangan  profesi.

 

Dampak Otonomi?

Adanya tunjangan profesi memang menjadi magnet tersendiri, sehingga profesi guru menjadi pilihan, bukan  buangan lagi. Meski harus diakui, masih banyak guru PNS, yayasan, mau pun guru honorer yang  sebenarnya  belum atau kurang layak. Beberapa daerah mampu memberi insntif bagi  PNS di wilayahnya. Bahkan ada yang besarnya melebihi gaji pokok, sehingga ketika tunjangan profesi tersendat pun tidak menjadi masalah. Berbeda dengan daerah yang Pemda-nya tidak mampu memberi insentif, tunjangan profesi sangat diharapkan, keterlambatan menjadi kegelisahan luar biasa, apalagi turunnya tiap 3 bulan tetapi tidak ajeg per triwulan. Hal itu masih ditambah adanya perbedaan aturan di pemkab. Ada daerah yang super ketat, sakit  pun tidak boleh, ada pula yang menusiawi, tetapi ada pula yang relatif longgar, tidak terlalu berbeda dengan saat sebelum adanya sertifikasi guru.

Jika terus begini rasanya guru diajak untuk tidak berperasaan. Beberapa kali terjadi, seorang guru yang ‘bersykur’ ketika sejawatnya mening gal dunia. Ketika sejawat yang mengajar mata pelajaran yang sama masih hidup, mereka harus mencari tambahan jam mengajar di luar sekolah, jika tidak ada, maka tunjangan profesi dibagi atau gantian pemenuhan jamnya. Misalnya semester ini si A yang mendapat 24 jam, maka semester berikutnya B yang jam mengajarnya dipenuhi. Nah, saat temannya meninggal, seluruh dia tidak kekurangan jam lagi, dan tentunya dia bersyukur jam mengajarnya terpenuhi, sekaligus sengaja atau tidak dia bersyukur temannya meninggal dunia. Apa yang diharapkan dari guru di kelas jika seperti ini keadaannya?

Jika guru diperlakukan seperti robot, bagaimana mungkin guru mengajar dengan hati? Bukan kah tekanan hanya akan membuat guru  stress? Apa yang diharapkan dari guru-guru yang stress? Apalagi ada sebagian guru yang harus ‘lari’ ke sana ke mari demi memenuhi jam mengajar minimal 24  minggu. Guru yang harus mengajar di sekolah lain sebenarnya merugikan sekolah induk mau pun sekolah tempatnya menambah jam. Karena di kedua tempat tersebut tidak dapat maksimal menjelankan tugas, saat dibutuhkan di sekolah iduk sedang ke sekolah lain, saat dibutuhksn di sekolah tempatnya menambah jam, sedang di sekolah induk. Ibaratnya  sedang mendua, akibatnya  dua-duanya kurang maksimal.

Seperti disebutkan di atas, ada yang ‘melarang’ guru sakit, atau kalau tidak masuk karena ada hal penting (pernikahan, kematian dan lain-lain) harus mengganti sejumlah jam yang ditinggalkan  di hari lain di bulan yang sama. Masalahnya, kalau sakit atau hal darurat lain terjadi pas hari terakhir menjelang pergantian bulan, tentu tidak bisa dilaksanakan. Atau sudah tidak ada lagi pelajaran karena usai semesteran, tinggal menunggu pembagian rapot. Itu yang tidak dipertimbangkan, jika pun gurunya mau, belum tentu muridnya  mau, apalagi kalau  terkendala dengan urusan transport dan atau urusan antar-jemput, karena anak di  usia pendidikan dasar harus antar jemput, atau naik angkot.

Itu hanya  secuil cerita terkait dengan tunjangan profesi guru, yang konon bertujuan untuk meningkatkan taraf  hidup guru, supaya menjadi guru yang bermartabat. Kisah pilu yang  lain, masih banyak……semoga sempat menuliskannya lagi.

 

 

7 Comments to "Robotisasi Guru"

  1. Lani  8 April, 2017 at 07:56

    James: keinginan jd guru ada tp nampaknya profesi itu tdk cocok buat diriku………bukan krn alasan yg lain2nya, krn tdk semua orang bisa, mampu jd guru

    Mbak Probo: sedih baca artikel ini, begitu sengsarakah nasib guru di Indonesia? Apakah ini kondisi pd umumnya semua guru di Indonesia atau hanya dibbrp tempat saja?

    Klu nasib guru tdk mendptkan perhatian, lama2 tdk ada yg ingin jadi guru trs yg akan mendidik anak bangsa ini siapa?

  2. Alvina VB  7 April, 2017 at 20:16

    Lah….kl gitu tugasnya PGRI apaan donk? Kl di sini organisasi para guru ya salah satunya memperjuangkan nasib para guru dan segala macam permasalahan di dlm dan luar sekolahan. Kl gitu diriin Federasi Guru Indonesia aja dech mbak….kl PGRI tumpul/gak jelas mandatnya, he..he…..

  3. probo  7 April, 2017 at 10:37

    Alvina……
    ‘perjuangan’ PGRI nggak menyentuh ke situ…entahlah saya malah g tahu….hanya pengurus yang tau….wong nggak pernah ada macam musda atau apa….

  4. Alvina VB  6 April, 2017 at 23:15

    Mbak Probo: masih ada gak ya PGRI (Persatuan Guru Rep. Indonesia). Kl masih ada, ini tugas organisasi ini utk memperjuangkan nasib guru2 ke kementrian pendidikan lokal dan pusat. Kl ngeluh sendiri-sendiri susah, mendingan rame2 dlm satu organisasi jauh lebih gampang dan efisien.
    Betul banget James, guru2 di sini terjamin sampe pensiun. Gak ketarik ngajar di Ausie, kejauhan euy…. he..he….

  5. Probo Harjanti  6 April, 2017 at 15:49

    James…coba daya madih 35 an….mau saya

    Pak Hand…sayang pada nggak punya keberanian.

  6. Handoko Widagdo  6 April, 2017 at 13:28

    Sebenarnya kalau kebijakan dinas setempat tidak saya dengan juknis pusat, guru bisa melakukan judicial review Mbak Probo.

  7. James  6 April, 2017 at 13:03

    guru di Indonesia belum dihargai seperti di Negara lainnya, di Negara lain sangat sangat baik upahnya karena sangat dihargai profesinya, upah guru sebanding dengan upah jururawat dan tukang tembok, tukang sampah bisa mencapai 2000 AUD per week nya

    halo para kenthirs berniat jadi guru di negara kangguru ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *