Lakum Dinukum Waliyadin

Wesiati Setyaningsih

 

Ribuan orang penonton sebuah konser panik. Bom meledak. Setelah didata, dua puluhan meninggal, belasan belum jelas. Seorang pembawa bom bunuh diri ditengarai dari organisasi yang mengusung nama agama. Kampung Melayu di Jakarta Timur juga terjadi bom bunuh diri meledak.

Kejadian seperti ini sudah sering terjadi: bom untuk membunuh banyak orang atas nama agama. Belum lagi kerusuhan lain seperti keributan dan banyak ketidaknyamanan karena umat agama ini sedemikian manjanya. Semua orang disuruh menghormati mereka, kalau perlu mengikuti keyakinan mereka.

Jaman sudah maju. Orang akan memilih keyakinan berdasar logika. Bukan rasa takut yang ditebarkan. Sejumlah tindakan tidak menyenangkan bahkan anarki, akan berbuah sebuah penolakan. Orang mulai berpikir, apa yang mereka yakini dalam agama mereka hingga bisa melukai orang lain? Ketika umat agama ini berkilah, ini bukan agamanya yang buruk, tapi manusianya. Orang lain hanya tertawa. Logika dari mana? Pengebom itu bawa-bawa agama. Berarti ada ayat dalam kitabmu yang menyarankan begitu, kata orang-orang. What a religion!

Saya merenung malam-malam. Saya pemeluk agama ini. Sayangnya saya bukan umat yang baik. Tak pernah saya mampu menghapal kitab agama saya sendiri. Karenanya, tak tahu saya di mana kalimat penganjur membunuh itu. Jadi selama ini saya meyakini bahwa Tuhan itu baik. Ibadah itu baik. Tak perlu saya memaksa orang lain mengikuti saya, karena Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda. Satu ayat dari juz amma yang saya hapal sejak kecil, “lakum dinukum waliyadin”. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Kita ngurusin agama masing-masing saja. Selesai.

Demikianlah saya yang bodoh ini memahami agama sendiri. Tenang-tenang beragama tanpa mengusik orang lain. Sholat ya sholat, nggak perlu mengingatkan orang lain untuk sholat. Puasa ya puasa, nggak usah pengumuman, karena begitu orang lain tau saya puasa, keikhlasan saya tidak penuh lagi. Saya yakin ada jatah surga buat saya meski tidak mencari pahala dari mengajak orang lain.

Tentang mereka yang paham kitab lantas menggarisbawahi bahwa penganut keyakinan lain harus menghormati mereka, saya kuatir mereka sedang menggali kubur agama sendiri. Dengan semua keributan dan kerugian yang mereka timbulkan, bukan tak mungkin suatu ketika dunia bersatu melawan agama ini. Lantas mereka sepakat menjadikan agama ini sebagai agama terlarang sedunia. Kalau sudah begitu, saya mesti gimana?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Lakum Dinukum Waliyadin"

  1. Dj. 813  31 May, 2017 at 21:52

    UNTUK MU AGAMA MU . . .
    UNTUK KU AGAMA KU . . . .
    Yuuuup, sangat setuju . . . ! ! !

    Dj. sering umpamakan antara Jahudi , Kristen dan Islam dimata Allah seprti 3 anak-anak Nya .
    Dilhat dari kehidupan sehari-hari, normal kalau anak ragil selalu mencari perhatian dengan caranya .
    Anak pertama sudah jauh lebih tenang , anak kedua harus mengerti kaka dan adiknya dan yang paling
    kecil suka cari perhatian dengan membikin keributan .
    Maklu juga, ditahun 1938 dulu . . . .
    Oraang eropa juga seperti itu, jadi kita yang dewasa harus memaklumi . . .
    Hahahahahahahahahaha . . .
    ! ! !
    Tterimakaksih dan salam manis dari Mainz .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *