Pantai Tanjung Layar, Nuansa Eksotisme dan Mistis

Ratman Aspari

 

SPANDUK – Berukuran kurang lebih satu kali empat meter bergambar obyek wisata disertai logo Kabupaten Lebak,juga gambar/foto kepala daerah setempat di bagian atasnya, bertuliskan ‘Selamat Datang di Kawasan Desa Wisata Sawarna, Pantai Tanjung Layar dan Pasir Putih’, terbentang di gerbang masuk menuju obyek Wisata Desa Sawarna, Pantai Tanjung Layar dan Pasir Putih.

Bagi para pelancong nama Desa Sawarna sudah tidak asing lagi, masuk wilayah Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Sejak tahun 2013 pantai ini sudah mulai dikenal banyak orang. Pantai Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Banten. Pantai Sawarna berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Sehingga mempunyai ombak yang besar dan banyak batu karang. Ombaknya yang besar sering dijadikan para wisatawan asing maupun wisatawan lokal untuk berselancar.

Untuk mencapai lokasi ini, rute dan lokasi Pantai Sawarna Banten sangat mudah dijangkau. Apalagi setelah popular, semakin banyak penginapan yang dibangun dan jalan dibuat bagus.

Dari kota Jakarta berjarak  + 280 km, ada beberapa pilihan rute yang bisa anda gunakan, untuk menuju Pantai Sawarna.

 

Melalui Jalur Serang;

Jalur pertama yang bisa anda lalui adalah melalui jalur Serang. Dari kota Jakarta langsung saja menuju ke arah Serang Timur. Dari Serang Timur anda langsung menuju ke daerah Pandeglang Banten dan lanjut menuju ke Malimping. Dari sini anda sebentar lagi akan sampai ke Pantai Sawarna. Dari Malimping anda tinggal ikutin jalur menuju ke Kecamatan Bayah. Kecamatan Bayah merupakan lokasi dari Pantai Sawarna. Dari pusat kecamatan Bayah, anda ambil arah menuju ke Pantai Sawarna. Ada banyak sekali petunjuk jalan menuju ke Pantai Sawarna. Jadi anda tak perlu takut tersesat. Jalur ini beberapa waktu yang lalu baru saja diperbaiki. Jadi jalannya masih bagus untuk digunakan.

 

Melalui Jalur Pelabuhan Ratu;

Untuk jalur melalui Pelabuhan Ratu jalannya lebih bagus dibandingkan melalui jalur Serang. Dari daerah ibu kota Jakarta, anda langsung menuju ke arah Ciawai kemudian lanjut ke daerah Cibadak. Ketika sampai di Cibadak, anda harus melanjutkan perjalanan menuju ke Pelabuhan Ratu. Kurang lebih perjalanan selama 45 menit menuju ke daerah Cisolok. Jika sudah sampai di tempat ini berarti sebentar lagi anda sampai di Pantai Sawarna Banten. Jika melalui jalur Pelabuhan Ratu tidak disarankan menggunakan bus. Jalur ini ada banyak sekali belokan yang tajam dan tanjakan yang curam.

 

Melalui Jalur Sukabumi ;

Rute dan lokasi Pantai Sawarna Banten bisa melalui jalur Sukabumi. Banyak orang yang melewati jalur Sukabumi ini. Dari ibu kota Jakarta anda langsung menuju ke Tol Jagorawi dan keluar melalui Tol Ciawi. Nanti anda langsung ambil jalur menuju ke Sukabumi, kemudian anda akan melewati daerah Lido, Caringin, Cicurug dan Parung Kuda. Dari daerah Parung Kuda ada perempatan. Ambilah jalur menuju ke Pelabuhan Ratu melalui daerah Cikidang. Nanti anda langsung menuju ke daerah kecamatan Bayah. Melalui Gunung Batu, setelah bertemu pertinggan atau simpang Ciawi. Belok ke kiri menuju ke Desa Sawarna dan anda akan sampai ke Pantai Sawarna.

 

Ke Pantai Sawarna Dengan Angkutan Umum;

Anda bisa menuju ke Pantai Sawarna dengan menggunakan angkutan umum. Pertama dari Pelabuhan Ratu anda naik elf jurusan Bayah Banten. Nanti turun di pertigaan Ciawi. Ongkosnya sekitar 40 ribu rupiah. Dari simpang Ciawi anda naik ojek menuju ke Pantai Sawarna. Di pertigaan tersebut ada pangkalan ojek. Jadi anda tak perlu khawatir, cara kedua dari kota Jakarta naik angkutan jurusan Serang. Nanti dari terminal Serang, anda naik Damri menuju ke daerah Bayah. Nanti dari Kecamatan Bayah naik ojek menuju ke Pantai Sarwana.

Sementara untuk tempat menginap bagi para pelancong, tidaklah sulit, begitu mobil memasuki kawasan Desa Wisata Sawarna, sekelompok anak-anak muda dengan lincahnya menawarkan penginapan baik yang dikelola secara pribadi oleh warga setempat, ataupun homestay khusus, dan ada juga hotel-hotel kecil/melati.

Selain Pantai Tanjung Layar dan Pasir Putih, sebenarnya ada beberapa obyek wisata lain yang tidak kalah menariknya di kawasan ini, yaitu: Goa Lalay, Goa Langir, Pantai Ciantir, Pantai Karang Bokor, dan Pulau Manuk. Untuk menuju obyek wisata di Kawasan Desa Sawarna ini memang penuh perjuangan, jalan yang berkelok, tanjakan yang terjal, jalan yang curam, melewati hutan dan pantai, ditambah beberapa titik terdapat daerah rawan longsor, sehingga harus tetap berhati-hati dalam berkendaraan.

Beberapa meter setelah melewati pintu gerbang, tepatnya di sebelah kanan, lapangan parkir terdapat prasasti atau makam dengan tinggi satu meter dan berbentuk persegi tersebut diselimuti lumut. Tulisan di nisannya pun hampir tak bersisa. ‘Jean Louis Van Gogh, Arheim : 07 Nov 1883 – Sawarna : 29 Marc 1930’, ya,   di makam tersebut, Jean Louis van Gogh bersemayam.

Konon menurut penjelasan Pak Guru Usep yang biasa disapa Kang Jono (pemandu kami-red), warga setempat yang keseharianya berprofesi sebagai guru, menuturkan bahwa Jean Louis van Gogh merupakan sepupu dari Vincent van Gogh, berkebangsaan Belanda. Jean Louis merupakan pengusaha pertama yang membuka perkebunan kelapa di sepanjang Pantai Ciantir, Sawarna.

“Sekitar 1907, Jean Louis membuka perkebunan kelapa seluas 54 hektare, tepatnya terletak di pinggir Pantai Ciantir dan Tanjung Layar,” ujar pria yang berprofesi sebgai guru di salah satu SMA di Bayah.

Sementara itu menurut cerita yang berkembang dari orang tua secara turun temurun, selain berusaha memajukan usahanya Jean Louis van Gogh juga memiliki cita-cita agar tempat usahanya kelak dikenal oleh generasi selanjutnya, tempat yang termasyur hingga ke mancanegara.

Lokasi itu dinamakan Sawarna, namun karena perbedaan logat, dialek dan bahasa sehari-hari mengakibatkan ada yang mengartikan bahwa Sawarna berasal dari Bahasa Sunda yakni “Sorana” yang bermakna suaranya.

Sekarang Desa Sawarna telah menjadi desa yang memiliki suara yang bergaung di seluruh negeri, apakah ada kaitannya dengan cita-cita luhur saudagar asal Belanda tersebut, yang jelas Desa Sawarna menjadi desa yang terkenal dan diminati para pelancong karena keindahan alamnya. Dan makam Jean Louis van Gogh sendiri menurut beberapa sumber dan literatur baru diketemukan sekitar tahun 2000-an.

Selanjutnya melewati jembatan dengan air sungainya yang berwarna coklat, ujung sungainya bermuara di laut. Menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar dan terkesan seadanya, kanan kirinya kebun kelapa, ladang petani yang ditanami umbi-umbian terbetang luas, sampai akhirnya bertemu dengan hamparan pasir putih, bibir pantai.

Sepanjang mata memandang digaris pantai terhampar pasir putih nan lembut, disertai deburan ombak, para pengunjung mulai dari anak-anak sampai orang tua, begitu menikmati bermain dipasir putih ini. Semakin siang udara semakin menyengat, deburan ombakpun semakin kencang. Sesekali terdengar dari pengeras suara penjaga pantai, himbauan bagi para pengunjung yang sedang berenang, berselancar untuk tidak terlalu ke tengah laut, karena berbahaya.

Berjalan menyusuri pantai pasir putih dengan pemadangan alamnya yang eksotis menuju ke Pantai Tanjung Layar, melalui semak, pepohonan yang masih alami, pinggiran pantai yang dipenuhi batu karang membentuk gelombang-gelombang pulau yang indah. Sementara sepanjang perjalanan, terdapat rumah-rumah panggung tidak begitu besar terbuat dari bilik bambu berjejer, selain dimanfaatkan untuk penginapan, sebagian dimanfaatkan untuk berdagang, selain makanan, kelapa muda juga pakian/sovenir, dll.

Hembusan angin laut dengan suasana yang masih alami, batu-batu karang yang berserakan membentuk pemandangan yang indah, ditambah rimbun pepohonan menambah nuansa eksotisme pantai yang penuh mistis sangat terasa.

Tidak jauh kemudian terlihat tulisan warna merah ‘Tanjung Layar, Sawarna, Lebak – Banten’, dengan latar belakang laut dan dua bukit batu karang seperti candi atau gunung berjejer, menyerupai layar, jaraknya kira –kira beberapa kilo meter dari tepi pantai. Para pengunjung menghabiskan waktunya di aera ini, sembari berdiri dari satu batu karang ke batu karang lainya atau menceburkan diri ke air laut yang terasa dingin. Bahkan beberapa anak-anak muda menyeberangi air laut menuju ke dua bukit yang mirip layar sebuah kapal tersebut. Beberapa diantaranya ada yang mencoba naik, seolah sedang panjat tebing, padahal yang seperti ini sebenarnya cukup membahayakan, kondisi batunya yang licin, bisa-bisa jatuh tergelincir.

Di pantai sekitar tulisan Tanjung Layar ini kondisinya lebih ramai, dibanding Pantai Pasir Putih tadi. Rumah-rumah panggung banyak dimanfaatkan warga untuk berdagang, segala macam aneka dagangan ada disini, makanan, minuman, sovenir, dll. Disini bisa dibilang pusatnya Kawasan Desa Wisata Sawarna, ada sesuatu yang kurang kalau tidak mengungjungi Tanjung Layar, ketika memasuki Kawasan Desa Wisata Sawarna ini.

Terlihat beberapa wisatawan mancanegara dengan peralatan selancarnya, sementara waisatawan lainya duduk dibawah pepohonan  maupun diatas batu-batu karang sangat menikmati keindahan Tanjung Layar di Kawasan Desa Wisata Sawarna ini. Deburan ombaknya yang kencang, menerjang batu-batu karang menambah suasana semakin terasa eksotis. Ini potensi besar bagi Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten untuk terus mengembangkan obyek wisata di Kawasan Desa Sawarna secara optimal.

 

Cerita Turun Temurun Tentang Tanjung Layar

Keindahan alam dan pantai Kawasan Desa Wisata Sawarna, khusunya Pantai Tanjung Layar, dengan dua bukit karang yang berjejer menyerupai layar tidak lepas dari legenda-legenda mistis, sebagaimana daerah-daerah lain diseantero tanah air. Inilah khasanah dari nenek moyang kita, bagaimana cara menjaga dan merawat lingkungan, alam, pepohonan dan lautnya.

Sebagaimana dituturkan dan dilansir dari berbagai sumber, cerita yang beredar di masyarakat, di balik keindahan dan kokohnya batu kembar yang berada di Pantai Tanjung Layar, Sawarna, Kec.Bayah, Lebak, Banten ini tersembunyi sebuah misteri dan legenda yang ternyata masih ada kaitannya dengan legenda tanah pasundan, Sangkuriang. Konon, Pantai indah bernama Tanjung Layar di Sawarna ini juga diceritakan dalam babad Sunda dan legenda pesisir Pantai Selatan.

Selain itu, menurut para sesepuh Banten Selatan atau Tanah Pakidulan, mereka meyakini bahwa dua batu kembar yang berdiri kokoh tersebut adalah perwujudan dari dua buah kekuatan Sangkuriang yang akan dijadikan layar perahunya. Seperti yang telah kita ketahui bersama, dalam Legenda Sangkuriang tersebut, Dayang Sumbi/Rarasati (Ibu Sangkuriang) memberikan sebuah syarat pada Sangkuriang untuk membuat sebuah telaga dan sebuah perahu hanya dalam waktu satu malam, hingga ayam berkokok. Syarat ini diberikan Dayang Sumbi pada Sangkuriang dengan tujuan menghindari rencana Sangkuriang untuk menikahinya.

Namun ketika pekerjaannya tinggal sedikit lagi dan hampir selesai, ternyata ayam jantan mulai berkokok menandakan pagi datang dan waktu telah habis. Sangkuriang pun gagal memenuhi syarat yang diajukan oleh Dayang Sumbi, dan ketika dia mengetahui bahwa ia telah gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu yang ia buat hingga terpental kesebelah utara dan mendarat terbalik, perahu Sangkuriang inilah yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Sementara layar dari perahu tersebut dilemparnya ke bagian Pantai Selatan Jawa dan berdiri kokoh menatap samudera, dan layar inilah yang kemudian kita kenal sebagai batu kembar yang dinamai Batu Layar atau Tanjung Layar.

 

(ratman aspari)

 

 

5 Comments to "Pantai Tanjung Layar, Nuansa Eksotisme dan Mistis"

  1. Imansyah hakim al rasyid  30 April, 2017 at 06:23

    Sawarna adalah rumah ketiga bagi saya, dahulu sblm sawarna se tenar skrg, sy bersama istri dan anak acapkali week end dengan berkemah di pantainya yg berpasir putih dan tidak gatal.
    Sesekali setiap matahari terbit, anda bisa temui gerombolan kera surili (lutung) yg mencari kepiting dipinggir pantai…

  2. Alvina VB  26 April, 2017 at 23:12

    Beautiful Pictures…
    Banten selalu terkait dengan mitos dan mistis. Spt cerita ex dubes RI utk Canada yg balik pulang ke Banten belasan thn yg lalu, mati mendadak krn katanya disantet lawan politiknya. Ya……gak tahu lah ya… apa ini bener/gak yg pasti rame waktu itu khabarnya di sini krn orgnya sehat2 aja tuch dan siap masuk dlm pemilihan gubernur Banten (yg selalu santer dgn berita korupsi, kolusi dan nepotisme).

  3. Sumonggo  25 April, 2017 at 14:55

    Barisan pohon kelapa yang menjulang jangan sampai berganti hotel dan apartemen menjulang. Rayuan pulau kelapa yang menarik pelancong, bukan rayuan pulau apartemen.

  4. James  25 April, 2017 at 13:29

    i n d a h

  5. Lani  25 April, 2017 at 09:10

    Indah juga pantai Tanjung Layar apalagi ditambah legenda cerita dibelakangnya………buat aku pribadi wisata pantai tdk begitu menarik, krn tiap hari sudah melihat pantai mengitari Kona……..

    Bahkan bisa dikatakan malah malas utk kepantai klu matahari sdh terbit krn panasssssssssnya………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *