Pendidikan yang Keblinger

Handoko Widagdo – Solo

 

Tahun Terbit 2005

Penerbit: PARAMADINA

Tebal: xii + 352 hal

ISBN: 979-772-000-4

 

“Setan perusak persekolahan adalah: PURITANISME, INDIVIDUALISME, BIROKRASI, PEMIKIRAN KEILMUAN, PEMISAHAN PIKIRAN DAN FISIK, MASKULINISME dan CETAKAN,” demikian Mas Tom (Utomo Dananjaya) mengutip Dave Meier. Alih-alih menganggap hal-hal di atas sebagai setan, Mas Tom lebih memilih menempatkan mereka sebagai dosa yang bisa ditobatkan. Kesalahan-kesalahan dalam persekolah dikupas dengan tajam sampai-sampai membuat kuping memerah. Namun Mas Tom juga menyumbangkan gagasan-gagasannya untuk mengatasi segala dosa tersebut.

Kesalahan terbesar persekolahan menurut Mas Tom adalah kalau persekolahan tersebut membuat anak kehilangan kreatifitasnya, daya nalarnya dan kekritisannya. Mas Tom membenci penyeragaman. “Suruh anak didik menggambar, maka hasilnya akan sama: Jalan lurus, di kiri-kanan petakan sawah, dan gunung kembar dengan matahari di tengah-tengahnya. Suruh anak didik mengarang, hasilnya pun akan sama: Berlibur ke rumah nenek!” Contoh sederhana bagaimana sekolah telah “berhasil” menyeragamkan pola pikir anak tersebut menjadi titik berangkat Mas Tom dalam menguliti dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam artikelnya “Dari Bebas Sekolah ke Sekolah Bebas “ (halaman 13-20) Mas Tom membedah kekeliruan Visi, Misi, Tujuan, Metode, Kurikulum dan Guru. Bahkan Mas Tom meragukan bahwa persekolahan di Indonesia saat ini masih memiliki ideologi (halaman 39). Di artikel “Guru ditelan UU SIsdiknas” (halaman 126-135), Mas Tom membongkar kekeliruan UU Sisdiknas. Lebih lanjut, pada artikel-artikel lainnya, Mas Tom – yang adalah pensiunan guru SMP, menelanjangi kesalahan-kesalahan cara mengajar dan cara mengevaluasi proses belajar, khususnya EBTANAS dan nama lainnya, sekolah hanya untuk menyiapkan murid supaya siap kerja, dan sekolah sebagai tempat pendidikan korupsi. Pengalamannya dilarang mengajar dengan cara yang berbeda saat beliau masih menjadi guru, membuat semangatnya meledak-ledak dalam mengkritisi proses belajar di kelas, yang menurut beliau sudah ‘keblinger’.

Bagian kedua buku ini memuat interaksi ‘guru-murid’. Mas Tom secara gamblang menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan guru yang baik. Bahkan para pengambil kebijakan telah melupakan guru dalam menyusun Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Istilah guru sudah dihilangkan dari UU SISDIKNAS, dan diganti dengan Tenaga Pendidik (artikel: Guru Hilang “ditelan” UU Sisdiknas, hal 126 -135). Guru disibukkan dengan menyiapkan muridnya menempuh ujian akhir. Sistem pendidikan yang ada telah membuat guru menjadi bodoh dan tidak bisa mengajar.

Meski di mata Mas Tom pendidikan di Indonesia telah salah arah dan acak-adut, Mas Tom tetap yakin bahwa pendidikan, khususnya persekolahan tetap sangat dibutuhkan di Indonesia. Pada beberapa artikelnya, Mas Tom memberikan saran sebagai solusi untuk keluar dari keruwetan persekolahan di Indonesia. Pendidikan menurut versi Mas Tom adalah pendidikan yang membebaskan, yang menyiapkan murid secara terencana dengan membebaskan mereka dari pengekangan dan pembatasan, menciptakan suasana menyenangkan demi kebebasanindividu dan pengembangan potensi secara maksimal. Dalam beberapa artikelnya Mas Tom memberikan conton-contoh dan usulan-usulan perubahan dari tingkat visi, misi, tujuan sampai dengan metode belajar mengajar di kelas.

Buku ini juga memuat berbagai pendapat dari para pakar pendidikan, seperti Paolo Fraere, John Dewey, Daniel Goleman, Gordon Dryden, Jeanette Vos, Dave Meiere, Ki Hajar Dewantoro dan Steven Covey. Mas Tom mengutip pandangan mereka dan mencoba menggunakannya untuk mengkritik dan memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.

Apakah kritik terhadap sistem, visi, misi, tujuan pendidikan dan solusi yang diberikan oleh Mas Tom relevan bagi perbaikan pendidikan di Indonesia? Tentu saja! Gonta-ganti kurikulum yang telah membudaya, dan tidak pernah berhasil memberbaiki pendidikan di Indonesia, kebijakan anggaran yang belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan, serta sikap abai terhadap guru yang telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan sampai saat ini bisa berkaca dari masukan-masukan yang diberikan oleh Utomo Dananjaya.

Apakah metode mengajar dan kualitas guru yang diidamkan Mas Tom adalah hanya sebuah utopi? Tentu saja tidak. Masih ada guru yang mengajar dengan hati. Masih ada guru yang menjadikan muridnya sebagai poros utama dalam proses belajar mengajar. Masih ada guru yang secara kreatif (dan sering kali keluar dari arus utama cara mengajar) membuat muridnya menjadi orang bebas dan berani mempunyai cita-cita. Meski guru yang demikian tidaklah banyak.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

12 Comments to "Pendidikan yang Keblinger"

  1. Handoko Widagdo  15 April, 2017 at 11:54

    Wah namanya kok ganti Kangmas Djoko?

  2. Handoko Widagdo  15 April, 2017 at 11:52

    Avy, wah pertanyaanmu sangat sulit. Harus ada pemimpin selevel wakil presiden untuk membenahinya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *