Jakarta (Kota yang Lebih Bersahabat)

Hennie Triana Oberst

 

Kembali menjenguk Jakarta setelah 11 (sebelas) tahun meninggalkannya. Selalu ada kenangan indah menyelusup di sela-sela hati ketika mengunjungi tempat yang menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Kota yang lumayan lama menjadi bagian dari rumahku, banyak teman baik yang aku temukan di sini, bahkan seperti bagian dari keluarga.

Kali ini aku mengajak serta putri kecilku, mengenalkan ibukota tanah air mamanya. Ternyata putriku menyukai kota ini,

“Bagus ya Ma kota Jakarta dan bersih“, begitu katanya.

“Lebih suka mana, Shanghai atau Jakarta?“, tanyaku.

“Jakarta lah Ma, bersih dan nggak bau“, jawabnya sambil ketawa-ketawa.

Kota ini memang jauh berbeda dari yang dulu terakhir aku lihat. Mulai dari bandaranya, petugas imigrasinya (walaupun yang untuk orang asing masih dalam tahap renovasi, sepertinya), tetapi pelayanannya cepat dan tak bertele-tele. Duluuu…aku sering sekali (main) ke bandara internasionalnya, dan sering aku iri melihat bandara internasional negara lain, sekalipun di negara lain itu bandaranya relatif kecil.

Kami dijemput di bandara oleh seorang teman baik dan juga mantan teman kerja dulu, dan diantar sampai penginapan, diajak makan lagi. Terima kasih tak terhingga Fenny. 💖

Lain kali semoga ada waktu lebih banyak “explore Jakarta“, seperti dulu lagi.

Terima kasih untuk semua teman-teman yang baik hati yang sudah mengisi waktu kami selama di kota ini ya.

“Kalau ada umur panjang, semoga jumpa lagi“

 

Jakarta, 01 May 2016

 

 

13 Comments to "Jakarta (Kota yang Lebih Bersahabat)"

  1. HennieTriana Oberst  7 May, 2017 at 11:00

    Tammy, memang enak ini ayamnya, waktu makan di Jakarta, dan sempat difoto. Selebihnya nggak sempat foto-foto kota, saking padatnya jadwal
    Kalau macetnya nggak bisa dibandingin Shanghai, parah banget Jakarta, lebih parah dari Beijing. Tapi mungkin kalau subway sudah jalan, kemacetan bisa ditekan. Semoga saja.

  2. HennieTriana Oberst  7 May, 2017 at 10:57

    Alvina, kalau dibanding kota-kota hebat di negara lain, memang masih jauh ya Jakarta hehehe.. Ini hanya membandingkan situasi Jakarta terkahir waktu aku kunjungi. Hampir sepuluh tahun tinggal di sana, kemudian datang lagi beberapa kali. Dan ini kunjungan setelah 11 tahun, terasa ada perbedaan ke arah yang lebih baik. Kalau macetnya masih parah

  3. HennieTriana Oberst  7 May, 2017 at 10:55

    James, pastilah, sedih dia kalau lihat yang seperti itu. Tapi di Shanghai juga banyak rakyat yang miskin yang rumahnya seadanya juga.
    Makanan di Indonesia selalu bikin laper, makanya kalo ke Indonesia jadi gendut hehehe…

  4. HennieTriana Oberst  7 May, 2017 at 10:52

    Hallo mas Dj.
    Ja, Jakarta sieht viel besser und schöner aus.
    Liebe Grüße aus Shanghai!

  5. HennieTriana Oberst  7 May, 2017 at 10:47

    Terima kasih mas Hand. Iya itu menurut pandangan saya yang pernah lumayan lama tinggal di Jakarta. Membandingkan dari kesan terakhir di sana.

  6. tammy  5 May, 2017 at 14:42

    Glek! Itu ayam goreng kremesnya mengundang banget!
    Aku seumur-umur belum pernah ke Jakarta nih. Sekarang sudah bagus ya. Hmmm…. semoga ga jadi mundur.

  7. Alvina VB  4 May, 2017 at 04:06

    Jakarta lebih bersahat kl dibanding sama Shanghai, ttp coba bandingin sama kota-kota lainnya di dunia, Jakarta no.berapa coba ayo?

  8. James  3 May, 2017 at 15:08

    loh komen sy kemarin hilang lagi deh

    putri kecil kalau lihat Jakarta dari sudut pinggiran rel kereta api pasti Putri Kecil akan terlihat sedih

    foto makanan bikin laper

  9. Dj. 813  2 May, 2017 at 23:34

    Ke Jakarta aku kan kembali iiii. . . .
    Walau apapun yang terjadi . . .

    Hennie, du has glück , Jakarta ist jetzt so schön .
    Weil A Hok gearbeit hat . . .
    Liebe grüße aus Mainz .

  10. Handoko Widagdo  2 May, 2017 at 15:20

    Jakarta yang lebih manusiawi ya Henny.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *