Surga

djas Merahputih

 

Surga, sebuah kata yang menjadi komoditas politik dalam tarung Pilkada DKI. Benarkah surga akan terlepas dari seseorang yang salah memilih nomor urut pasangan peserta Pilkada? Tentu saja ya, jika agama memang berfungsi sebagai identitas penghuni surga. Masalahnya, agama bukanlah identitas yang mampu menjamin seseorang akan menjadi penghuni surga di kemudian hari.

Kaum munafik yang melaksanakan aktivitas keagamaan secara setengah hati justru akan menghuni dasar neraka paling dalam. Apakah mereka tak beragama? Ya, jelas beragamalah. Mereka bukan Atheis. Mereka hanya lupa bahwa identitas keberagamaan mereka bukan jaminan untuk beroleh surga.

Surga adalah gambaran kabar gembira bagi umat yang taat, sedang neraka merupakan peringatan dan kabar buruk bagi para pembangkang serta pendusta. Gunanya? Keduanya memiliki fungsi sama, menggiring umat beragama untuk patuh dan taat kepada hukum Tuhan.

Salah satu hukum Tuhan yang mutlak yaitu, manusia diciptakan tak lain adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.

Rupanya, keampuhan sepasang alat penggiring itu telah menginspirasi para petualang politik untuk menggunakan trik serupa dalam strategi mereka memperoleh dukungan rakyat. Mereka merasa berhak menentukan siapa saja yang layak memperoleh tiket ke surga sesuka hati. Ternyata wewenang Tuhan telah mampu direbut oleh manusia. Benarkah? Bukankah yang terjadi sesungguhnya hanyalah pemaksaan tafsir satu kelompok kepada pihak lain?

Pada dasarnya agama adalah identitas keumatan dalam hal cara menyembah kepada Tuhan sesembahan masing-masing. Setiap agama memiliki ritual dan bentuk peribadatan sendiri untuk menunjukkan dan membuktikan status kehambaan mereka kepada Sang Pencipta.

Jadi, menggapai surga maupun menghindari neraka bukanlah tujuan atau target utama keberagamaan seseorang. Keduanya hanyalah implikasi logis dalam hubungan antara seorang hamba dan Penciptanya, sebagaimana relasi bawahan kepada seorang Bos perusahaan dalam dunia kerja; Reward and Punishment.

Ketiadaan surga dan neraka tak akan menghilangkan status kehambaan seseorang di hadapan Sang Pencipta. Persis seperti tak berkokoknya ayam bukanlah hal yang akan menunda matahari terbit.

Pada akhirnya, keberadaan surga dan neraka akan sekedar menjadi pembeda bagi kedewasaan seseorang dalam menghayati ajaran agama masing-masing. Masihkah ia butuh sesuatu (permen) untuk merangsang ketaatan sebagai hamba, ataukah kesadaran atas status kehambaan dalam diri telah cukup untuk menggiring perilaku seseorang ke arah ketaatan pada segala perintah Sang Pencipta?

Jawabannya tentu ada pada diri anda sendiri, bukan pada pilihan nomor urut Pilkada.

Emangnya lotere..?? Salah nomor berakibat hadiah melayang..?? Ngga lucu, ah…!!

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Surga"

  1. djasMerahputih  16 April, 2017 at 17:35

    Pilih nomor. DUA
    ———–
    Kesehatan nomor satu, nyoblos Pilkada DKI cukup nomor DUA..
    Salam Kenthir buat bang JAMES..

  2. djasMerahputih  16 April, 2017 at 17:31

    Se-7 sama mbakyu Lani…politik jangan bawa2 agama – surga/neraka…..lah berpolitik nya masih di dunia fana kok. Gimana menurut kenthir di Ausie?
    ————–
    Kenthir di Ausie pasti setujulah..
    Salam Kenthir buat mba Avy..

  3. djasMerahputih  16 April, 2017 at 17:29

    Salam Kenthir buat Nyai Kona.. Sehat selalu yaa…

  4. djasMerahputih  16 April, 2017 at 17:27

    Kand Djas: Agak lama tdk mencungul kemana aja? Atau sibuk 1/2 modiaaaaaaaar? Menurutku sgt amat disayangkan jualan Surga dan Neraka diranah Politik, lucu, wagu, ora pas
    —————
    Iya nih, lagi merantau ke kampung Tji Linda. Sudah 3 bulan tapi blm sempat ketemuan.
    Heaven is not for sale !! Politik di Indonesia memang paling lucu. Pelawak aja kalah..

  5. TUHAN  15 April, 2017 at 00:32

    Sang bibip pun sudah berkoar kalau dia adalah cicitnya TUHAN . . .
    Lucu kan . . .
    Padahal dia pernah berkata, TUHAN tidak beranak, kalau TUHAN beranak siapa bidan nya .
    Sekarang dia mengaku cicitnya TUHAN . . .
    Hahahahahahahaha . . . .

  6. Sumonggo  14 April, 2017 at 04:53

    Syurga memang benar-benar syurrr ……. ha ha….

  7. Swan Liong Be  13 April, 2017 at 19:15

    Ah percuma mengatakan seribu kali agama jangan di-bawa²dalam bidang politik toch gak digubris sama mereka yang memfaatkannya. Justru mereka sengaja dan secara sadar membawa agama dalam hasutan mereka , karena ini cara paling jitu unutk mempengaruhi rakyat yang taraf pendidikannya gak tinggi seperti diIndonesia. Coba terka agama mana yang paling sering menakut.-nakutin dengan neraka!!

  8. James  12 April, 2017 at 05:49

    Pilih nomor. DUA

  9. Alvina VB  12 April, 2017 at 03:17

    Se-7 sama mbakyu Lani…politik jangan bawa2 agama – surga/neraka…..lah berpolitik nya masih di dunia fana kok. Gimana menurut kenthir di Ausie?

  10. Lani  11 April, 2017 at 23:11

    Kand Djas: Agak lama tdk mencungul kemana aja? Atau sibuk 1/2 modiaaaaaaaar? Menurutku sgt amat disayangkan jualan Surga dan Neraka diranah Politik, lucu, wagu, ora pas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *