A Kind Dentist in A Lovely Dental Clinic

Ida Cholisa

 

Sore ini aku melaju menuju sebuah klinik gigi di kawasan elit di daerah Cibubur. Gigi geraham yang patah akibat kunyahan rujak buah yang keras memaksaku kembali ke dokter gigi. Ya, dokter gigi yang berbeda dengan dokter gigi yang pernah kudatangi beberapa waktu lalu.

Aku memasuki ruangan klinik yang cantik dan asri. Wangi aromaterapi membuat hidungku menari-nari.

“Silakan Ibu… Bu Ida, ya?”

Aku tersenyum dan mengisi formulir pendaftaran.

“Ditunggu sebentar ya, Bu?”

Kujatuhkan diriku di sofa empuk yang berada di ruangan depan. Indah menawan. Desain interior klinik sungguh memikat pandangan. Tiba-tiba… pikiran nakalku tertuju pada embun di sebuah tempat, di sebuah poli gigi sebuah rumah sakit. Hihihi…. embun sang dokter gigi yang pernah membuatku jatuh hati…

“Sore Ibu….”

Degggg! Tuing…. tuing….tuiiiing… lamunan tentang embun seketika menggelinding. Seorang dokter muda berjalan cepat menuju ruangan atas.

Aku kembali melamun. Lagi-lagi tentang embun. Aduh, duh!

“Bu Ida… silakan….”

Petugas klinik (kukatakan petugas bukan perawat) mempersilakanku untuk naik ke atas.

Hup!!! Tu, Wa, Bang, Ka… eit salah…. Tu, Wa, Ga, Pat… aku menaiki tangga dengan penuh semangat.

“Selamat sore, Dok….”

“Selamat sore, Ibu… silakan duduk…”

Aku duduk menghadap meja dokter dan ruang periksa yang lagi-lagi memikat mata. Ah pinter juga si pemilik klinik, menyulap rasa takut pasien menjadi rasa tertarik dengan permainan kombinasi warna dinding yang cantik dan pengaturan ruangan serta penempatan bunga dan hiasan dinding yang elegan.

Tapi… bukan itu saja yang membuatku terkesima. Dokter di hadapanku menyodorkan segelas air mineral kepadaku. Memulai percakapan dengan senyum dan keramahtamahan, menyimak penuturanku dengan wajah berbinar dan penuh perhatian.

“Mari saya periksa ya, Bu?”

Sang dokter memintaku duduk di kursi periksa. Kursi unik berukuran panjang seketika berubah posisi ketika jari sang dokter menekan tombol. Posisiku bukan lagi duduk, melainkan berbaring.

Ia mengajakku bicara sambil memintaku membuka mulut. Memeriksa gigi geligiku dengan sangat seksama. Menjelaskan banyak hal dengan panjang lebar.

Lamaaaaa sekali. Gigi sang dokter bersih sekali, membuatku betah meski ia berbicara lama sekali. Ah andai gigiku seperti gigi sang dokter, hihihi….

Punggungku mulai panas. Tiba-tiba aku merasa mulas. Biasa…… penderita hiperthyroid sepertiku paling rentan sama urusan perut. Dikit-dikit mulas, dikit-dikit pingin buang angin, hihihi…

“Dok…. saya duduk ya, Dok?*

Tuiiing….. kursi yang kutempati seketika berubah posisi. Sentuhan jari dokter di tombol bulat membuatku duduk kembali.

Dokter masih melanjutkan bicara. Meminta asistennya untuk mengambil gambar dan alat peraga. Menjelaskan dengan gamblang dan mengena di benak kepala.

Sekian lama bertanya jawab, dokter memintaku kembali ke meja konsultasi. Hm… tanya jawab berlanjut lagi. Sang dokter bahkan bersedia memberikan estimasi rincian biaya.

“Ibu harus menyediakan waktu dua sampai tiga jam di pertemuan berikutnya untuk bisa saya tangani. Sebaiknya Ibu berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah mulut terlebih dahulu, mengingat Ibu ada hiperthyroid. Setelah itu saya akan lakukan tindakan pada Ibu. Ada atau tidaknya saran pencabutan gigi dari dokter spesialis, saya akan memberikan alternatif treatment terbaik pada Ibu.”

Aku mengucapkan terima kasih pada sang dokter. Sungguh konsultasi awal yang sangat memuaskan….

Yang membuatku terkejut, aku tidak dikenai bayaran sepeser pun atas konsultasi panjang lebar tersebut. Dokter mengatakan “free” untuk konsultasi terlama yang pernah kutemui.

Sungguh, dokter memberiku totalitas pelayanan dengan waktu konsultasi lebih dari setengah jam, bahkan hampir mendekati tiga perempat jam…

Dokter gigi yang sangat baik yang pernah kutemui dalam kehidupanku, bahkan embun yang kucintai pun tak akan sanggup menyediakan waktu konsultasi sebanyak dan segratis itu…

Alhamdulillah…. rejeki dokter gigi yang sangat baik yang diturunkan oleh Allah kepadaku…***

 

Cileungsi, 24 Maret 2017

-Catatan Sunyi Ida Cholisa-

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

2 Comments to "A Kind Dentist in A Lovely Dental Clinic"

  1. Lani  18 April, 2017 at 12:39

    James: menurutku bukan mata duitan, mmg dokter gigi dimanapun mahal apalagi di America, asuransi gigi tdk ada yg ditanggung 100%. Untung tdk banyak masalah dgn gigi, kamu gimana?

  2. James  18 April, 2017 at 06:14

    1…….tumben ada Dentist yg tdk. Maya duitan, biasanya Dentist lbh mata duitan dt pd Dokter lainnys

    Gigi para Kenthirs bagus semua kan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *