Jangan Naik Kereta di Sini

Fire – Yogyakarta

 

Sekitar dua bulan lalu kami berkunjung ke Museum Kereta Kraton. Letaknya di dekat Alun-Alun Utara. Kebetulan waktu itu sedang sepi. Jadi kami bisa parkir di halaman parkir museum. Entah kalo sedang rame, mungkin harus mencari tempat parkir yang agak jauh. Setelah membeli tiket yang cukup murah, termasuk tiket untuk kamera, kami ditemani seorang pemandu yang menjelaskan koleksi museum sambil berkeliling.

Lihat peringatannya, “Dilarang pegang”, jadi bagi yang mau pegang-pegang, silakan pegang pasangan masing-masing … wakakak ….

Nampak meja tiket.

Salah satu kereta yang warnanya agak ngejreng.

Pak Pemandu-nya kalo menjelaskan kenceng banget, jadi belum sempat mencerna sudah beralih ke kereta berikutnya. Saya baru nyampe Jokteng kulon, beliau sudah nyampe Gunungketur.

Boleh nggak ya nggandhul di belakang …

Naik kuda putih pasti nikmat rasanya ….

Meski nampak mengkilat semua, tapi nggak semuanya siap jalan. Saya lupa nanya apakah kereta kraton ada kaca spionnya. Gimana ya cara tukang parkir jaman dulu ngasih aba-aba kalo kereta mau atret …. wakakak ….

“Kenapa kudanya diletakkan di sini?” Tuh, lihat plangnya “Jalur evakuasi”. Jadi biar kalo ada apa-apa bisa segera kabur …. wakakak …

Sekilas penjelasan yang saya tangkap, asal kereta kraton berasal dari buatan Belanda dan Jerman. Tapi pabriknya sendiri sudah nggak ada sekarang di sana. Saya sebenarnya tertarik membayangkan kalo kereta jalan malam, terlihat seperti apa lampunya.

Cuma bisa ngintip, ntar kalo duduk di dalam takutnya ada yang “menemani” … Lha kalok melok terus sampe rumah, kepriben jal? Ongkos mulanginnya berat, nggak cukup pake Gojek …. wakakak…..

Siapa mau nginep sini? Masih longgar tuh ….

Adakah gerangan yang di balik jendela?

Sebenarnya hasil jepretannya cukup banyak, tapi nggak tau, cuman segini yang layak tayang, selebihnya burem, hitam, entah kenapa ….

Ini salah satu kereta termahal, bagian atasnya dari emas.

Sebenarnya ada satu kereta yang penting, yang paling sakral. Tapi kayaknya jepretannya juga nggak jadi. Ya udah, pokoknya yang nampak saja yang bisa tayang.

Kayaknya bagi yang bawa anak-anak juga bakalan suka lihat-lihat kereta di sini. Ini kan bukan hal yang mereka lihat tiap hari. Imajinasinya bisa kemana-mana. Kereta mana ya kira-kira yang dinaiki Cinderella …. wakakak ….

Baiklah teman-teman, ingat aturan yang berlaku di sini. Boleh dilihat. Boleh diambil gambarnya. Tapi jangan dipegang, apalagi dinaiki. Karena kereta di sini nggak ada tiketnya. Kalo mau naik kereta ya ke Lempuyangan atawa ke Tugu, atau naik andhong di Malioboro. Tapi ngomong-ngomong soal andhong kayaknya memang makin sulit mendapati andhong mangkal kalo nggak di malioboro. Dulu di sejumlah pasar saya masih bisa lihat andhong mangkal, sekarang tinggal becak dan bentor. Mungkin perlu ada juga yang bikin aplikasi andhong online, asal radius jemputnya nggak jauh-jauh.

 

 

About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

6 Comments to "Jangan Naik Kereta di Sini"

  1. Dj. 813  31 May, 2017 at 21:42

    Kereta Kencana . . .
    Dulu sekitar 30 tahun yang lalu, pertama ke kota Wien naik kereta selama 20 menit
    hanya sekedar merasakan naik kereta . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !
    Persis seperti kata Alvina, hanya sebagai Tourist .
    Sudah sampai Wien harus naik Kereta, seperti kalau ke Venesia, harus naik Gondol, walau cukup mahal .
    Tapi kenangan nya, seumur hidup .
    Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Salam sejahtera dari Mainz .

  2. Lani  30 May, 2017 at 23:31

    James: wakakakak…………kapok mencium kentut kuda atau pernah kecium pantat kuda??????? hahaha

  3. Alvina VB  30 May, 2017 at 07:28

    Mas Fire, kita masih punya kereta kuda spt itu di sini, ttp biasanya para turis yg naik. Ah…nanti mau coba pas Summer night, he..he…. James, kl naik, ya jangan yg deket kudanya.

  4. James  30 May, 2017 at 06:21

    Ci Lani ogah ikut naik kereta ginian sih, kapok waktu kecil sering dikentutin kudanya

  5. Lani  29 May, 2017 at 11:26

    KANG GENI: aku yakin yg fotonya, gambarnya burem krn mmg ada penunggunya………mungkin sampeyan kudu nyelameti sik sak-durung-e ambil foto…….biar dpt ijin kulonuwun

  6. Lani  29 May, 2017 at 10:18

    Kereta zaman sepur lempung to?

    James: mau ikutan naik-kah?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *