Iman yang Ditebalkan

Wesiati Setyaningsih

 

Kalo yang pernah ke Bali, pasti merasakan aura yang berbeda begitu menjejakkan kaki di Gilimanuk. Semakin dalam ke Bali, makin terasa hawa yang berbeda. Orang bilang aura mistis, tapi menurut saya itu aura kedamaian yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Di Bali, semua siap menjadikan dirinya pelayan wisata. Ada tempat yang dibiarkan asli dan tetap suci, tapi ada juga tempat yang dibebaskan untuk memuaskan wisatawan, misalnya pantai Kuta dan Legian.

Penduduk Bali seperti bisa membedakan dengan tegas, mana yang pekerjaan untuk mencari nafkah, mana yang ritual keagamaan. Mereka tidak mengusir bule yang telanjang di pantai tempat mereka melakukan upacara. Tak ada masalah dengan semua keriuhan Legian, bahkan mereka menyediakan apapun yang para bule itu mau. Tapi sesaji di sudut-sudut halaman tetap ada. Seolah menunjukkan bahwa iman mereka ada, tapi bukan untuk mengganggu kesenangan orang yang tak beriman sama.

Begitu mendarat di Karimun, hawa berbeda itu tidak ada. Entah kenapa, saya hanya merasa kaya lagi pulang kampung di desa. Persis. Malam tadi saat jalan ke alun-alun untuk makan, saya membahas ini dengan mas guide. Sebagai guide, jelas Bali adalah tempat yang biasa dia kunjungi. Mungkin tempat yang saya tak tahu saja, dia tahu benar. Dia bilang, dulu di Karimun pernah ada karaoke. I was just going to ask him about this. Soalnya banyak juga wisatawan manca, tapi semua tempat sepi-sepi saja. Oleh warga, tempat karaoke tadi diprotes dan akhirnya ditutup. Selalu ada kekuatiran tempat hiburan bisa menganggu iman. Padahal mesjid tak kurang banyaknya. Makam sunan (lupa siapa namanya) juga ada di sini. Rasanya tak ada alasan untuk mengkuatirkan goyahnya iman, kecuali orangnya sendiri sudah meragukan iman yang selama ini dia yakini.

Kemarin waktu pulang trip saya liat menara masjid yang sedang dibangun. Kalau sudah jadi, munkin dari menara ini akan tersiar adzan paling kencang ditingkah adzan dari mesjid-mesjid lain. Pagi ini menara ini tampak ujungnya dari jalan menuju penginapan, jadi saya ambil fotonya.

Selalu ada usaha mempertebal keimanan yang justru menunjukkan iman kita ini tak tebal-tebal juga.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Iman yang Ditebalkan"

  1. Linda Cheang  23 April, 2017 at 17:26

    semoga setelah iman menebal, kasih kepada Allah dan ke sesama manusia juga makin banyak.

  2. Alvina VB  21 April, 2017 at 04:11

    Baru turun gunung James….wah…kl ke Bali iman ditebalkan,bagus juga dah Wes….banyak kenangan yg indah, menyebalkan dan yg serem2 juga di Bali, rasane dah kaya nano2 kl ke P. Dewata….he..he….

  3. Dj. 813  20 April, 2017 at 22:58

    Bali memang satu tempat yang bisa dirasakan nyaman .
    Semoga akan seperti itu seterusnya dan tidak akan dirusak oleh pendatang .
    Salam Damai dari Mainz.

  4. Handoko Widagdo  20 April, 2017 at 10:56

    Aku tak akan memberikan pencobaan yang melebihi kemampuanmu untuk menanggungnya.

  5. James  19 April, 2017 at 05:46

    1…..sayang Bsli akhir2 ini seolah dipaksakan dimasuki Islam secara terselubung pd hal Bali murni beragama Hindu, begitu pula daerah lainnya spt Maluku, Irian dll

    Para Kenthirs pd kemana yah?

  6. Lani  19 April, 2017 at 01:36

    Wesi: mmg begitulah adanya kelihatan sekali suasana religiusnya………….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *