Bukan Pria Senja

Ida Cholisa

 

Sepeninggal Abi aku hampir-hampir tak pernah merasakan jatuh cinta lagi. Satu-satunya pria yang mampu membangkitkan getar asmara setelah rasaku tertidur lama, tak lain tak bukan adalah Hasan, pria berjas putih berkalung stetoskop berusia tujuh puluh tahun.

Hasan Noor, aku mengenalnya tujuh tahun lalu di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Barat. Pria senja berparas teduh dengan hiasan segerombol jenggot putih di dagunya memancing rasa penasaranku usai pertemuan kembali beberapa saat lalu.

“Lama sekali kau tak kontrol, Aisyah.”

Aku tak merespon ucapannya. Ia menatapku beberapa jenak.

“Tiga setengah tahun kau membiarkan tubuhmu tanpa pemeriksaan apa pun. Bukankah saat itu kukatakan kalau kamu harus menjalani pemeriksaan minimal setahun sekali untuk mengantisipasi kemungkinan kambuh atau menyebarnya sel kanker dalam tubuhmu?”

Aku mengangguk. Ya, tiga setengah tahun kuabaikan bone scan dan kontrol rutin. Terakhir kujalani scan tulang belakang di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta Pusat. Suamiku, Abi, setia mengantar dan menemaniku check up setiap waktu.

Hasil bone scan menunjukkan tidak adanya penyebaran sel kanker di tulang belakang. Rona bahagia terpancar dari wajah Abi.

“Selamat, Ummi…. selamat… tak ada penyebaran sel kanker dalam tubuhmu…”

Kegembiraan itu berujung duka. Usai mengantarku periksa, beberapa minggu kemudian suamiku meninggal dunia.

“Kalau nggak mau kecolongan jangan malas kontrol.”

Ucapan dokter membuyarkan lamunanku. Wajah Abi seketika lenyap dari ingatanku.

“Kehilangan suami bukan berarti kehilangan semangat untuk sembuh. Kalau ingin sembuh ya harus rajin check up…”

Ia mengulangi ucapannya. Wajahku memucat oleh rasa bersalah karena telah mengabaikan pemeriksaan untuk sekian lama.

“Aku tahu rasanya kehilangan, Aisyah. Aku pun mengalami. Berat, Aisyah…”

Aku terkesiap. Ada apa dengan dokter kankerku, kehilangan apa yang ia alami? Hasan Noor ibarat dokter pribadiku. Kami memiliki hubungan yang sangat baik tersebab kesamaan minat. Aku suka menulis dan membaca, demikian juga dirinya. Setiap terbit buku baru, selalu kuhadiahkan satu buku untuk dokter kankerku. Absennya aku untuk kontrol rutin selama tiga setengah tahun bukan berarti aku loss contact dengannya. Kami berhubungan baik melalui pesan singkat, messenger atau whatsapp. Setiap berkomunikasi ia selalu mengingatkanku untuk kontrol kembali.

Belakangan kesibukan menulis dan padatnya pekerjaan membuatku jarang berkomunikasi dengan dr. Hasan. Lebih dari enam bulan. Pernah sekali waktu aku menyapanya melalui pesan singkat. Tapi tak ada jawaban.

Kini sebuah pertanyaan bertengger di benak kepala. Aku sungguh tak mengerti maksud ucapannya. Kehilangan apakah gerangan? Ia tak pernah bercerita apa pun tentang kehilangan itu, sekadar berbicara sekilas tanpa keterangan yang jelas. Hm, adakah sang dokter kehilangan istri? Anak? Ah… tak mungkin…

***

Teka-teki tentang dr. Hasan Noor terkuak saat tak sengaja aku berjumpa dr. Riana di koridor rumah sakit. Dokter cantik rekan satu team dr. Hasan Noor di divisi onkology seketika menampakkan wajah sedih saat kutanyakan perihal kata kehilangan yang disampaikan dr. Hasan.

“Istri dr. Hasan meninggal lima bulan lalu.”

Aku terperanjat.

“Sakit?” tanyaku.

“Begitulah. Bahkan seorang dokter kanker pun tak bisa menyelamatkan nyawa istrinya. Kanker jugalah yang telah merenggut nyawa istri dr. Hasan.”

Ucapan dr. Riana bagai ranting-ranting kering yang berjatuhan menimpa kepala. Pandanganku nanar. Ibu Shinta, istri dr. Hasan telah meninggal dunia? Karena kanker? Wanita cantik yang pernah bersitatap denganku sekali waktu saat suamiku meninggal dunia, kini pun tinggal nama?

***

Sabtu siang ini aku kembali menemui dokter kanker. Kontrol rutin beberapa bulan sekali kini intens kujalani. Bukan semata alasan untuk kontrol kesehatan sebenarnya, melainkan rasa gembira setiap kali berjumpa sang dokter. Entahlah, aku merasakan semangatku membukit lagi setiap kali kalimat sang dokter mengguyur hati.

“Kau masih muda, Aisyah. Menikahlah. Tak baik berlama-lama hidup sendiri.”

Aku terdiam saat itu. Berjalannya waktu, “hasutan” sang dokter agar aku menikah lagi mulai mengganggu hari-hariku.

****

Perhatian dr. Hasan begitu istimewa padaku. Jujur aku menyukainya. Lambat tapi pasti, hatiku mulai terkulik. Detik demi detik… alunan rasa mulai menggelitik.

Aku jatuh hati pada dr. Hasan? Aku jatuh cinta pada pria gagah berusia senja? Entahlah.

“Kau siap andai seorang pria datang melamar?”

Aku tak menjawab.

“Bersiaplah, lusa seseorang akan datang meminang.”

Seseorang? Seorang siapa? Ah, dr. Hasan membuatku bertanya-tanya. Aku yakin dirinyalah yang akan datang melamar…

***

Kerabat telah berkumpul di rumahku. Bahkan kakak sulungku sengaja datang dari luar kota untuk bertindak sebagai wali atau pengganti orang tua yang akan menerima kunjungan keluarga calon pelamar.

Satu jam kemudian terlihat sedan putih meluncur memasuki halaman rumahku. Seorang pria senja berperawakan gagah keluar dari mobil diikuti lelaki muda berpeci. Itu pasti anaknya, batinku.

Tak ada pikiran apa pun saat itu, selain rasa gugup dan senang yang menggelayuti hatiku. Waktu seolah bergerak lambat. Dokter Hasan sang pria senja menatapku sekilas sebelum berucap.

Kutahan rasa yang bergemuruh di dalam dada. Pria senja benar-benar memikat mata. Sungguh aku tertawan pada rambut putihnya, jenggot putihnya, dan segala “kekhasan” yang dimiliki pria berusia senja. Laksana seorang cucu, aku jatuh cinta pada seorang kakek…

Ayolah Pak dokter….. ayolah pinang diriku… aku bergumam di dalam hati.

Saat yang kunanti tiba. Pria senja membuka suara. Dan aku terkulai sesudahnya…

Tak ada kegembiraan apa pun saat itu. Aku terkepung bingung. Sungguh sebuah khitbah yang tak pernah kuduga…

Kenyataannya dr. Hasan tak pernah melamarku apalagi berniat menikahiku. Ia justru bermaksud menautkanku dengan pria muda di sampingnya. Pria yang tak lain tak bukan adalah anak lelaki satu-satunya….

“Anakku menyukai tulisan-tulisanmu, Aisyah. Tentang dirimu, anakku telah banyak tahu. Ia pemuda yang baik. Kuharap kau menerima lamarannya.”

Aku tak berkata sepatah pun. Aku tak tahu harus berbuat apa. Lidahku kelu. Pikiranku buntu.

“Diam adalah tandà bahwa kau menerima, Aisyah,” bisik kakakku.

Seketika kusampaikan jawaban tegasku. Aku tak bisa menerima lamaran pria muda itu. Aku tak bisa menerima cinta seorang pria tanpa aku memiliki rasa cinta terhadapnya. Benar cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi entah mengapa aku memiliki keyakinan bahwa cinta di dalam hatiku tak akan mudah dipalingkan….

Sesungguhnya pria senja lebih menawan hatiku, dibanding pria muda mana pun itu.
..

(Cileungsi, senja 4 April 2017)

 

 

6 Comments to "Bukan Pria Senja"

  1. HennieTriana Oberst  29 April, 2017 at 13:57

    Cinta memang tak bisa dipaksa…

  2. Alvina VB  29 April, 2017 at 08:29

    James: pria senja emang lebih bijak? gak semualah..ada yg balik kaya anak kecil lagi… ttp yg pasti udah gak punya energi lagi, ha…ha….ayo ditest lari pagi sama mbakyu Lani, ha…ha….met weekend….

  3. Lani  28 April, 2017 at 13:05

    James: kerbau muda=daun muda hahaha= kaum berondong……..

  4. James  28 April, 2017 at 11:11

    yah tapi biasanya Pria Senja itu lebih Bijak, more wise and mature gitu

  5. James  28 April, 2017 at 11:09

    loh kok terbalik ini, dikasih young karabau malah maunya old karabau, tapi memang biasanya old karabau eat young grass, menurut orang Filipina tuh

  6. Lani  28 April, 2017 at 01:46

    Apakah ini yg dinamakan “bertepuk sebelah tangan”

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.