Terjun Sungai Demi Bakti

Henky Honggo

 

Festival Peh Cun

Tepat hari Selasa tanggal 30 Mei 2017, sesuai dengan penanggalan lunar (農曆 nóng lì) adalah perayaan festival perahu naga (端午節 duān wǔ jié) atau dragon boat festival. Di Nusantara lebih dikenal dengan istilah festival peh cun. Biasanya pada festival ini, dirayakan dengan makan bakcang (粽子 zòng zi).

Dalam festival peh cun ini, ada satu tokoh yang sering disebut yaitu Qu Yuan (屈原 qū yuán). Beliau adalah seorang pejabat yang juga penyair. Qu Yuan memprotes para pejabat di kekaisaran saat itu, karena korupsi yang sangat parah. Dengan sajak atau puisi yang dibuatnya, menyindir para pejabat yang korupsi. Akibatnya banyak pejabat kerajaan yang tidak senang dengan Qu Yuan, akhirnya difitnah hingga diusir dari pejabat kekaisaran.

Sebagai bukti protes kepada kekaisaran saat itu, Qu Yuan bunuh diri dengan terjun ke dalam sungai. Sehingga membuat rakyat sedih dan membuat bakcang untuk ikan ikan, supaya tidak memakan jenazah Qu Yuan. Sebenarnya, pada festival peh cun ini, tidak hanya mengenang tokoh Qu Yuan saja, ada dua tokoh lain yang dikenang juga. Ke dua tokoh tersebut adalah Cao E (曹娥 cáo é) dan Wu Zi Xu (伍子胥 wǔ zi xū). Siapakah ke dua orang ini?

 

Cao E Gadis yang Berbakti

Konon menurut legenda pada zaman dinasti Dong Han (東漢 dōng hàn), ada seorang anak gadis yang bernama Cao E sangat patuh pada orang tuanya. Suatu ketika ayah dari Cao E yaitu Cao Xu (曹盱 cáo xū) pada tanggal 5 bulan 5 (penanggalan lunar) sedang sembahyang kepada dewa Wu (伍神 wǔ shén) di atas kapal yang sedang berlayar. Tak sengaja jatuh ke dalam sungai Shun (舜江 shùn jiāng), yang saat ini bernama sungai Cao E (曹娥江 cáo é jiāng).

Ayah Cao E adalah seorang pengurus segala keperluan sembahyang. Berhari hari, jenazah Cao Xu tidak kunjung muncul di permukaan sungai. Cao E yang berumur empat belas tahun, setiap hari menunggu di pinggir sungai. Setelah lewat tujuh belas hari kemudian, tanggal 23 bulan ke 5 (penanggalan lunar) terjun ke dalam sungai untuk mencari jenazah ayahnya.

Lima hari kemudian, jenazah Cao E muncul ke permukaan sungai dengan kondisi memeluk jenazah ayahnya. Untuk menghormati sikap Cao E yang sangat berbakti kepada orang tuanya, oleh masyarakat setempat, nama Cao E diabadikan sebagai nama kota dan sungai. Tak cuma itu saja, dibangun juga sebuah kuil sebagai peringatan kepada Cao E.

 

Wu Zi Xu yang Difitnah

Wu Zi Xu adalah pejabat yang terkenal pada masa akhir negeri Wu (吳國 wú guó). Ayah Wu Zi Xu yaitu Wu She (伍奢 wǔ shē) dan kakaknya Wu Shang (伍尚 wǔ shàng) adalah pejabat dari negeri Chu (楚國 chǔ guó). Ayah dan kakak Wu Zi Xu dibunuh oleh raja negeri Chu, dan Wu Zi Xu lari ke negeri Wu (吳國 wú guó). Oleh raja negeri Wu, diangkat menjadi pejabat tinggi.

Setelah menjadi pejabat, Wu Zi Xu membawa pasukan ke negeri Chu. Namun sayang, raja negeri Chu yang membunuh ayahnya sudah wafat. Untuk membalas dendam ayahnya, Wu Zi Xu menggali kubur dan mencambuk mayat raja negeri Chu sebanyak tiga ratus kali.

Awalnya raja negeri Chu sangat percaya kepada Wu Zi Xu yang begitu berbakti kepada orang tua. Sayangnya, salah satu pejabat negeri Chu memfitnahnya sebagai pencitraan. Raja negeri Chu pun mempercayai fitnahan itu, dan mengirimkan sebilah pedang kepada Wu Zi Xu untuk bunuh diri.

Wu Zi Xu sangat kesal dan akhirnya berkata, “Apabila saya mati nanti, congkel mata saya dan taruh di depan pintu gerbang kerajaan, biar saya melihat secara langsung negeri Wu kalah dan binasa.” Berita ini sampailah ke telinga raja negeri Chu. Raja memerintahkan jenazah Wu Zi Xu dibungkus dengan kantong yang terbuat dari kulit dan dibuang ke sungai. Rakyat negeri Wu sangat menghormati Wu Zi Xu, dan membangun kuil di tepi sungai sebagai tanda penghormatan. Tempat ini sekarang namanya Xu Shan (胥山 xū shān).

 

Makna

Ketiga tokoh ini menjadi peringatan untuk perayaan Pek Cun. Qu Yuan berasal dari negeri Chu yang meninggal karena kesedihan. Wu Zi Xu meninggal karena dipaksa bunuh diri. Cao E meninggal karena berbakti kepada orang tua. Namun makna yang terdapat dari cerita ke tiga tokoh ini adalah cinta kepada orang tua, bangsa dan negara.

 

([email protected])

 

 

5 Comments to "Terjun Sungai Demi Bakti"

  1. Dj. 813  31 May, 2017 at 21:33

    Sudah sangat lama tidak makan bakcang lagi .
    Sudah lupa rasanya . . .
    Hahahahahahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih untuk artikelnya .
    Salam,

  2. Swan Liong Be  31 May, 2017 at 16:34

    Bakchang , not my favorite snack resp.food . Kalo ada ya ikut makan kalo gak ada yo rapopo.

  3. Lani  30 May, 2017 at 23:29

    James: hikkkkkkks………….tdk ada bakcang di Kona………….mungkin yg ada di China town di Honolulu. Emoh arep mangan bakcang hrs mabur dulu…………ora cucuk dgn harga ticketnya hahaha…………

    Linda: apa hubungannya bakcang dgn tanggal tua?????? Mosok krn tanggal tua ora iso menikmati bakcang???

  4. Linda Cheang  30 May, 2017 at 16:49

    Tahun ini nggak sempat bikin bacang. Harus beli, tapi lagi tanggal tuwa, hiks…hiks…

  5. James  30 May, 2017 at 12:32

    1…..wow sejarahnya Pe Cun, belum pernah dengar sejarah Pe Cun selama ini, sekarang jadi pernah baca setidaknya

    hayo para Kenthirs makan Bacang hari ini karena Pe Cun, siye siye nie

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *