Ironi Hukum di Indonesia

Andi Setiono Mangoenprasodjo

 

Saya selalu bilang, hal paling omong kosong dari pemerintahan Jokowi adalah Revolusi Mental. Bukan salah Jokowi tentu saja, ia berpikir baik dan menyadari “kelemahan dasar” bangsa ini. Apa yang bisa diharapkan dari bangsa yang besar karena “warisan” geografis, kultural, dan mineral. Warisan yang sebenarnya luar biasa, tapi salah kelola sejak dari hari pertama negara ini dimerdekakan. Negara tempat dimana segala eksperimen ideologi asing coba ditumbuhkan dan dikembangkan tanpa henti. Mulai dari sosialisme, marxisme, kapiatalisme, dan bahkan isme agama dengan berbagai macam dalih. Dan hukum yang seharusnya menjadi jembatan dan komandan, sejak awal pula hanya bentuk kompromi antar pihak.

Sejak lama, pengadilan bukan lah tempat untuk mencari keadilan dan lebih berfungsi sebagai tempat untuk memberi hukuman bagi orang orang yang dianggap pantas dihukum. Si “terdakwa” sebenarnya sudah lama terhukum, bahkan sebelum diputus oleh hakim. Dalam pasal karet, apalagi bila menyangkut “kata sakti” subversif atau penistaan (nama baik, agama, kehormatan, atau apapun). Bila hari ini, seorang baik yang sejak awal memang telah difitnah, dilabeli, dan dituduh sebagai apapun yang serba minus, apa yang aneh? Ingat Ahok itu bukan hanya “penista agama”, ia juga korlap kepentingan asing Cina di Indonesia, ia juga presentasi Kristen-isasi, ia juga musuh rakyat kecil, tukang gusur, bermulut kasar, dst dst. Ia sudah dihukum justru atas kerja kerasnya dan sikap bersihnya untuk berniat baik memperbaiki sebuah ibukota yang nyaris bobrok dan remuk.

Ini ironi hukum di Indonesia, ketika nyaris tak ada lagi penjara di Indonesia yang layak dan manusiawi. Setiap sel diisi nyaris lima kali lipat dari kapasitasnya. Seorang sipir harus menjaga 200 orang narapidana. Bahkan para penghuni kerepotan untuk sekedar berganti duduk, berdiri, apalagi tidur. Penjara yang sipirnya tak lebih preman yang fungsinya menjadi collector setoran. Dengan dalih dana yang tak cukup, dimana para terpidana harus menghidupi dirinya sendiri di dalam bui. Penjara yang bukan saja tidak manusiawi, tapi sudah jadi neraka jenis baru, yang setiap saat akan meledak. Meledakkan semua jenis manusia yang terhukum baik karena memang pantas dihukum atau sekedar memenuhi perasaan senang dan puas bagi sebagian yang lain yang ingin menjadi “hakim jalanan”. Dan di sanalah, sekarang Ahok berada!

Kita ini bangsa yang aneh, memiliki tradisi menciptakan “seorang legenda” dengan memenjarakan orang baik. Ahok mustinya gak usah terlalu ambil pusing dan gak sedikit-pun yang perlu diratapi. Ahok akan sejajar dengan Tan Malaka, HOS Tjokroaminoto, Pramoedya A. Toer, mengikuti jejak pemimpin dunia Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Nelson Mandela, dllnya, Sempurna dan tuntas sudah perjuangan Ahok!

 

Oleh: Andi Setiono Mangoenprasodjo

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Ironi Hukum di Indonesia"

  1. Alvina VB  1 June, 2017 at 02:40

    Indonesia bak seorg ibu yg anaknya buanyakkkkkkk minta ampun, ttp yg nakal banyak pula….krn salah gaul sama anak2 negri dan luar negri yg udah keluar dari ajaran ibunya, mau didisiplinin sama ibunya kok ya gak mau, jadi amburadul dah kel.nya……he…..he…….
    James: cuman bisa dukung dlm doa aja…

  2. Dj. 813  31 May, 2017 at 21:35

    Indonesia sudah merdeka 70 tahun lamanya .
    Tapi masih tetap tertinggal dari negara tetangga .
    Karena belum dewasa cara berpikirnya .
    Lama-lama nanti kembali naik onta . . .
    Hahahahahahahaha . . . ! ! !

  3. James  31 May, 2017 at 05:44

    Mbak Lani betul juga sih hanya gak ngerti napa Bangsa Indonesia diajak dan dipimpin Ahok yg Pancasilais malah dimasukkan ke Bui? Ini berarti Bangsa Indonesia menolak utk Maju kan? bodor lah badut2 ini

  4. Lani  30 May, 2017 at 23:24

    James: Aku setuju dengan mendukung Revolusi Mental yg pres Jokowi inginkan, canangkan……….akan ttp dukungan, pertolongan atau apapun itu namanya dikembalikan kpd orang2 nya sendiri apakah mau/ingin, siap untuk berubah???????

    Nah tentunya jawabannya ada ditangan bangsa/orang2 itu sendiri……….tanpa itu aku yakin tidak mungkin terjadi krn hrs datang dr hati nurani orang2 yg bersangkutan………..bukan dipaksakan/forced dari luar………

    Tidak mungkin!

  5. James  30 May, 2017 at 12:42

    1….tergantung Jokowi bagaimana dia akan merespon Mata Internasional terhadap Indonesia, karena kenyataan Indonesia BUKAN Negara Hukum, BUKAN Negara Demokrasi dan BUKAN Negara Toleransi, malah ada Prediksi LN bahwa Lambat Laun Indonesia kan mengalami seperti Suriah atau Afghanistan, Mengerikan kan ??? menurut Prediksi itu dalam kurun waktu 5-10 akan mengalami Kehancuran

    halo para Kenthirs harap mendukung Jokowi untuk membenahi Indonesia agar jangan sampai Hancur

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *