Hati-hati HTI

djas Merahputih

 

Tersebutlah sebuah negeri, nampaknya masih sedang mencari jati diri. Sebuah negeri bernama Indonesia, Negara KESATUAN Republik INDONESIA –> NKRI. NKRI bukanlah sebuah negeri yang lahir hanya dalam semalam. Proses terbentuknya telah melalui perjalanan panjang dan berliku. NKRI merupakan titik temu berbagai hal dan juga titik tengah tarik-menarik berbagai  kepentingan.

Tarik menarik ideologi telah berlalu sepanjang sejarah dan hanya Pancasila sajalah yang dianggap dan terbukti mampu mempersatukan negeri ini. Bahkan jika diterapkan secara universal, Pancasila sanggup menjadi pandu bagi terwujudnya perdamaian di seluruh dunia.  “Akan tetapi saya sungguh-sungguh percaya bahwa Panca Sila mengandung lebih banyak daripada arti nasional saja. Panca Sila mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional.”  Bung Karno telah memaparkan hal ini di depan Sidang Umum PBB 1960.

Komunis, Kapitalis, Agama dan berbagai istilah keilmuan lain adalah sekat-sekat buatan manusia yang justru baru terdefenisi saat ilmu pengetahuan manusia telah mencapai tingkat keagungan. Manusia terjebak polarisasi yang ia ciptakan sendiri. Kini, sebuah sekat lama berusaha untuk tampil baru; Khilafah. “Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.”

Khilafah mengarah pada polarisasi kekuasaan mutlak di satu tangan. Setidaknya, butuh figur sekelas Rasul untuk merealisasikan konsep pemerintahan seperti ini. Pertanyaannya, masihkah ada figur tingkat dewa di masa sekarang? Kalaupun ada, siapakah yang berhak memastikan individu pilihan tersebut? Bukankah Islam sendiri pun mengakui bahwa Muhammad SAW merupakan nabi dan rasul terakhir? Belum lagi resiko pengalihan arah dan tujuan Khilafah ketika polarisasi sudah masif terbentuk. Bukankah pola-pola semacam ini telah menghancurkan negeri-negeri Muslim di Timur Tengah sana? Pola yang juga mirip pernah kita alami di sekitar tahun 1965?

Menyatukan milyaran umat Muslim dalam satu komando Khilafah merupakan sebentuk kekhilafan pikir manusia moderen. Muhammadiyah dan NU saja belum sanggup akur dalam hal penanggalan Islam, gimana lagi dengan beragam faham Islam di luar sana? Monopoli kebenaran malah hanya akan menciptakan bibit-bibit konflik di masa depan. Apakah kita harus mengalami kehancuran seperti negara-negara Timur Tengah dahulu untuk menyadari kekhilafan Khilafah ini?

Pengusung Khilafah adalah sekelompok intelektual ekslusif yang buta sejarah. Tak ada satupun pendiri negeri berniat membentuk negara berbasis agama. Semua sepakat mendirikan sebuah negara demokratis berketuhanan dalam bingkai NKRI. Mereka sadar akan keragaman Nusantara, baik dari sisi agama apalagi etnis yang ratusan jumlahnya itu. Tak ada yang berhak dan pantas mengklaim sebagai penduduk pribumi Nusantara. Penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta telah menjadi fakta sejarah hingga kapanpun.

Bersyukurlah pemerintahan Jokowi telah mengambil langkah tegas dalam upaya eliminasi Ormas anti Pancasila di tanah air. Di tengah upaya negara merealisasikan cita-cita kemerdekaan, yaitu Keadilan Sosial, maka langkah mundur mengusung Khilafah memang harus dihentikan. Ia hanya akan menguras energi dan fokus pemerintah yang seharusnya bisa lebih produktif membangun infrastruktur dan energi pembangkit di seluruh negeri.

Namun satu hal, bahwa pembubaran Ormas tak perlu diikuti hukuman fisik kepada para pengikut Ormas. Mereka pada prinsipnya adalah korban yang perlu direhabilitasi dan dibina kembali. Tak perlu pula kita trauma dan phobia kepada mereka dan dengan mudah melemparkan tuduhan saat sebuah insiden radikal memakan korban (False Flag). Negara berkewajiban membina fisik dan mental para korban ideologi anti Pancasila itu. Sikap tegas tetap saja perlu dilakukan bagi para pengikut dan utamanya pimpinan Ormas jika tetap memilih bertahan pada ideologi khilaf(ah) tersebut.

Kehati-hatian perlu diterapkan jika ormas pengusung Khilafah yang bermain di tataran ide ini pada suatu saat ternyata mampu bersinergi dengan ormas lapangan seperti FPI. Keutuhan negara sudah pasti jadi taruhan. Usaha HTI menggiring masalah pembubaran ini sebagai aksi menyerang Islam secara general, seakan memancing FPI untuk memberi respon balik kepada pemerintah. Apalagi usaha memojokkan Jokowi sebagai antek PKI sudah sering muncul di ranah medsos.

Menyerang pemerintah sebagai reaksi atas pembubaran HTI bukanlah aksi yang cerdas. Logika pembubaran HTI = menyerang Islam ini mirip logika pelanggar lalu lintas yang menuduh polisi sebagai pendukung Marquez hanya karena pada saat menerobos lampu merah ia sedang mengendarai motor Yamaha yang identik dengan Rossi.

Konteks masalah bukan pada pelanggaran rambu/undang-undang, malah dibelokkan menjadi urusan kelompok dan simbol keagamaan. Itulah logika “salah kamar” beraroma kebencian.

Fanatisme agama sangat bisa dan sering ditunggangi untuk kepentingan politik praktis jangka pendek. Massa solid dan menjurus radikal akan memiliki efek sangat merusak saat diprovokasi dengan issu-issu sensitif. Sementara, tingkat kecerdasan mengolah informasi bangsa ini masih jauh dari prinsip-prinsip check and balance memadai. Kita adalah bangsa paternalistik + latah.

Sangat disayangkan pula, para jamaah yang rentan diprovokasi ini didominasi oleh remaja dan ABG. Mungkin program pengentasan jomblo bisa menjadi ide alternatif menarik untuk hal ini. Sebab jika keFAKIRan mendekatkan seseorang pada keKAFIRan, maka keJOMBLOan mendekatkan seseorang pada RADIKALisme. Hal ini sering dibuktikan di daerah dan kampung-kampung di mana para orangtua menyegerakan pernikahan anak lelaki mereka yang bandel dan seringkali berbuat onar.

Negara harus menjauhkan para calon penerus bangsa ini dari pengaruh negatif ideologi HTI dan ormas-ormas radikal. Mereka tak perlu mengisi masa muda mereka dengan hal-hal tak pasti dan merugikan masa depan mereka sendiri. Demi masa depan NKRI kita wajib waspada pada ideologi HTI, apalagi jika suatu saat muncul lembaga tiruan yang menyasar pemuda-pemudi kita dengan doktrin HTI, doktrin Hubungan Tanpa Ikatan..! Makin suramlah masa depan negeri surgawi ini.

 

Hati-hati H-TI…!!

WASPADALAH…!!

 

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Hati-hati HTI"

  1. djasMerahputih  6 June, 2017 at 10:49

    @Tji Lani

    Ngga ke mana-mana kok. Cuman lagi males nulis komen.. He He He..

    Iya, betul kata Tji Lani. Ormasnya sdh keburu mengakar kuat. Terlalu lama diberi angin. Menunggu Sang Waktu saja yang akan mengeksekusi.

    Makasih sdh mampir,
    Salam Kenthir

  2. djasMerahputih  6 June, 2017 at 10:42

    @mba Avy

    Iya, bener. Dilematis..!!
    Apalagi bagi yang mendapat keuntungan finansial dan politis dari kedua ormas ini.

    Kalo sama Bu Susi sih sudah pasti DITENGGELAMKEN..!!

    Makasih sdh mampir mba Avy,
    Salam Kenthir

  3. djasMerahputih  6 June, 2017 at 10:37

    @Bang James

    Setuju..!! Bubarkenn..!!

    Makasih sdh mampir Bang James
    Salam Kenthir

  4. djasMerahputih  6 June, 2017 at 10:33

    @Sumonggo

    HTI ingin mengganti Pancasila dengan tameng Demokrasi. Padahal ajarannya sendiri anti Demokrasi.

    Tentang Gerindra, menurutku masalahnya ada pada faksi-faksi internal partai, bukan pada pimpinan partai.

    Makasih sdh mampir mas Sumonggo,
    Salam Nusantara

  5. Lani  3 June, 2017 at 00:09

    Kang Djas: Lama tidak mencungul kemana aja? Menurutku mengapa ormas2 yg sdh jelas berseberangan NKRI mengapa bisa dibiarkan hidup sampai lama dan beranak pinak tersebar………kmd ramai2 hrs dilarang, dibubarkan dst……..wes kadung ngoyot terlalu dalam tentunya akan sgt sulit utk dilengserkan, dibubarkan……….komentar Alvina ada benarnya……….klu pendiri ormas tsb adl orang2 dalam juga………tambah semakin ruwet dan sulit

  6. Alvina VB  2 June, 2017 at 06:21

    Bubarkan HTI, gampang diucapkan tapi nanti dulu yo…pendiri HTI siapa sich? nanti kaya FPI lage…. yg gak bisa dibubarin krn pencetus dan pendirinya ‘elite’ politician di Indonesia yg masih nafas. Nungguin para pendirinya mati dulu kali baru bisa dibubarin, he…he…..

  7. James  2 June, 2017 at 04:59

    HTI atau ormas lainnya yang Intolerance dan anti Pancasila hrs segera di Bubarkan di Larang sepenuhnya sebelum NKRI hancur berantakan spt Suriah atau Timur Tengah yg terpecah belah

  8. Sumonggo  1 June, 2017 at 16:49

    Ciri khas pentolan HTI kalau ngomong mbulet tidak karuan. Esok dele sore tempe. Bisa dilihat track record ceramah-ceramahnya di Youtube. Tapi kalau dituduh anti Pancasila, langsung “ngeles”.
    HTI anti demokrasi tapi numpang hidup di negara demokrasi. Kalau benar partai yang mengaku nasionalis seperti Gerindra bergandeng tangan dengan HTI, patut dipertanyakan kesetiaan Gerindra pada NKRI. Apakah Gerindra akan “menggadaikan” NKRI?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.