Perempuan Cantik Itu, Ngomelnya Beda (Ternyata Ini Rahasianya)

Istiqomah Almaky

 

Saya sebel. Sangat sebel. Bagaimana tidak sebel, WA saya bolak-balik thang-thung, thang-thung. Sejatinya saya itu jenis wanita yang sangat sabar, sabar sekali malah ketika seseorang dengan berbaik hati menraktir saya makanan dan memuji saya cantik dan pendiam.

Tapi soal keriuhan grup WA yang satu ini, saya benar-benar tidak tahan. Saya harus menghentikan pembicaraan yang diulang berulang-ulang, berulang-ulang. Mestinya saya berteriak saja di grup itu, pembcaraan kalian itu membosankan. Namun, begitulah,. Sebagai mahluk manis yang ditakdirkan lahir dengan sejuta kesabaran, saya malah ikut-ikutan larut dalam pembicaraan membosankan itu. Aneh bukan? Begitulah memang ciri-ciri perempuan cantik dan menawan. (Anda yang tidak setuju, harus membaca tulisan ini sampai tuntas. Masih tidak setuju juga, kirimi saya satu truck nanas. Nggak nyambung? Biarin saja.)

Agar Anda tidak makin penasaran, biarlah saya bercerita dengan runtut.

Ini tentang grup menulis, kawan. Anggota grup itu orang-orang hebat. Hebat sekali. Ide-ide mereka dalam dunia pendidikan acapkali membuat saya terbengong-bengong. Kok bisa ya mereka berpikir sejauh itu? Darimana ya mereka mendapat inspirasi untuk membuat media pembelajaran secanggih itu? Kok bisa ya media pembelajaran berbasis IT yang mereka buat secanggih itu? Lha aku mendadak tiba-tiba sontak, spontan,. Tanpa persiapan langsung tergagap-gagap. Sebagai guru mana kreativitasku? Mana? Aku nyaris terduduk dan menangis tersedu-sedu di pojok kamarku. Namun, percuma juga bila hal itu saya lakukan. Toh,guru-guru hebat di grup WA itu tak akan tahu bagaimana rasa minderku, rasa malu-ku (sengaja tidak kutulis maluku, nanti dikira akau ingin menguasai Provinsi Maluku);? Entahlah. Sejujur-jujurnya, aku sadar, aku tidak sehebat mereka.

Anehnya, orang-orang hebat di sana pada berebut bingung. Bingung melakukan sesuatu yang sejatinya dapat dengan sangat mudah apabila mereka mau sedikit saja berdamai dengan hatinya. Maksudnya?

Oke, biar berkelas, kutulis saja di paragraph berikutnya.

 

Darimana Memulai Menulis?

Itulah pertanyaan yang membuat grup WA itu heboh. Sebagian kecil di antara guru-guru hebat itu pada mengeluh. Bagaimana memulai menulis. Lha kok bisa tho? Mereka kan sudah ribuan bahkan jutaan kali menulis satus FB, pesan di WA atau BBM, kenapa harus mengeluh?

Kalau aku ditanya soal itu, jawabanku gampang saja. Tumpahkan saja seluruh isi kepalamu. Lempar jauh-jauh soal tumpukan ccian baju dan piring kotor di otakmu itu. Buang jauh-jauh. Semua itu membuat otak jadi tidak seksi. Tidak berkelas. Atau otakmu penuh dengan tagihan administrasi mengajar? Berkas sertifikasi yang tak henti-henti mengejar? Lempar jauh-jauh semuanya. Menulislah dengan seksi!

Caranya? Gampang. Anda tahu kan penyanyi dangdut yang biasa mentas di panggung-panggung dari kampung ke kampung itu? Ya, menulislah dengan meniru gerak tubuh mereka yang terkadang tak karuan itu. Artinya, menulislah apa saja. Tak usah Anda pikirkan Anda hendak menulis apa, bagaimana nanti isinya menarik atau tidak? Lupakan semua itu. Yang penting menulislah dengan bahagia. Lama kelamaan Anda akan menyadari Anda telah menulis “sesuatu” yang bermakna. Dan semua itu butuh proses, Bung. Tidak serta merta. Tak ada kesuksesan instan, kecuali masak dan menghabiskan sebungkus mie instan.

Soal menulis bagi penulis pemula dengan penyanyi dangdut spesialis hajatan dari kampung ke kampung itu, benar sekali, Kawan. Banyak penyanyi dangdut tenar, sebut saja Inul Daratista dan Zaskia Gothik, mereka pun dulu penyanyi dangdut jenis ini. Lha kalau Anda mau jadi penulis hebat sekelas Andrea Hirata atau Putu Wijaya, mengapa tidak memulainya sekarang juga. Bukankah tidak mungkin sekali menulis, Anda langsung berhasil seperti mereka. Semua perlu proses, Bung!

Perhatikan dengan saksama, betapa seksinya Zaskia Gothik dalam foto berikut. Kalau Anda tetap tidak setuju dengan saya, Anda perlu ke dokter mata. Terserah mau apa.

 

Masih Juga Tak Mau Memulai Menulis?

Di atas telah saya tuliskan, bahwa untuk memulai menulis itu ya menulis saja. Singkirkan prasangka bahwa Anda tidak bisa menulis. Sadis sekali Anda pada diri sendiri. Sudahlah, percaya saja pada saya. Buang keraguan itu.

Masih juga ragu dan tak mau memulai menulis? Sayang sekali. Itu sama artinya Anda telah mengebiri diri sendiri. Membuat otak Anda yang sejatinya berisi ide-ide brilian itu menjadi mandul. Sayang sungguh sayang.

Andai sekali saja Anda mau menuruti kata-kata saya, tidak perlu sakit kepala. Sakit yang sama sekali tidak bonafide. Meski sebagian orang bilang itu sakitnya orang elit. Tak percaya? Kau pikir kaum buruh dan kuli kasar itu sempat berpikir tentang ide-ide abstrak yang acap berdesakan memenuhi ruang otakmu. Tentu tidak. Otak mereka sudah cukup sibuk dengan pertanyaan rutin. Pertanyaan HOTs yang berabad-abad tak juga terpecahkan. “Bagaimana caranya esok aku mampu bertahan?”

Nah, sudah percaya bukan? Kalau masih saja belum petraya, ya sudahlah. Mungkin ini penyakit kronis yang yang timbul karena kelebihan duit. Duit yang numpuk di rekening Anda dari dana sertifikasi itu harusnya tidak dibiarkan beranak pinak di sana. Daripada menambah beban – bukankah jumlah penduduk yang makin banyak akibat tidak ber-KB itu menjadi beban?- Ambillah sebagian. Berikan pada yang membutuhkan.

Kalau Anda tidak tahu siapa yang paling membutuhkan. Bukalah mata dan telinga Anda. Buka untuk tetangga kanan kiri. Kalau tak juga menemukannya, bertanyalah pada para guru dan ulama. Mungkin Anda akan langsumg diajak menemui mereka. Lihatlah betapa menderitamya saudara-saudara kita itu. Penghasilannya sebulan, bisa jadi tak sampai sepertiga dana TPP kita.

Masih juga belum menemukan ide? Bukalah dompet Anda. Keluarkan semua isinya. Berikan kepada mereka yang tak seberuntung kita itu. Pasang baik-baik mata, telinga, dan hati. Lihatlah bagaimana suka citanya mereka menerima pemberian Anda. Dengarlah ucapan syukur dan doa-doa indah mereka untuk Anda. Sekarang, dengarkan suara hati Anda. Takkah kau tergetar? Takkah tumbuh semangat Anda untuk terus menjadi orang kaya agar terus bisa berderma?

Semua itu ide tulisan yang luar biasa, Kawan. Mudah mendapatkannya, berharga sekali nilainya bila dituliskan.

Namun, kalau tetap saja hati Anda tak merasa tersentuh, cobalah raba lambung sebelah kiri Anda. Jangan-jangan hati Anda sudah tak ada di sana.

 

Belajar dari Perempuan Bawel, Tetapi Cantik

Masih juga belum menemukan ide menulis? Ya ampuuun. Padahal saya sudah memberikan contoh bagaimana menulis tanpa banyak berpikir harus menulis apa. Cukup bongkar otak Anda, tumpahkan segala isinya. Menulislah seseksi goyangan penyanyi dangdut yang tak sempat berpikir tentang etika. Artinya, Anda cukup menulis tanpa berpikir soal unity, kohesi, koherensi, dan tetek bengek teori penulisan.

Namun, kalau Anda tetap juga belum bisa memulai menulis, ya sudahlah. Saya terpaksa akan memberitahukan pada Anda sebuah rahasia. Rahasia turun temurun yang tak selalu dipahami anak manusia. Ini tentang seorang perempuan bawel, cerewet, yang konon kata orang sangat suka mengomel. Anehnya, orang-orang justru kangen dengan omelannya.

Kok bisa? Bisa saja. Sebab perempuan itu mengomel dengan cara yang beda. Bukankah sesuatu yang beda itu seringkali luar biasa?

Sumber gambar: http://www.vemale.com/inspiring/lentera/74799-5-alasan-wanita-masa-kini-masih-membutuhkan-diary.html

 

Banyak perempuan yang telah lama tidak mau mengomel dengan ucapan. Mengomel dengan ucapan itu tidak keren. Malah bisa membuat harga diri jatuh hingga ribuan derajat. (Ada nggak ya?) Bayangkan, ketika Anda mengomel, biasanya pasti dengan kata-kata kasar, menyakitkan, bahkan bisa membuat orang tersinggung. Bukannya membuat kita makin dihormati, yang terjadi malah kita ditertawakan di belakang kita. Lebih sakit kan rasanya? Sayangnya tak banyak orang yang sadar tentang semua itu.

Ya, demikianlah adanya. Perempuan cantik dan terdidik itu mengomel dengan cara yang beda, tidak dengan ucapan. Ia mengomel lewat tulisan. Kemarahannya, ketidaksetujuannya, rasa sakit hatinya, kecemburuannya, ketakutannya, semua hal ia tuliskan.

Ia menuliskannya dengan kalimat dan diksi yang indah. Ia juga menggunakan metafor-metafor yang membuat orang yang diomeli atau merasa diomeli merasa disindir habis-habisan. Bukannya marah dan tersinggung, mereka hanya bisa tersenyum kecut dan meringis. Terkadang diam-diam juga berjanji untuk mengubah diri. Sekeji apa pun maksud yang hendak ia sampaikan, karena dituliskan, orang akan tergoda untuk membaca omelannya. Bahkan, yang lebih dahsyat, bisa jadi para pembaca merindukan omelan-omelannya.

Namun, lagi-lagi ini soal pilihan. Anda mau marah tetapi dituduh keren dan seksi; atau Anda mau marah tetapi ditakuti orang lain dan dilecehkan di belakang Anda?

 

Saya Seksi, Anda setuju?

Perihal perempuan seksi, saya sudah seringkali menuliskan. Perempuian seksi itu dilihat dari isi otak dan hatinya yang dapat terlihat dari perilakunya, sinar wajahnya, dan kata-kata yang ia ucapkan atau ia tuliskan. Kalau perilaku dan sinar wajah, itu sangat mudah kita lihat. Lha kalau ucapan? Tidak setiap orang dapat mengetahui ketika kita mengucapkan kalimat-kalimat yang santun, indah, dan berisi. Beda sekali dengan tulisan. Ketika kita menuliskan ide-ide kita, impian-impian kita, kapan saja orang dapat membaca dan dapat mengenali betapa seksi luar biasanya kita. Keseksian yang muncul dari kepiawaian kita mengawinkan fakta dan opini, fakta dan imajinasi, konsep dan ilustrasi, dan sebagainya.

Karena saya mengaku seksi, izinkanlah saya mengomeli Anda yang mengaku bingung memulai menulis dari mana dengan omelan tertulis. Saya tidak hendak pamer tentang tulisan saya karena saya sadar tulisan saya itu masih jauh dari sempurna. Tapi, kalau tidak saya mulai menulis sekarang, mau kapan lagi. Bukankah setiap kesuksesn diraih dengan menaiki tangga demi tangga kegagalan?

Saya memilih mengomel lewat tulisan sebab sudah terlalu panjang usia saya sebelumnya yang sudah saya gunakan untuk mengomel dengan ucapan. Dampaknya? Tak ada satu pun yang menyadari betapa cantiknya wajah dan hati saya. Alih-alih memuji saya sebagai bidadari, mereka malah menganggap saya sebagai monster yang mengaku peri.

Setelah memilih mengomel lewat tulisan, saya bisa bernafas lega dan banyak bersyukur. Mereka memang masih menganggapku berwajah monster, tetapi monster berhati bidadari.

Saya selalu merasa sangat seksi dengan dua buku ini. Buku yang menjadi kewajiban saya untuk menuliskannya dalam Tim Penulis Buku (revisi) Bahasa Indonesia SMA Kelas X sesuai Kurikulum 2013. Meski masih banyak kekurangan, tetapi saya merasa seksi karena dengan buku itu, kekecewaan saya pada Kurikulum 2013 versi tahun pertama yang menghilangkan materi puisi baru, persuratan, pidato, dan karya ilmiah bisa mereda.

Hahaha … Tiba-tiba, saya ingin sekali menulis cerpen tentang perempuan berhati bidadari. Dan perempuan itu adalah SAYA. Tentu itu hak saya, bukan? Anda tak berhak mengatur imajinasi saya. Satu-satunya kemerdekaan yang masih dapat saya genggam sepenuh-penuhnya.

Masih ingat bagaimana saya begitu bahagia menjadi perawan tua, magister lulusan Jerman yang dipinang Perwira AL dengan sebotol air berasa? Khayal sekali, bukan? Ya … terserah saya dong. Kalau Anda tidak terima, tidak suka, jangan mengomel di tempat yang jauh dan tak dapat saya lihat, tulisakan saja omelan Anda pada kenarsisan saya.

Imajinasi saat ini menjadi sedikit kemerdekaan yang masih tersisa di genggaman rakyat jelata.

Merdeka.

 

Note: Catatan ini sungguh-sungguh hanyalah contoh bagaimana kita bisa memulai menulis dengan menuliskan apa saja. Berbagai macam ide yang tumpeng tindih di kepala kita itu, tuliskan saja. Setelah jadi tulisan, jadi konkrit, akan lebih mudah bagi kita untuk menatanya menjadi tulisan yang baik. Namun, kalau Anda tetap membiarkannya menjadi mahluk ghaib tanpa wujud nyata, ya percuma. Ide-ide brilliant yang dikaruniakan Tuhan akan menjadi sia-sia saja.

Jadi, ayo menulis kawan. Sekarang. Tidak nanti atau esok.

 

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Perempuan Cantik Itu, Ngomelnya Beda (Ternyata Ini Rahasianya)"

  1. Linda Cheang  8 May, 2017 at 14:46

    kenapa WA grupnya nggak pasang mode senyap saja?

  2. Lani  4 May, 2017 at 10:16

    Al: yang Kona memilih jd silent reader aja sekarang………..hahaha

  3. Alvina VB  4 May, 2017 at 04:14

    Nungguin yg di Kona nulis lagi…..

  4. Alvina VB  4 May, 2017 at 04:14

    Menulis sich menurut panggilan hati bu…….mau diomelin gimanapun juga kl gak tergerak utk nulis ya gak bisa/gak mau, coba itu omelin di James aja bu….spy mau nulis, he..he….kaburrrrrr dulu…..

  5. Handoko Widagdo  3 May, 2017 at 08:16

    Wah Bu Istiqomah menulis juga di sini. Senang rasanya bertemu di rumah Baltyra. Ayo teruslah menulis di rumah ini Bu.

  6. Dj. 813  2 May, 2017 at 23:34

    Yuuuup . . .
    Setuju . . .

  7. James  2 May, 2017 at 10:41

    1….menulis sedikit :…..hadiiiirr

    sembari menunggu Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *