Remah-remah dari Film Kartini

Osa Kurniawan Ilham

 

Tiga hari setelah Kartini menerima pinangan Raden Adipati Djojodiningrat, ironisnya proposal beasiswa belajar di negeri Belanda-nya dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Tetapi ia tidak mungkin lagi untuk pergi jauh belajar di Belanda.

Pada saat itu, di Hindia Belanda santer terdengar ada seorang pemuda jenius dari Sumatera Barat. Nilai kelulusannya dari HBS Jakarta adalah nilai tertinggi di seluruh Hindia Belanda. Dia juga ingin pergi belajar di Belanda, tetapi semua upayanya untuk mendapatkan beasiswa ditolak oleh pemerintah.

Kartini mendengar hal itu dan berusaha keras supaya beasiswanya bisa dialihkan ke pemuda jenius bernama Agoes Salim tersebut.

Dia menulis surat kepada Ny. Rosa Abendanon. Suaminya adalah Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda. Isinya seperti berikut:

“……Saya punya suatu permohonan yang penting sekali untuk nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditunjukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya? Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!

Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150.-sebulan. Jika dikehendaki, rasanya mau dia bekerja sebagai kelasi di kapal, asal saja dia berlayar ke Negeri Belanda.

Tanyakan kepada Hasyim tentang anak muda itu. Hasyim kenal dia; pernah mendengar anak muda itu berbicara di Stovia. Nampaknya dia itu seorang pemuda yang hebat yang pantas diberi bantuan. Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan yang tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya.Teringat kami pada SK gubernemen tertanggal 17 Juni 1903. SK yang begitu didambakan sebelumnya tapi kemudian, ketika kami terima, dipandang dengan rasa pilu yang menyayat hati.

Apakah hasil usaha sahabat-sahabat mulia, buah harapan dan doa kami akan hilang lenyap saja,tak terpakai? Apakah tak mungkin orang lain menikmati manfaatnya? gubernemen menyediakan untuk kami berdua sejumlah uang sebesar 4800 gulden guna penyelesaian pendidikan kami. Apakah tidak bisa uang itu dipindahkan kepada orang lain yang juga perlu dibantu, mungkin lebih banyak kepentingan daripada kami! Alangkah indahnya andai pemerintah bersedia membiayai seluruh pendidikannya yang berjumlah kira-kira 8000 gulen. Bila tak mungkin, kami akan berterima kasih, seandainya Salim dapat menerima jumlah 4800 gulen yang disediakan untuk kami itu. Untuk sisa kurangnya kami dapat meminta bantuan orang lain…….”

Sayang, Agoes Salim salah paham. Ia merasa terhina apabila pemerintah Hindia Belanda memberikannya beasiswa karena surat dari Kartini tersebut.

“….Kalau pemerintah memberikan beasiswa kepada saya semata-mata karena anjuran Kartini dan bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak usah !” jawab Agoes Salim.

Ia menolak tawaran beasiswa tersebut. Sejak itu pemuda yang menguasai 9 bahasa asing itu menetapkan hati untuk tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah Belanda. baik dia sendiri maupun semua keturunannya.

Delapan anak-anaknya tidak ada yang mengenyam pendidikan sekolah Hindia Belanda. Semuanya dia didik sendiri di rumah….

 

Sumber: Seratus Tahun Haji Agus Salim, Penerbit Sinar Harapan, 1996

 

 

5 Comments to "Remah-remah dari Film Kartini"

  1. Alvina VB  15 May, 2017 at 10:50

    Agoes Salim bukan salah paham, ttp pride nya kegedean, he..he….

  2. James  13 May, 2017 at 08:06

    mbak Lani, wuih Lambretta juga pernah menyaingi Vespa loh ditahun 60-70 an meski kalah tahan bantingnya, rupanya mas DJ masih ingat sewaktu di Bandung dulu tuh

  3. Dj. 813  13 May, 2017 at 01:22

    Nah ini saingan nya mas Iwan . . .
    Dj. nyerah kalau soal sejarah . . .
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

  4. Lani  12 May, 2017 at 23:48

    James aku hadir………pesawatnya lelet lambreta………hikkkkkkkks

  5. James  12 May, 2017 at 11:59

    salah satu ulasan sejarah Indonesia

    waiting for the Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *