Ajaran Baik

Dian Nugraheni

 

Keluarga, selalu memperkenalkan ajaran yang baik-baik, ya. Dalam memperkenalkan ajaran-ajaran baik itu, sering kali juga dengan menggunakan daya paksa, dari pihak orang tua, ke anak-anaknya.

Ya banyak banget, ajaran-ajaran baik itu, dan kadang “susah dilakukan.”

Misalnya gini, dulu pas mau menikah, aku dan calon suami sudah bekerja di Jakarta, artinya ga banyak waktu luang dong, kecuali hari Minggu. Sabtu pun masih kerja setengah hari.

Tapi pas mau nikah itu, keluargaku (bukan Bapak Ibuku, karena keduanya sudah meninggal sebelom aku menikah), menekan, menyuruh dengan sangat, bahwa aku harus nyekar (ziarah) ke makam-makam Ibu Bapak, dan juga pini sepuh yang jumlahnya banyak, yang makamnya tentu saja nggak ada di satu kota saja. Intinya, ziarah, memberi tahu, pamit, bahwa aku akan menikah.

Juga pada sesepuh keluarga yang masih hidup, aku diwajibkan untuk mendatangi satu per satu, sungkem, mohon restu, bahwa aku akan menikah.

Pernah aku sedikit menyerah, kehabisan waktu, dan bilang, “Aku nggak sempat nyekar di makam X, dan nggak sempat datang ke rumah Y…”

Tentu saja, tanggapan keluargaku, adalah sinis. “Jalan-jalan ke mana-mana aja sempat, nyekar dan datang ke rumah orang tua, nggak sempat..”

Bla..bla..bla…Sekarang dunia serba praktis, dunia tersambung oleh internet, dari teksting, telponan, facetime, dan lain-lain…semua dapet dengan mudah.

Beberapa sepupu menikah, dan jelas mereka bisa menghubungi saudara-saudara lewat dunia maya, sekedar ngabari, “Saya mau nikah…”

Tapi tak satu pun dari mereka, sepupu-sepupu, yang dulu orang tuanya selalu memberikan ajaran baik, bahkan menekan-nekan aku untuk melaksanakan ajaran baik itu, menghubungi aku, apalagi minta doa restu…hixixixi…

Ada beberapa kemungkinan, bahwa sepupu-sepupuku yang usianya jauuuh lebih muda dari aku itu, nggak sempat menyerap ajaran baik yang diberikan oleh orang tuanya. Atau orang tuanya lalai, nggak kasih ajaran baik itu ke anak-anaknya sendiri.

Atau, aku memang nggak dianggep, “siapa loe..?” Ha…ha….

Ya udah, gapapa, mungkin juga guenya yang terlalu keras dengan hal-hal yang berbau ajaran baik. Ajaran baik itu bukan cuma bikin kita bisa berbuat baik, tapi lebih dari itu, apa yang kita bikin, akan membuat orang lain merasa nyaman.

Ajaran-ajaran baik yang aku dapat dari para tetua dulu, sampai hari ini masih aku dengung-dengungkan ke anak-anakku, sekalian dikasih contoh, lha wong memang ada contoh kasusnya. Salah satu ajaran baik yang aku wanti-wanti, “Kalau kalian suatu hari akan menikah, hubungi sebanyak mungkin saudara, meski cuma lewat message atau telpon, memberi tau, dan mohon doa restu…, itu juga sebagai cerminan adab kesopanan…”

Perkara doa mereka yang dimintain doa restu itu nanti makbul atau enggak, ya embuh…hanya Gusti Allah yang wenang mengijinkan. Tapi, whatever, semua hal baik itu ya memang harus tetap diberikan dan diajarkan sejak dini…

 

 

8 Comments to "Ajaran Baik"

  1. Lani  29 May, 2017 at 11:37

    SLB: hah? Benar? Ini terjadi dimana? Undangan pernikahan mencantumkan yg mengundang termasuk yg sdh meninggal hiiiiiiiiih ngeriiiiiiiiii……….

  2. Wiwit  29 May, 2017 at 09:51

    Nyekar ke leluhur sebelum menikah itu sepertinya ajaran yang umum dilakukan, dulu waktu aku mau menikah juga disuruh nyekar ke leluhur dan aku lakukan karena kebetulan punya waktu.

  3. Swan Liong Be  28 May, 2017 at 18:39

    Ah, aku dulu waktu menikah ya gak minta doa restu barang. Mau nikah ya nikah gak usah restu²an, apalagi sama mereka yang sudah tidak ada; hanya kasi tau sanak keluarga. Aku sering tertawa kalo baca undangan pernikahan, a.l. yang sudah mmeninggal ikut mengundang. Sorry ya, tapi ini sudah keterlaluan!

  4. Alvina VB  28 May, 2017 at 07:22

    Setuju sama mbakyu Lani, kl mau minta doa atau restu ya sama org2 yg masih hidup aza, org yg dah almarhum mah udah hidup di dunia lain, mana bisa kasih restu lagi, salah2 yg denger malah roh2 lain di sekitar kuburan yg malah bukan kasih restu, kasih yg lainnya. Sama halnya kl kita doain org yg masih hidup jauhhhhh lebih berarti dari pada doain org yg sudah mati, apa dayanya kita, apakah bisa merubah kuasa Tuhan dari nekara bisa masuk surga? Logisnya aja selama mereka hidup, perbuatan mereka itulah pahalanya mereka, gak pengaruh kita mau doa siang dan malam, gak akan merubah nasib mereka yg sudah mati, krn kan mereka dah selesai masa hidupnya, mana bisa dirubah lagi? Semisalnya mereka hidup dlm dosa, apa kita2 yg hidup bisa menebus dosa mereka dengan doa2 kita? Lebih baik org yg masih hidup yg didoakan krn mereka masih nafas dan masih bisa berubah. That’s only my two cents.

  5. Alvina VB  28 May, 2017 at 07:17

    James, Kalau jaman sekarang mah gak bisa diukur sikap/perbuatan si anak menggambarkan bagaimana org tua mendidik mereka. Krn kerap kali saya ketemu org tua murid2 di sini, kok sopan dan punya tata krama pas ngadepin anaknya kok beda banget, ternyata ini anak2 yg besar sama nanny, org tua bukan yg didik mereka. Sama halnya dgn anak2 temen saya di Jakarta gak ada yg kaya org tuanya tingkah lakunya krn mereka gede ya sama nannynya, org tuanya cuman org tua weekend doang, he..he….

  6. Lani  27 May, 2017 at 12:46

    Dian: menurutku mengajarkan kebaikan itu sesuatu a must apalagi terutama dlm hal ini berhubungan orang tua mendidik anak2nya.

    Perkara spt contoh yg kamu berikan, mau menikah hrs nyekar kesemua kuburan org tua atau orang2 yg lebih dituakan mungkin ada baiknya, tp menurutku itu bukan satu keharusan, apalagi dipaksakan dlm kasusmu krn keterbatasan waktu dan krn kuburan mrk lokasinya mencar2 hingga kamu tdk punya waktu trs dikomentari yg negative menurutku itu bukan salahmu.

    Aku malah tdk nyekar, gimana mau nyekar? Menikah di America kudu mabur ke Indonesia? Wah oralah mahal diongkos, lagipula menurutku ini pendpt pribadiku lo ya, pamit kok karo wong wis mati?!

    Lebih pas minta ijin/pamit/memberitahu sama orang2 yg msh hidup saja.

    James: jelas dunk mendptkan didikan yg baik……….

  7. James  27 May, 2017 at 09:39

    1…..para Kenthirs dididik dengan baik gak ? dididik Baltyra ?

  8. James  27 May, 2017 at 09:34

    ajaran baik itu sebenarnya terpancar dari Anak, bagaimana sikap perbuatan si Anak akan Menggambarkan bagaimana Orang Tua nya mendidik mereka, kalau baik berarti dididik baik bila kurang baik berarti didikannya kurang baik juga, as simple as that

    ada pengalaman pembelajaran mengenai hal ini, ruang depan rumah sy hancur terkena Demo Rasial di Bandung tahun 1973, esok harinya sewaktu sy beres-beres, ada 2-3 anak lewat dan membantu sy sambil mereka mengatakan, Bapak Tidak Salah mengapa Bapak kena jadi sasaran dan korban, sy hanya jawab yah itulah bagian dari hidup. Padahal sy sangat meng apresisasi kedua orang tuanya mendidik mereka, terharu masih adanya didikan karakter baik dalam dunia kacau ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *