Tetap Bangga Jadi Warga Indonesia

Wiwit Sri Arianti

 

Alhamdulillah…akhirnya aku bisa datang ke Papua setelah kutorehkan keinginan ini ke dalam daftar mimpi yang akan kuraih. Aku sangat percaya kalau kita boleh mimpi setinggi langit dan tentang apa saja, tuliskan mimpimu ke dalam daftar mimpi, kemudian berusaha keras untuk meraihnya dan berdoa sungguh-sungguh, Insha Allah mimpimu akan menjadi nyata.

Sebetulnya tujuh tahun yang lalu aku sudah hampir berangkat ke Papua untuk satu pekerjaan evaluasi proyek, namun gagal karena tiba-tiba harus mengurus ananda tercinta yang sedang sakit. “Tidak apa-apa, Insha Allah suatu saat dapat kesempatan lagi”, itu kata hatiku untuk menghibur diri. Dan benar, kesempatan itu sudah datang, burung besi yang bernama Garuda telah membawaku terbang menuju tanah Papua yang sudah lama kuimpikan. Sore ini, tepat jam 13.45 WIT burung besi ini mendarat dengan mulus di Bandara Sentani dengan iringan rintik hujan yang semakin deras, dalam hati kuberkata “Trimakasih ya Allah…semoga hujan ini berkah dan menjadi pertanda kebaikan untukku dan setiap orang yang hadir dan tinggal di Papua”. Aamiin….

Sepertinya aku memang sudah dicatat bahwa suatu hari nanti akan datang ke Papua, setelah kuingat-ingat lagi, ketika aku lulus dari Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial (SMPS) Tarakanita Yogyakarta pada tahun 1982, aku sempat mengikuti tes Pegawai Negeri Sipil (PNS)  dan alhamdulillah lulus dengan penempatan di Irian Barat.

Namun ternyata kelulusan tes ini justru menimbulkan masalah baru karena menurut orang tua khususnya Ibu, kondisi Papua, yang saat itu masih dikenal dengan nama Irian Barat belum kondusif untuk seorang perempuan muda dari Jawa sepertiku, datang seorang diri dan berkarya di Irian Barat. Aku sangat mempercayai bahwa restu Ibu itu ibarat restu Allah, maka ketika Ibu tidak merestuiku untuk pergi ke Irian Barat, dengan otomatis keinginanku untuk datang ke Irian Barat kubatalkan. Tapi hari ini, ketika aku melintas di langit Papua, mendarat di bandara Sentasi dan menyusuri jalanan menuju kota Jayapura, aku terkagum-kagum akan keelokan alam Papua.

Pagi ini di sela-sela kegiatanku di Papua, aku memperoleh kesempatan untuk mengunjungi perbatasan Papua dengan Papua New Guinea (PNG). Perjalanan kami lakukan berempat, aku, suamiku dan dua orang teman suami dengan berkendara melintasi desa, hutan, tebing curam, dan pemukiman penduduk transmigran.

Plat nomor mobilnya beda ya


Setelah melalui perjalanan selama 90 menit dengan suguhan panorama yang sangat indah, sampailah kami di Wutung gerbang perbatasan Papua dengan Papua New Guinea (PNG).

Lihatlah gerbang perbatasan Republik ini, megah dan indah membuatku makin bangga jadi warga negara Republik tercinta. Sebelum memasuki gerbang, kami istirahat sejenak di depan dan mengabadikan momen ini bahwa kami pernah sampai di perbatasan. Waduh pak Firman kok memakai kaos Jokowi, kita datang ke sini bukan untuk kampanye lho pak, hehehe….

Di depan gerbang perbatasan, kita akan melewati tempat karantina pertanian dan hewan, jadi kalau kita membawa tanaman atau hewan harus melalui proses pemeriksaan dan karantina di sini sebelum kita bawa pulang atau mereka bawa ke PNG.

Menara pengaman ini proses pengecatan ulangnya dikerjakan oleh tenaga buruh bangunan yang didatangkan dari Jawa, beberapa sempat kutemui dan ngobrol ternyata mereka berasal dari Tulungagung, Jawa Timur.

Megahnya gedung perbatasan ini dengan latar belakang keindahan alam Papua seperti ingin menegaskan tegaknya Republik tercinta untuk menjaga wilayah dan keamanan warganya.

Ini Master Plan Terpadu SKOUW, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Kalau dilihat dari master plan-nya, bangunan yang sekarang ada ini belum selesai dibangun seluruhnya. Bahkan pemeriksaan mereka yang akan masuk ke PNG juga belum berfungsi, sehingga belum ada penjaganya. Namun untuk pemeriksaan mereka yang akan memasuki wilayah Indonesia (Papua), sudah berfungsi dan siap dengan petugasnya.

Pos lintas batas negara terpadu ini keren dan membanggakan, jadinya kami terpancing untuk narsis di depannya, hi hi….

Papan ini berada di pagar pembatas antara wilayah otorita Republik Indonesia di Papua dengan negara Papua New Guinea. Di Papua terkenal dengan istilah “pemalangan” termasuk palang/pagar yang terkunci rapat ini menurut informasinya karena proses negosiasi belum selesai sehingga bagi warga Indonesia yang akan masuk ke PNG, termasuk kami berempat harus melalui pintu lain dan memutari pos.

Inilah pintu gerbang menuju ke PNG dan ke Republik Indonesia, beda banget ya, betapa megah dan kokohnya pintu gerbang menuju negeri kita tercinta. Setelah masuk ke wilayah PNG, kami disambut oleh deretan pedagang cinderamata berupa kaos, topi, tas, sabuk, dompet, dan pernak pernik yang “berbau” PNG namun kami tidak membeli karena bahannya bukan dari bahan katun yang bagus. Selain itu juga ada deretan penjual makanan dan minuman khas PNG, menurut Pak Firman yang datang bersama kami dan sebelumnya sudah pernah berkunjung, yang paling enak itu steak domba dan fanta nanas. Sayang sekali kami tidak sempat menikmati karena proses membakarnya lama dan banyak pembeli, pasti lama ngantrinya dan sayang juga kami lupa motret :-(

Ketika akan pulang, pemandangan di bawah ini terus terbayang, tong sampah yang sudah kelebihan beban, tumpah dan nampaknya sudah beberapa hari tidak ada petugas yang membersihkan. Aku jadi ingat pak pemulung yang rutin datang ke rumah untuk mengambil karton, kertas, dan botol-botol plastik bekas yang selalu kami kumpulkan di kantong bekas makanan kucing. Wajahnya selalu ceria dengan ucapan trimakasih yang tulus dengan suara riang. Andai saja sampah itu ada di dekat rumahku pasti botolnya akan langsung bersih oleh pemulung. Kulihat di beberapa lokasi yang kudatangi sepertinya botol plastik tidak menarik minat pemulung, apa karena belum ada pabrik pengolah plastik ya? Wah…peluang bagus nih untuk daur ulang sampah.

Setelah keluar dari lokasi PNG kami melewati papan ucapan trimakasih untuk kunjungan ini seperti yang ada dalam foto belakang kami. Dan kamipun kembali ke wilayah Republik Indonesia tercinta, foto lagi berdua di pinggir taman hihi….narsis teruuusss…..

Demikian teman-teman…oleh-oleh dari kunjungan ke perbatasan. Besuk kemana lagi nih? Tunggu ya untuk catatan perjalanan berikutnya, hehehe….

 

Jayapura, 19 April ‘17

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

16 Comments to "Tetap Bangga Jadi Warga Indonesia"

  1. Wiwit  7 May, 2017 at 00:17

    Trimakasih Mas Handoko…semoga bisa segera sampai disana mas

  2. Wiwit  7 May, 2017 at 00:16

    Trimakasih hadirnya Pak James…

  3. Wiwit  7 May, 2017 at 00:15

    Hehe…trimakasih mbak Tami, senangnya kalau tulisan ini bermanfaat

  4. Wiwit  7 May, 2017 at 00:13

    Trimakasih Bu Lani…iya tuh sampahnya sangat mengganggu, gak tahu tuh kenapa gak diberesin

  5. Alvina VB  4 May, 2017 at 22:54

    Wah…perjalanan yg menarik mbak Wiwit, gak semua org punya kesempatan utk ke sana; terima kasih sudah sharing di sini.

  6. Sumonggo  4 May, 2017 at 13:38

    Menunggu cerita menempuh Trans Papua … ha ha …..

  7. Handoko Widagdo  4 May, 2017 at 11:17

    Luar biasa, saya malah belum pernah sampai ke perbatasan PNG ini.

  8. James  4 May, 2017 at 10:37

    hadir dibelakang Kona

  9. Ag. sarwi Utami  4 May, 2017 at 10:31

    Luar biasaaaaa . . . .meski hanya melihat, membaca tulisan yg sangat jelas tuk bisa dinikmati. Saya larutttt serasa ada lm perjalanan dik Wit hahaaa

  10. Lani  4 May, 2017 at 10:13

    Semuanya indah hanya terganggu dgn sampah yg mangkrak…….kenapa tdk dibersihkan?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *