Jogja (Nyaris) Rusuh

Andi Setiono Mangoenprasodjo

 

Saya terpaksa harus menulis dengan penuh kemarahan, agak di luar kebiasaan saya untuk selalu menahan diri dan berpikiran dingin. Syukur-syukur bisa menyalurkan energi dan aura positif untuk orang lain. Hingga malam ini, ketika saya hadir dalam semacam unjuk keprihatinan untuk Ahok di perempatan Tugu Jogja. Acara Justice for Ahok – Nyalakan Keadilan, ini sebenarnya hanya jawilan antar teman, dan baru beredar di medsos sekira 4 jam sebelumnya. Rupanya berhasil menarik hadirnya ribuan orang. Menjadi sangat sesak untuk area Tugu yang tak terlalu luas itu. Acara spontanitas ini, dimulai nyaris tepat jam 7 malam sesuai rencana.

Belum lagi acara berlangsung 15 menit, baru menyanyikan dua lagu kebangsaan dan wajib. Baru mau mulai menyalakan lilin, lalu tiba-tiba sekelompok massa yang tak terduga (tapi rupanya telah siap sejak mula). Menyerang dan membabi buta, berteriak-teriak minta acara dibubarkan. Kelompok intoleran ini merangsek sedemikian kasar, sehingga ibu-ibu dan orang tua yang hadir ketakutan. Lalu mulailah Polisi bergerak, hingga akhirnya terpaksa melepaskan 3-4 kali tembakan ke udara. Situasi sempat kacau sesaat, hingga sekitar 20 pengacau itu dibekuk dan dimasukkan ke truk dalmas dan sebagian lari kocar-kacir (rupanya memanggil bantuan). Chaos itu hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat polisi membubarkan acara kemanusiaan ini.

Ketika situasi mulai terkendali, tanpa dinyana segerombolan teman-teman kelompok intoleran ini muncul lagi. Mereka berteriak-teriak menantang, tapi segera berhasil digiring menjauh oleh sekelompok polisi bersenjata lengkap. Para simpatisan acara yang terdiri dari berbagai suku dan etnis, ini mencoba tetap bertahan. Tapi memenuhi saran pihak kepolisian untuk mulai membubarkan diri. Acara gagal total, tapi menyisakan suatu sikap yang nyaris sama: kita harus mulai berani melawan! Melawan penguasaan Jogja dari para preman bayaran, yang selalu mengatasnakan agama. Mereka ini tidak sekedar intoleran, tetapi sekaligus biadab dan tak memiliki martabat! Saya harus mengumpat mereka memang bajingan!

Catat: kami tidak takut!

 

Note Redaksi:

Andi Setiono Mangoenprasodjo, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA.com; semoga betah dan kerasan ya. Ditunggu tulisan-tulisan lainnya. Terima kasih Ulin sudah mengajak Andi Setiono.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

9 Comments to "Jogja (Nyaris) Rusuh"

  1. Alvina VB  15 May, 2017 at 10:47

    Selamat gabung di rumah ini mas Andi. Jangan takut di sini gak ada simpatisan FPI, he…he….Kl ada juga ditendang ke luar sama lurahnya, he…he…. Kita di sini cinta DAMAI.
    Saya rasa sepanjang para politikus (yg masih duduk atau udah pensiun masih dukung keberadaan FPI, ya gak akan bisa dibubarkan, masih jauh panggang dari pada api). Lah politikus tsb pake FPI utk kepentingan politik mereka sendiri. Mereka mana mikir, sebetulnya mereka merusak citra agama dan negaranya sendiri dengan perbuatannya. Mbok ya para pemimpin Indonesia yg bener dan jujur jangan ‘sungkan dan takut’ sama para politikus di belakang para kaum radikal ini.

  2. James  13 May, 2017 at 08:10

    Warga Semarang juga Meneriakkan Bubarkan HTI dan FPI sewaktu acara 1000 Lilin

  3. James  13 May, 2017 at 07:59

    Indonesia sedang meghadapi Sorotan Tajam Dunia dalam hal ini Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, MALAYSIA, BRUNEI, Uni Eropah dan PBB sekalipun ditambah Negara Lain juga, kelihatannya Jokowi akan bertindak Keras dengan pertamanya MemBubarkan HTI dan akan menyusul FPI serta ormas lainnya yang merongrong Negara, Demokrasi dan Toleransi Indonesia akan dimulai dari awal lagi, semoga saja Internasional dapat percaya kembali, semoga…..

  4. Dj. 813  13 May, 2017 at 01:14

    Jogya yang terkenal kota seni, kota orang yang penuh persahabatan .
    Jangan mau diadu domba oleh manusia yang tidak bertanggung jawab .
    Salam damai dari Mainz .
    I Love Jogya . . . .

  5. Lani  12 May, 2017 at 23:44

    James: kamu benar……….klu negeri ini dirusak siapapun itu latar belakangnya dan dibiarkan saja apa kata DUNIA???

  6. Lani  12 May, 2017 at 23:43

    Hand: aku setuju kekerasan tdk harus dilawan kekerasan……….tp yg penting hrs dilawan dan melawan………..

    Karena selama ini yg digembar gemborkan “ini negara Hukum” mana buktinya??????

    Yang adil itu dimananya?

  7. Lani  12 May, 2017 at 23:41

    Selamat datang bergabung dirumah ini dan salam kenal pak/mas Andi.

    Saya sgt tertarik dan fokus pd kalimat diartikel ini “Acara gagal total, tapi menyisakan suatu sikap yang nyaris sama: kita harus mulai berani melawan!”

    Nampaknya utk saat ini Silent is golden atau sing waras ngalah sdh hrs dihapus! Sekali lagi dihapuskan………..kita orang2 hrs berani utk melawan ketidak adilan, kerakusan, keserakahan, intolerani yg terjadi dan marak di negeri………..ini hrs STOP!

    Jgn dibiarkan NKRI di obrak-abrik oleh ormas, oknum, apapun itu namanya………

    Indonesia bukan negara agama, jangan campur adukkan agama dan pemerintah……

    Indonesia hrs tegak berdasarkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, jgn hanya sekedar jargon dan dihafal diluar kepala HARUS dipraktekkan………

    Hidup NKRI!

  8. James  12 May, 2017 at 11:51

    Kelompok Intoleran ini memang aslinya Preman Biadab berkedok Islam, tapi sayangnya Pemerintah hingga hari ini belum berani Bertindak Tegas apalagi mendekati Pemilu 2019, apakah akan terjadi Makar terlebih dulu sebelum Pemilu ? siapa yang tahu ? Indonesia akan semakin Amburadul terlebih sorotan mata Internasional dari Negara-Negara lain juga termasuk PBB sedang Menyoroti Indonesia dalam hal Demokrasi dan Toleransi

  9. Handoko Widagdo  12 May, 2017 at 10:59

    Kita harus melawan tanpa kekerasan. Sebab kalau kita ikut main keras, itulah yang diharapkan oleh mereka. Kita (saya termasuk di dalamnya) adalah kelompok yang anti kekerasan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *