Laskar dan Mennonite

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Laskar dan Mennonite – Perjumpaan Islam-Kristen untuk Perdamaian di Indonesia

Penulis: Agus Suyanto dan Paulus Hartono

Tahun Terbit: 2016

Penerbit: BPK Gunung Mulia

Tebal: xviii + 108

ISBN: 978-602-231-293-2

 

Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia tidaklah selalu mulus. Terutama perjumpaan antara kelompok-kelompok radikal dari kedua agama tersebut. Namun pengalaman perjumpaan Laskar Hiszbullah dan kelompok Mennonite di Kota Solo ini memberi pengalaman lain. Meski keduanya adalah kelompok radikal, namun mereka bisa begandeng tangan dalam menangani bencana dan kemiskinan. Mereka bekerja bergandeng tangan dalam mengatasi bencana di Aceh, di Padang dan di Jogja. Bahkan mereka pun bisa duduk bersama dalam sebuah pelatihan dan berdialog tentang teologi.

Kerinduan akan kedamaian diserukan oleh semua pihak. Bahkan pihak-pihak paling radikal sekalipun menghendaki kedamaian. Namun kerinduan akan kedamaian tersebut sering kali sangat sulit untuk diwujudkan. Sebab “kebenaran” sering kali lebih utama daripada upaya untuk mencapai damai. Boleh damai asal sesuai dengan “kebenaran” yang saya yakini. Jika tidak, maka mereka adalah musuh yang wajib diperangi.

Upaya-upaya untuk mendialogkan kebenaran antaragama telah berumur ratusan tahun. Namun dialog antar agama sering hanya terjadi di antara tokoh-tokohnya dan tidak menyentuh akar rumput para penganutnya. Dialog diadakan di tempat-tempat formal dengan setting pertemuan formal, sehingga semua pihak yang terlibat sudah siap untuk mendengar argumen lawan dengan penuh kesantunan. Dialog antaragama yang tidak melibatkan umat yang berada di akar rumput ini menghasilkan kesimpulan-kesimpulan damai yang semu. Jabat tangan dan senyum setelah dialog sering terpampang dalam media. Namun ketegangan, bahkan kerusuhan tetap saja terjadi di lapangan.

Laskar Hizbullah, atau lebih dikenal dengan Corps Hizbullah “Batalyon 99 Divisi Sunan Bonang” didirikan (kembali) pada tahun 1999 oleh Yanni Rusmanto. Hizbullah berarti “tentara Allah”. Motto Laskar Hizbullah, seperti yang tercantum dalam kop suratnya adalah “Hari ini saya (kami) mengabdi karena Allah SWT semata (hidup mulia atau mati syahid)” (hal. 32). Anggota Laskar Hizbullah yang berasal dari berbagai lapisan ini, selain mendapatkan pendidikan agama, juga mendapatkan pelatihan ala militer. Mereka aktif melaporkan berbagai persoalan yang terjadi di sekitar mereka kepada aparat keamanan. Namun jika aparat keamanan lambat merespon atau dipandang tidak mampu mengatasi permasalahan, maka mereka akan melakukan aksi (hal. 34). Laskar Hizbullah mengirimkan anggotanya untuk ikut berperang di Maluku demi mempertahankan NKRI. Laskar Hizbullah melakukan sweeping orang Amerika di hotel-hotel di Solo saat terjadi perang Iraq. Laskar Hizbullah menutup beberapa gereja yang tidak memiliki IMB.

Selain memiliki laskar, Laskar Hizbullah juga memiliki kepedulian terhadap kemanusiaan. Mereka memiliki tim SAR yang terlatih (hal 35). Laskar Hizbullah selalu tanggap terhadap para korban bencana. Laskar Hizbullah bekerja sama dengan berbagai pihak membagikan sembako kepada fakir miskin di Solo, menolong korban tsunami di Aceh dan Padang, gempa bumi di Jogja dan berbagai bencana lainnya.

Kelompok Menninite adalah dari gerakan Anababtis. Gerakan Anababtis yang muncul di Eropa pada abad 16 adalah sebuah gerakan orang Kristen yang memisahkan diri dari agama negara. Kelompok ini menolak untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kekerasan (hal. 11). Karena aliran ini dianggap sesat, maka banyak dari kelompok yang dipimpin oleh Menno Simons dibunuh. Nama Mennonite sendiri adalah berasal dari nama sang tokoh, yaitu Menno Simons. Kelompok Mennonite adalah disebut sebagai kelompok radikal dari aliran Lutheran (Wikipedia). Para pengikut Mennonite sangat menjunjung tinggi kehidupan berstandar etika Kristen, khususnya ajaran-ajaran dari Khotbah di Bukit. Mereka sangat lemah lembut, anti perang dan hidup jujur. Di Indonesia kelompok Mennonite diantaranya terwadahi dalam Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI).

Sebagai lazimnya gereja-gereja, kelompok Mennonite juga memiliki kepedulian kepada sesama. Kepedulian kepada sesama ini diwujudkan dalam aksi diakonia. Untuk pelayanan diakonia, GKMI mendirikan Mennonite Diakonia Service (MDS). MDS adalah wadah untuk mengambil bagian dalam Amanat Agung serta mengarahkan gereja ke dalam pelayanan menghadapi tantangan dan kesulitan yang riil di tengah masyarakat (hal. 24).

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa baik Laskar Hizbullah maupun Mennonite adalah kelompok radikan dari agamanya masing-masing. Di saat yang sama kedua organisasi keagamaan ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Melalui titik singgung persamaan inilah kedua organisasi ini kemudian bekerjasama membantu berbagai pihak yang menjadi korban bencana alam dan kemiskinan. Perjumpaan dalam aksi sosial ini kemudian menjadi sarana untuk mereka berdialog dan bekerja sama dalam mewujudkan kedamaian di Kota Solo.

Apakah prosesnya mudah? Tentu saja tidak. Sikap saling curiga dari kedua kelompok sangat tinggi di awal perjumpaan mereka. Namun kegigihan Pendeta Paulus Hartono untuk menjumpai Yanni Rusmato adalah kunci dari kerjasama untuk menciptakan perdamaian. Pengalaman saling membantu dalam urusan radio swasta di Solo dan kemudian aksi-aksi sosial di berbagai bencana di tanah air telah membuat komunikasi di antara mereka terbuka. Dialog menjadi lebih intensif terjadi saat diadakan pelatihan resolusi konflik (hal. 55). Di sinilah klarifikasi terhadap stigma yang sudah tertanam di masing-masing kelompok bisa diurai.

Kerjasama untuk mewujudkan kedamaian bukan berarti mereduksi keyakinan. Laskar Hizbullah tetap pada keyakinannya untuk tidak memberi ucapan selamat pada saat Natal kepada orang Kristen. Sebab bagi Laskar Hizbullah memberi ucapan selamat natal berarti mengakui Kristus sebagai Mesias dunia (hal. 73). Sementara kelompok Mennonite tetap menganggap bahwa menolong sesama dan menciptakan perdamaian adalah bentuk dari pelaksanaan Amanat Agung Yesus Kristus. Hal semacam ini tidak menjadi halangan bagi kedua kelompok untuk tetap bekerja sama menolong sesama yang sedang mengalami kesusahan. Pemahaman akan keyakinan yang dianut oleh pihak lain dan kejujuran akan motif kerjasama adalah kunci dalam bekerjasama antaragama. Nilai-nilai kesetaraan, kejujuran, hospitalitas, saling pengertian dan klarifikasi adalah nilai-nilai yang harus dianut dalam dialog antaragama yang berhasil (hal. 86).

Contoh kerjasama antara Laskar Hizbullah dan Mennonite, antar kelompok radikal di Kota Solo yang bersumbu pendek dan sering meledak adalah sebuah contoh yang fenomenal. Kerja sama mereka telah membuktikan bahwa kelompok radikal bisa menciptakan perdamaian dan menolong sesama yang menjadi korban bencana. Kerja sama mereka tak sebatas pada dialog formal di ruang-ruang hotel berbintang. Kerja sama mereka tidak hanya dilakukan oleh para tokoh-tokohnya, melainkan melibatkan kelompok akar rumput pengikutnya. Contoh ini bisa menjadi benih dalam mengembangkan kerja sama antaragama di negeri yang berbhineka.

Persahabatan sejati itu adalah kalau teman Anda berucap “Anda mungkin adalah seorang kafir, tetapi Anda adalah seorang kafir yang baik hatinya. Tetapi tetap kafir…hehe..” dan Anda tetap menjabat tangan mereka dan mau bekerja sama dengan mereka karena mereka adalah sesama manusia yang berperan penting dalam menciptakan perdamaian. Beda keyakinan bukan berarti harus bermusuhan dan tak bisa menjadi sahabat dalam menciptakan perdamaian.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

6 Comments to "Laskar dan Mennonite"

  1. Handoko Widagdo  12 May, 2017 at 09:13

    Swan Lion Bie, radikal yang dipakai dalam buku ini adalah sangat patuh mengikuti ajaran. Jadi bukan radikal dalam arti menyerang pihak lain. Memang berbeda dalam sikap antara Mennonite dengan Hizbullah. Mennonite radikal dalam mengasihi sesama sementara Hizbullah radikal dalam menegakkan ajaran.

    Saya tidak tahu pasti apakah Hizbullah itu masuk Shiah atau Sunni. Tetapi sepertinya mereka masuk golongan Sunni dan berpaham Wahabi.

  2. Swan Liong Be  11 May, 2017 at 16:30

    KIalo dikatakan kelompok Hisbullah dan Mennonit radikal itu gak begitu benar, radikal ya karena beda dengan jalan pikiran mainstream, tapi cara bertindaknya beda jauh seperti uraian disini. Kelompok Mennonitg boleh dibilang “mengadingkan diri” tidak mau menerima perubahan teknologi dengan cara mengingkarinya. Kelompok Hisbullah on the other side malah beertindak anarchis. Mana ada kelompok menutup seenak udal gereja karena tidak punya MBI atau sweeping , ya seperti FPI aja. Menurutku kedua group ini tidak bisa disamakan; yang satu tidak mau ikut campur dan yang lain malah kebalikannya, memaksakan kehendaknya dengan kekerasan.
    Btw, Hisbollah di Libanon itu kan aliran Shia(dijerman dibilang Shiit), dukungan besar dari Iran. Di Indonesia termasuk aliran mana Sunit atau Shia?

  3. Handoko Widagdo  10 May, 2017 at 11:31

    James, contoh yang telah dilakukan oleh GKMI Solo ini adalah bentuk kerjasama nyata dalam menanggulangi musuh bersama yaitu kemiskinan dan bencana. Model kerjasama semacam ini justru lebih kongkrit dalam membahas kerukunan beragama daripada melalui sharing persepsi.

  4. Handoko Widagdo  10 May, 2017 at 11:30

    Avy, Mennonite di Indonesia tentu saja berbeda dengan yang di Canada atau yang di US. Mereka normal seperti orang Kristen pada umumnya. Hanya sikap mereka untuk berbuat baik sungguh sangat menonjol. Ini adalah kisah sejak menjelang tsunami di Aceh, gempa bumi di Jogja dan sampai dengan saat ini.

  5. James  10 May, 2017 at 05:50

    Persatuan Agama di Indonesia masih terlampau jauh untuk Bukri Toleransi dalam kenyataan hidup sehari-harinya, masih semu, sebagai bukti nyata saja Perkara Ahok terlihat sekali Radikal menguasai Indonesia, kapan Indonesia maju? Demokrasi? Hanya impian saja

  6. Alvina VB  9 May, 2017 at 23:27

    Han, ini sangat menarik kl beneran hidup di lingkungan spt ini. Btw, ini kejadian thn berapa ya?
    Kl di sini kedua kelompok tsb (Hisbullah dan Mennonite) tidak diterima mainstream agama Islam dan Kristen.
    Kelompok Hisbullah di Canada dianggap teroris dan sudah tidak diakui keberadaannya di sini. Mennonite lebih dianggap Old fashioned community bukan spt kebanyakan Kristen yg hidup di dunia modern, krn mennonite tidak mengakui technology yg ada, mereka masih hidup spt di abad pertengahan, tanpa listrik jadi gak ada TV/komputer/kompor listrik di rumah mereka, dan tanpa transportasi modern, mereka masih pake kuda dan buggy keman-mana dan biasanya mereka pake baju juga tidak berwarna, hitam2 atau putih2 sesuai dengan komunitasnya, spt Amish yg merupakan pecahan dari Mennonite. Mennonite di sini macem2, krn keturunan mereka ada yg datang dari Eropa (kebanyakan dari German/Belanda), US (Pennsylvania) atau Mexico, belakangan dari Asia. Mereka kebanyakan punya anak banyak dan berpolgami krn gak percaya sama birth control, org hidup kaya jaman duluuuuu. Mereka hidup terpisah dari masyarakat biasa dan anak2nya juga ke sekolahan khusus tidak campur dengan sekolahan biasa di sini.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *