Menerjang Badai Kekuasaan

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Menerjang Badai Kekuasaan

Penulis: Daniel Dhakidae

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Tebal: xiv + 450

ISBN: 978-979-709-982-4

 

Melihat kisah hidup seseorang dalam sejarah adalah selalu menarik. Ada orang-orang yang berhasil menggiring arah sejarah, ada orang-orang yang hidupnya diarahkan oleh sejarah, dan ada pula orang-orang yang mencoba melawan sejarah. Hubungan antara biografi, sejarah dan situasi sosial politik selalu erat terjalin. Ketiga-tiganya saling memperngaruhi. Kisah-kisah orang besar seperti Sukarno, Hatta dan Sam Ratulangi yang ditulis dalam buku ini adalah contoh dimana mereka berhasil menggiring arah sejarah. Namun karya mereka dalam mengarahkan sejarah juga sangat dipengaruhi oleh situasi ekonomi politik, khususnya perang pasifik. Dan kadang sejarah memilih anaknya sendiri, seperti kisang Putra Sang Fajar. Sukarno yang sudah menyerah, dipilih oleh sejarah melalui pembuangannya ke Ende. Sejarah juga memilih mempertemukan Frans Seda kecil dengan Sukarno, sehingga Frans Seda menempati posisi sejarahnya di negeri ini. Pergulatan hidup seseorang dalam langkah cepat perjalanan sejarah adalah penuh liku. Hidup seseorang kadang diterpa badai sejarah, kadang berhasil mengendarai badai, atau bahkan mencipta badai yang kemudian menggerus dirinya sendiri.

Daniel Dhakidae menulis kisah tentang orang-orang yang dianggapnya menerjang badai kekuasaan. Apa yang dia maksudkan dengan menerjang badai kekuasaan? Mula-mula ia menguraikan apa itu kekuasaan. Ia memaparkan kesamaan dan perbedaan kekuasaan dalam konsep barat dan konsep timur. Kedua-duanya, konsep kekuasaan baik di barat maupun di timur mempunyai warna transenden. Dengan menggunakan kitab Pararaton dan Negarakretagama, serta pandangan Augustinus, Daniel Dhakidae menunjukkan bahwa kekuasaan di barat dan di timur sama-sama memiliki ide bahwa kekuasaan itu diberikan oleh langit. Namun ada beda antara barat dan timur dalam menyikapi kekuasaan yang given ini. Meminjam analisisnya Niccolo Machiavelli dalam bukunya Il Principe, Daniel Dhakidae menunjukkan bahwa di barat manusia semenjana bisa merebut kekuasaan tersebut dengan segala cara. Politik akan mati apabila si pelaku mendasarkan diri atas moralitas (hal. 38). Sedangkan di timur sering kali diyakini bahwa langit melakukan campur tangan yang sangat kuat dalam pemberian dan penggantian kekuasaan. Satu hal lagi yang disampaikan oleh Daniel Dhakidae adalah tentang mengapa diperlukan kekuasaan. Di timur kekuasaan diperlukan untuk menjaga keharmonisan, sementara di barat kekuasaan dibutuhkan untuk menciptakan keharmonisan.

Menurut Augustinus, kekuasaan bertumpu kepada kepatuhan, pelayanan dan sikap membudak (hal. 46). Sedangkan Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Arok Dedes menjelaskan bahwa kekuasaan itu terbentuk dari empat tiang Nandi, yaitu kawan, setiakawan, harta dan senjata. Siapapun yang mampu mengorganisir keempat tiang Nandi akan memiliki kekuasaan itu (hal. 46). Itulah sebabnya kekuasaan bisa menjadi badai bagi mereka yang tidak patuh, tidak melayani dan tidak membudak. Namun kekuasaan juga bisa lengah saat lupa kepada kawan dan kesetiakawanan; atau lupa karena terlalu asyik menikmati harta dan senjata. Saat kekuasaan tak lagi setia pada tujuannya, baik tujuan untuk mencipta harmoni maupun menjaga harmoni, maka kekuasaan akan menjadi badai. Di saat itulah akan timbul orang-orang yang harus diterjang badai, atau bahkan ada yang berani menerjang badai. Nah dalam badai inilah menurut Daniel Dhakidae timbul orang-orang yang memiliki kekuasan meski ia tidak sedang berkuasa (Bagian I: Kekuasaan Kaum Tak Berkuasa); orang-orang yang memiliki kuasa meski terbuang (Bagian II: Kekuasan Kaum Terbuang) dan orang-orang berkuasa yang tak punya kuasa (Bagian III: Ke-tak-kuasaa-an Kaum Berkuasa).

 

Kekuasaan Kaum Tak Berkuasa

Pada bagian pertama yang membahas kekuasaan kaum tak berkuasa, Daniel Dhakidae memilih lima tokoh untuk dikisahkan. Mereka itu adalah Soe Hok Gie, Poncke Princen, Rusli, Toety Azis dan Pramoedya Ananta Toer. Kelima sosok yang dikisahkan ini sebenarnya telah menorehkan kisahnya sendiri. Sebab kelima sosok ini telah menulis atau melukis (Rusli). Melalui tulisannya berarti mereka telah memancang diri dalam kisah. Mereka-mereka adalah orang-orang yang namanya sudah terpateri dalam arus sejarah besar bangsa ini. Dengan demikian tak sulit bagi Daniel Dhakidae untuk merangkai (kembali) posisi mereka dalam relasi kekuasaan.

Sosok Soe Hok Gie dan Poncke Princen adalah dua tokoh yang berjuang karena melihat ketidak adilan. Namun keduanya dibelenggu oleh “kesalahan langit” yang melahirkan mereka sebagai liyan. Konteks sosial dimana mereka berdua tumbuh, konteks sejarah dimana mereka dilemparkan membuat kisah hidup mereka ditempatkan pada orang-orang yang mempunyai kekuasaan di luar kekuasaan. Yaitu kekuasaan untuk selalu memberontak. Kekuasaan untuk memilih berseberangan dengan kekuasaan (negara/rejim). Kekuasaan tersebut dibutuhkan oleh sejarah karena kekuasaan telah tidak setia kepada tujuannya. Ketika badai reda dan kekuasaan mereka “tak lagi dibutuhkan” mereka mengalami sebuah kesepian. Soe Hok Gie menjadi sibuk dengan kegiatan naik gunung dan Princen sibuk sebagai pengisi Teka Teki Silang profesional.

Tentang Rusli dan Toety Aziz, Daniel Dhakidae terpesona oleh sikap kepala batunya untuk menolak komersialisasi seni dan komersialisasi press. Rusli tak pernah mau menjual lukisannya. Apalagi tawar menawar harga lukisan. Bagi Rusli melukis adalah sebuah proses berkarya. Ia tak perlu menunggu Ilham. Meski ia mendapatkan pengakuan dan penghargaan karena prestasinya di bidang lukis, ia tak pernah berupaya untuk menggunakan pengakuan tersebut sebagai sebuah alat untuk menempatkan dirinya. Baginya kepuasan melukis adalah saat mengerjakannya. Hasilnya bukan urusan pelukis, tetapi urusan orang lain (hal. 121).

Rusli adalah orang yang memiliki kekuasaan meski tidak berada di dalam kekuasaan (komersialisasi karya). Demikian halnya Toety Aziz yang mempertahankan posisinya sebagai jurnalis dan tidak mau bergabung dengan GOLKAR. Toety Azizi memilih mempertahankan Surabaya Post di tengah masa saat pembreidelan press merajalela maupun saat gempuran press modern a la Jawa Pos. Sebagai salah satu perempuan dari sedikit perempuan yang terjun di dunia jurnalistik di Indonesia, kegigihan Toety Aziz dalam mendirikan, membangun dan mengelola Surabaya Post sambil tetap berada di luar kekuasaan (GOLKAR) adalah sebuah kerja yang paripurna. Ia (bersama dengan suaminya) survive di masa press diancam pembreidelan. Ia tetap pada idealismenya ketika komersialisasi sudah melanda dunia jurnalisme. Dan Toety Aziz bisa bertahan dengan Surabaya Post-nya di tengah dunia yang telah berubah.

Berbeda dengan empat tokoh pertama yang ditulis sebagai subyek, Pramodya Ananta Toer ditempatkan oleh Daniel Dhakidae sebagai obyek kecil dalam buku ini. Bahkan Pram diposisikan sebagai preparat yang diperiksa dengan teliti di bawah mikroskop kejadian penganugerahan Hadiah Sastra Ramon Magsaysay. Daniel Dhakidae membahas kontroversi yang timbul akibat terpilihnya Pram sebagai penerima hadiah sastra dari lembaga yang berpusat di Filipina tersebut. Daniel Dhakidae menggunakan pisau apresiasi sastra, kekuasaan dan sistem etika yang berlaku untuk menguji posisi para penolak pemberian penghargaan kepada Pram (hal. 193). Melalui kejadian pemberian penghargaan Ramon Magsaysay ini Daniel Dhakidae secara jitu bisa menggambarkan relasi antara dunia sastra dengan dunia kekuasaan dan etika. Namun keasyikannya membahas hal tersebut sampai ia lupa menempatkan Pram sebagai seorang yang berkuasa di luar kekuasaan.

 

Kekuasaan Kaum Terbuang

Pada bagian ini Daniel mengisahkan empat orang yang terbuang oleh kekuasaan. Keempat orang ini kemudian menjadi “penjahat” yang menentang kekuasaan, menggocohnya, mengolok-oloknya dan kemudian kalah oleh kekuasaan.

Rohimah, atau nama aslinya adalah Subaikah memanfaatkan kecelakaan kereta api dengan menjadi seorang ibu yang kehilangan suami. Ia menjadi etalase berita berbagai surat khabar karena selain kehilangan suami juga baru saja kehilangan dua anaknya yang mati karena kebakaran sebuah pabrik. Rohimah mengharap kerohiman dari berbagai pihak demi menebus rasa bersalah akan kecelakaan tersebut. Namun sayang, dua hari kemudian penipuannya terbongkar. Secara baik Daniel Dhakidae menempatkan Rohimah dalam kisah, sehingga namanya akan diingat zaman. Seorang tamatan Pendidikan Guru Agama yang dibelit kemiskinan ini telah mengolok-olok keabaian negara akan para miskin. Para miskin yang diwakili oleh para penumpang kereta yang berjubel dan tidak mendapatkan jaminan keselamatan. Kemiskinan para buruh pabrik yang saat terjadi kecelakaan kerja tak teridentifikasi siapa keluarganya. Daniel Dhakidae berkesimpulan bahwa “dalam setiap perbuatan yang dikatakan kriminal, sebenarnya tergores wajah suatu masyarakat yang sebenarnya,” (hal. 212).

Tiga sosok berikutnya yang dikisahkan oleh Daniel Dhakidae adalah Muksin Tamnge, Kusni Kasdut dan Henky Tupanwael. Ketiganya adalah penjahat yang memiliki sifat sosial. Muksin dan Kusni adalah dua orang yang dikecewakan oleh negara. Itulah sebabnya kriminalitas mereka berdua diarahkan kepada aparatur dan lembaga negara. Muksin dipaksa untuk menyuap ketika akan diberangkatkan ke Beograd dalam persiapan GANEFO. Ia tidak jadi diberangkatkan karena tidak mampu membayar uang suap. Sedangkan Kusni dikecewakan negara karena telah berjuang begitu heroik, namun namanya tidak terdaftar sebagai tentara. Sedangkan Henky tidak diketahui mengapa ia menjadi seorang kriminal.

Kriminalitas ketiga orang ini sungguh fenomenal. Muksin melakukan 397 perampokan. Kasdut melakukan berbagai perampokan dan membunuh polisi. Ia berusaha lari dari penjara setidaknya 8 kali dan hanya tiga kali gagal. Sedangkan Henky menembak polisi pada saat ia masih remaja dan melakukan beberapa perampokan bank. Namun uniknya, ketiganya memiliki kehidupan religious yang mendalam. Kusni Kasdut menganut Katholik dan mengubah namanya menjadi Ignatius Waluyo. Muksin membaca Al-Quran khatam sebanyak 548 kali dan Henky memilih cara disalib, seperti penjahat yang disalib bersama Yesus sebagai cara hukuman matinya. Ternyatalah bahwa agama dan kejahatan bisa berkelindan dalam hidup seseorang.

Dari tiga sosok yang dikisahkan ini Daniel Dhakidae mengajak kita untuk merenungkan hubungan moralitas dengan kekuasaan. Apakah tindakan kriminal yang dilakukan ketiga sosok ini memiliki moral? Bagaimana dengan peran kekuasaan (negara) yang telah mengecewakan mereka shingga menyebabkan mereka menjadi seorang kriminal? Apakah perbuatan sosial mereka bisa dibenarkan karena sumbernya adalah sesuatu yang buruk?

 

Ke-tak-kuasaan Kaum Berkuasa

Bagian ketiga buku ini berkisah tentang sosok-sosok yang berjuang menerjang badai dan kemudian berhasil menggapai kekuasaan. Namun justru saat mereka memegang kekuasaan ke-tak-kuasaan menghampiri mereka. Mereka dirundung badai saat mengendalikan badai atau setelahnya.

Hatta adalah seorang yang tiga kali diasingkan. Ia diasingkan oleh Belanda, mengasingkan diri saat tidak lagi bisa sejalan dengan pemerintahan Sukarno dan diasingkan oleh pemerintah Orde Baru dengan cara mencederai intelektualitasnya. Hatta diminta (dan diberi kekuasaan) oleh Orde Baru untuk memeriksa kasus korupsi besar, di antaranya di Pertamina, namun hasilnya hanya para kroco yang disidangkan dalam kasus korupsi. Ini adalah sebuah pencederaan intelektualitas Hatta yang sangat menusuk. Karier politik Hatta diakhiri secara sadis melalui peristiwa Sawito. Dalam tiga kali kasus pengasingan ini Hatta kukuh pada pilihan moral social democratic. Ia tidak mau memicu konlfik yang mengakibatkan korban kepada masyarakat atau keutuhan negara. Dia memperjuangkan dan kemudian mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dan keharmonisan hubungan antara pusat dan daerah. Dia rela untuk diasingkan atau mengasingkan diri demi berdiri kokoh pada pilihan moral tersebut.

Margono Djojohadikoesoemo adalah tokoh yang berlatar belakang priyayi dan besar sebagai pegawai tinggi Hindia Belanda. Margono berjasa dalam membangun kapital negara. Ia mendirikan bank yang menjadi cikal-bakal Bapindo. Ia memilih untuk mengasingkan diri ke Singapura, Malaysia dan kemudian Hongkong ketika tidak sejalan dengan pengambil-alihan perusahaan-perusahaan Belanda oleh rezim Sukarno dan Partasi Sosialis Indonesia (PSI) dibubarkan. Ia menulis buku dalam Bahasa Belanda karena semangat humanisme universal saat di pengasingan.

Saat membahas Sam Ratulangi dan Frans Seda, Daniel Dhakidae mengungkap banyak data tentang kehidupan kedua tokoh ini. Ia seperti menulis biografi untuk kedua sosok yang dikisahkannya. Ia menulis latar belakang Ratulangi, pertumbuhan intelektual dan sikap politiknya saat belajar di Eropa dan pandangannya tentang hubungan Indonesia Timur dengan Indonesia yang baru berdiri. Tak beda, Daniel Dhakidae juga memaparkan latar belakang Frans Seda cukup panjang lebar, peristiwa-peristiwa yang membuat Frans Seda menjadi Frans Seda yang kita kenal sekarang ini. Dari kedua tokoh ini tak terlihat ke-tak-kuasaan dalam menghadapi kekuasaan. Bahkan dalam cerita keduanya seakan tak ditemui badai yang harus dilawan. Kalau pun ada itu hanya angin kencang yang masih bisa dilalui kedua tokoh ini untuk terus maju ke depan. Angin kencang itu adalah pemenjaraan Sam Ratulangi akibat pendapatnya bahwa perang pasifik tak akan lama lagi akan pecah (hal. 297). Sedangkan Frans Seda pada posisi menteri minoritas (tetap memilih berdiri pada Partai Katholik) dan diragukan karyanya untuk wilayah asalnya (hal. 326).

Kalau ada tokoh yang menerjang beberapa badai, menciptakan badai dan sekaligus menjadi badai, tokoh itu adalah Gus Dur. Abdurrahman Wahid memilih untuk membawa NU kembali ke khitah 1926, yaitu NU yang non politik saat terpilih sebagai Ketua Umum PB NU pada tahun 1983. Akibatnya Partai Persatuan Pembangunan mengalami kekalahan telak dalam pemilu. Ini adalah bdai pertama yang dibuatnya. Namun tiga tahun kemudian, ia memulai melawan badai Orde Baru dengan mendirikan Forum Demokrasi dan selanjutnya mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa. Pilihannya untuk mendirikan Forum Demokrasi dan memberi pernyataan keras terhadap kejadian di Timor Timur membuat badai kekuasaan Orde Baru yang dihadapi menjadi semakin besar. Orde Baru berupaya untuk menyingkirkannya dari NU di Muktamar Cipasung pada tahun 1994. Tapi upaya negara ini tak berhasil. Meskipun demikian keberaniannya melawan badai Orde Baru ini telah menumbuhkan keberanian organisasi masyarakat sipil (civil society), termasuk partai menjadi ikut berani (hal. 335). Saat Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, ia menciptakan badai dan bahkan menjadi badai. Ia melakukan keputusan-keputusan berdasarkan “mendengarkan suara dari langit.” Ia betul-betul menjadi badai saat membubarkan Departemen Penerangan yang sesungguhnya bisa dia gunakan untuk menjadi corong baginya; dan memecat panglima ABRI hanya melalui tilpon. Keputusan-keputusan ini justru menambah musuh disaat ia membutuhkan kawan. Hingga akhirnya ia tersingkir dari kursi presiden oleh badai yang ia ciptakan sendiri. Apakah Gus Dur kemudian kalah melawan badai? Ia memang tersingkir dari kursi presiden, namun apa yang dibuatnya telah menyingkirkan sebanyak mungkin praktik-praktik represif orde baru.

Daniel Dhakidae membagi masa kehidupan politik Sukarno ke dalam 5 tahap, yaitu

(1) saat Sukarno masuk politik melalui tulisannya “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme,”

(2) masa pembuangan ke Ende,

(3) masa pendudukan Jepang,

(4) masa kemerdekaan, dan

(5) masa Sukarno mengeluarkan Dekrit kembali ke UUD 45 sampai kejatuhannya dari kursi kepresidenan (hal. 366).

Dengan alasan bahwa fase-fase lainnya sudah banyak ditulis, Daniel Dhakidae berfokus kepada masa saat Sukarno di Ende. Bagi Daniel Dhakidae, periode pengasingan di Ende-Flores ini adalah fase dimana Sukarno menemukan kembali semangatnya untuk berjuang. Setelah ia hampir pupus oleh badai interogasi selama enam bulan di Penjara Sukamiskin, ia mendapatkan kembali semangatnya melalui studinya tentang Islam, tentang keadilan sosial dari para pastur dan kegiatan berkesenian melalui pementasan tonil yang dipimpinnya. Tanpa Ende, Sukarno hanya akan kembali menjadi seorang bapak yang baik, seperti yang disampaikan dalam suratnya dari Sukamiskin: “Aku berjanji untuk selanjutnya mengundurkan diri dari kehidupan politik, dan menjadi warga yang tenang untuk mengurus keluarga dengan menjalankan praktik arsitek dan keinsinyuran… (hal. 377).

Dari semua sosok yang dikisahkan oleh Daniel Dhakidae terlihat jelas bahwa mereka semua memiliki kekuatan yang melekat pada dirinya untuk melawan badai, atau sekedar angin kencang kekuasaan. Kekuatan untuk tetap bertahan pada posisinya itulah yang membuat mereka berhasil menerjang badai kekuasaan. Dan dengan demikian mereka telah menempatkan dirinya dalam sejarah, atau bahkan ikut menentukan arah sejarah. Benar apa yang disampaikan oleh Daniel Dhakidae bahwa biografi tak bisa dilepaskan dari konteks politik dan sosial dimana si sosok tersebut hidup.

Daniel Dhakidae menutup dengan sebuah kesimpulan yang sangat kuat. “Yang mencapai keberhasilan pun sebenarnya tidak berhasil sesungguh-sungguhnya karena tidak ada satu pun yang mampu mencapai cita-cita yang “digantungkan di langit”, sebagaimana dikatakan Bung Karno. Akhirnya bagi semua mencapai puncak keberhasilan bukan lagi tujuan karena seperti Sisyphus yang mengangkat batu, mereka berusaha melawan nasib, dan dalam proses perlawanan itu senantiasa jatuh lagi, bangun lagi, dan jatuh lagi. Karena itu “menerjang badai” akhirnya menjadi jauh-jauh lebih penting karena itulah yang merumuskan siapa mereka dan harkat hidupnya.”

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Menerjang Badai Kekuasaan"

  1. Handoko Widagdo  5 June, 2017 at 08:40

    Avy, benar. Tapi kadang kita harus memilih untuk menerjang badai untuk mengubah arah angin.

  2. Alvina VB  5 June, 2017 at 02:48

    Han, terkadang menerjang badai kekuasaan tidak bisa dihindari, ttp kl bisa dihindari…. menyimpan kesabaran utk serangan balik di kemudian hari, he..he….
    James: ha…ha…..

  3. Handoko Widagdo  3 June, 2017 at 10:14

    Para kenthirs sedang menerjang badai James.

  4. James  2 June, 2017 at 12:45

    1…..menerjang Badai Kenthirs di Baltyra

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *