Surat Undangan ke Eropa

Audry (Pingkan) Djayasupena – Belanda

 

Tulisan ini sekedar menjelaskan bagi pembaca yang mau liburan ke Eropa biar tahu apakah harus punya surat undangan dari temen atau saudara yang tinggal di Eropa untuk mengurus visa ketika ingin liburan ke Eropa karena banyak yang nanya-nanya maka aku tulis aja biar jelas jadi kalau ada yang nanya-nanya lagi lain kali tinggal kasih link tulisanku ini.

Sebenernya kalau kalian mau liburan ke Eropa hanya seminggu atau dua minggu nggak perlu surat undangan asal bisa menunjukan surat booking hotel dan uang tabungan di Bank  kalau nggak salah besarnya antara 30-50 juta rupiah cukup. Kedutaan biasa menghitung untuk biaya makan seharinya itu € 30, -. Surat undangan diperlukan kalau kalian mau liburan kunjungan keluarga  misalnya liburan di Eropa selama tiga puluh hari atau sembilan puluh hari itu memang harus ada surat undangan sebagai  penjamin karena kan mau tinggal lama di Eropanya.

Bagi yang mau liburan di Eropa tapi nggak punya surat bukti booking hotel walaupun cuma satu atau dua minggu itu juga butuh surat undangan, padahal punya uang tabungan cukup, tetap kedutaan mau tau kalian tinggal nginep dimana selama berkunjung ke Eropa  karena tempat tinggal itu penting selain uang saku kalau nggak bisa menunjukkan tempat tinggal selama di Eropa pasti ditolak visanya.

Hanya bedanya kalau punya surat undangan sebagai jaminan berarti ada yang menjamin jadi kalau uang sakunya cekak  punya tabungannya nggak sampai 30-50 juta  dan nggak punya surat bukti booking hotel kalian masih bisa berangkat liburan ke Eropa karena kan ada surat undangan (jaminan)dari si pemberi undangan itu selama kalian tinggal di Eropa berarti kalian nggak terlantar, tempat tinggal dan makan minum dijamin si pemberi undangan.

Surat undangan itu bukan bikin sendiri tapi musti minta ke kantor walikota dan mengisi formulir menulis nama lengkap dan tanggal lahir yang mau diundang ke Eropa, lalu distempel kantor walikota. Formulirnya nggak gratis setiap kota sepertinya beda-beda harganya bisa antara €7, 50, -sampai €15, – dan setiap orang maximum hanya boleh mengundang dua orang. Ketika mengirim surat undangan  si pengundang harus  melampirkan fotocopy passport dan kalau dibutuhkan juga foto copy gaji (penghasilan setiap bulan).

Sebaiknya kalau kalian uangnya cekak  dan nggak bisa ikut tour, jangan pergi liburan ke Eropa kalau akhirnya di Eropa bikin susah yang ngundang kecuali sudah ada perjanjian sebelumnya kalau yang ngundang itu memang mau menjamin (traktir) selama di Eropa diajak jalan-jalan itu lain ceritanya karena sudah ada kesepakatan bersama. Tetapi kalau nggak ada kesepakatan bersama terus sudah ditolong kirim surat undangan dan makan tidur gratis tapi si tamu nggak punya rasa pengertian mau semuanya gratis bikin susah yang punya rumah, misalnya kalau pergi  jalan-jalan juga maunya gratis nggak mau keluarin uang itu namanya keterlaluan dong iya nggak?

Punyalah kesadaran ketika jalan-jalan beli kartjis kendaraan umum sendiri atau bantu bayar bensin kalau kemana-mana naik mobil. Kalau makan di luar bayar sendiri-sendiri kalau nggak bisa nraktir yang punya rumah itu juga sudah membantu lho mengurangin beban. Biaya hidup di Eropa itu kalau jalan-jalan mahal apalagi makan di luar setiap hari bisa bikin kantong dobol kalau harus traktir tamu terus-terusan setiap hari selama liburan di Eropa.

Selama tinggal bertamu karena nggak ada pembantu ya harus juga bantu-bantu cuci piring kalau nggak ada mesin cuci piring. Bantu-bantu masak atau bantu belanja beli makanan buat dimasak jangan pura-pura bego dan jangan malas. Apalagi kalau yang punya rumah kerja pasti jadi bikin repot, walau misalnya yang punya rumah sudah ambil libur karena ada tamu nginep di rumahnya tetap aja harus bantu-bantu yang punya rumah. Mandi juga nggak perlu pagi sore sampe mandi berlama-lama kalau di Eropa. Kalau mau mandi pagi sore sebaiknya mandi pagi cukup diguyur air aja nggak perlu digosok berlama-lama pake sabun karena kan nggak kotor. Baru deh mandi sore (malam) pake sabun gosok-gosok kalau abis jalan-jalan itu juga nggak perlu lama-lama karena air panas mahal jadi harus dipikirkan juga.

Pengalamanku sendiri menerima tamu di rumahku beda-beda. Ada tamu yang sangat pengertian dengan keadaanku di rumah kemana-mana aku yang ditraktir dia atau gantian bayar makannya. Atau sepakat ketika jalan-jalan makan bayar sendiri-sendiri, biasa itu temen atau saudara  yang sering pergi ke luar negri. Nginep di rumahku karena aku yang minta walau dia mampu bayar hotel.

Tapi ada juga yang nggak pengertian maunya serba gratis itu bikin aku kapok deh nerima tamu kaya gitu. Tapi sekarang aku sudah nggak bisa nerima tamu lagi di rumah karena aku sudah pindah ke appartement kamarnya Cuma satu kalau dulu anak-anak masih tinggal di rumah aku punya kamar empat jadi masih bisa nerima tamu.

 

Salam Bhinneka Tunggal Ika

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Surat Undangan ke Eropa"

  1. Swan Lioing Be  5 June, 2017 at 16:34

    aku sihz lebihz sweneng nginep dihotel kalo berkunjung kesuatu kota atau negara dimana ada keluarga yang tinggal. Nginep dihotel lebih enak karena bebas dan merasa lebih nyaman, gak membebani mereka yang diinepin.Aku berpendapat kalo mau traveling kesuatu negara ya harus sanggup mengongkosi sendiri, sedapat mungkin jangan menggantungkan pada keluarga.Kalo merasa gak sanggup ya jangan pergi. Tapi itu pendapatku pribadi lho, kalo ada yang berpendapat lain ya silahkan .
    Btw, keinginanku untuk pergi² sudah berkurang banyak, Kok namyan dirumah, murah meriah,hehehehe…….

  2. Alvina VB  4 June, 2017 at 10:36

    Cuman ngundang org tua, saudara kandung dan temen2 yg sudah spt saudara, jadi dah tahu sama tahu gitu dech. Kagak pernah ngundang temen/kenalan yg gak deket banget ke rumah, jadi gak pernah ada masalah, he…he…..

  3. Audry  3 June, 2017 at 13:21

    Henny : Setuju sebaiknya hanya saudara dan ortu karna surat undangan tanggung jawabnya juga berat bukan haya kasih tempat tinggal dan makan minum saja tapi takutnya kalau yang nggak kenal betul disalah gunakan. Misalnya sudah dikasih undangan nggak tahunya pergi ke Eropa tapi ternyata nggak mampir ke rumah kita malah ngelayap ke mana-mana kalau ada apa2 pasti yg mengundang yg tanggung jawab akhirnya kita kena denda puluhan ribu euro.

    Wino: Setuju sebaiknya fair play dalam bersosialisasi. Orang Indonesia itu kan umumnya maunya ditraktir mikirnya gratis mulu nanti saya tulis lagi lebih jelasnya.

    Hallo James en Lani: Terima kasih appresiasinya…..

  4. Audry  3 June, 2017 at 13:10

    Swan Lion Be: Dulu waktu baru EU bersatu memang banyak yang minta visa schengen kekedutaan Spanyol misalnya karna gampang dapet visanya tapi mereka masuknya ke Belanda,Jerman,Perancis,nggak pergi ke Spanyol. Karna minta visa lewat kedutaan Belanda,Jerman,lebih sulit daripada kedutaan lain menurut cerita sih begitu. Mungkin karna masalah itu maka diperketat kalau dapet visa dari Negara EU harus masuk pertamanya dari Negara tersebut….

  5. Wino  3 June, 2017 at 03:14

    sorry ralat tulisan saya dibawah

    “banyak orang Indonesia terkesan perhitungan dalam bersosialisasi”

    yang benar adalah

    “banyak orang Indonesia terkesan bahwa orang belanda sangat perhitungan dalam bersosialisasi”

  6. Wino  3 June, 2017 at 03:11

    Jujur saja saya memang belum pernah ke Eropa, termasuk ke kampung nya Oma saya, Belanda. tapi apa yang tertulis di artikel ini sangat sesuai dengan yang diceritakan oleh keluarga dan teman saya yang tinggal di Belanda. Prinsip dan tuntutan disana juga diterapkan di keluarga besar saya di Indonesia. maka tidak heran kalo banyak orang Indonesia terkesan perhitungan dalam bersosialisasi. tapi menurut saya sih tidak. bagi saya, lebih tepatnya itu adalah fair play atau berbagi kontribusi. dari situ kita bisa paham bagaimana pandangan budaya Indonesia dan Belanda dalam memperlakukan seorang tamu, itu memang beda. Tinggal bagaimana kita mau sama sama saling beradaptasi nya

  7. Lani  3 June, 2017 at 00:03

    James: hehehe……..mmgnya kamu sdh pernah trima tamu dr para sesama kenthirs? Tapi aku percaya para kenthirs tamu yg pengertian………

  8. HennieTriana Oberst  2 June, 2017 at 23:03

    Iya memang tamu itu bermacam-macam ya modelnya. Tapi memang aku penuh pertimbangan sebelum menerima tamu untuk menginap.
    Kalau untuk surat undangan, aku cuma mau bikin untuk saudara kandung dan ortu saja. Karena di Jerman untuk bikin surat undangan ini selain bukti yang disebut di atas, juga bukti kepemilikan/sewa tempat tinggal kita diminta.

  9. Swan Liong Be  2 June, 2017 at 17:06

    Ada satu hal lagi yang sudah beberapa kali aku dengar, yakni soal visa Schengen. Bagi mereka yang pertama kali keeropa, meskipun visa berlaku untuk negara² Schengen, tetapi kalo minta visa lewat kedutaan belanda misalnya, maka yang bersangkutan diharuskan masuk Uni Eropa dari Belanda, kalo mau masuk lewat jerman tentu akan mendapat kesulitan. Sudah beberapa kali kejadian nya, ada rombongan mengajukan visa untuk Uni Eropa/Schengen dikedutaan Italia tapi masuk pertama kalinya lewat jerman, entah alasannya apa, iya tentunya ditolak. Tapi aku gak tau achirnya gimana solusinya.

  10. James  2 June, 2017 at 12:41

    1…..memang kadang-kadang tamu itu kurang pengertian

    tapi para Kenthirs pasti kalau jadi tamu pengertianlah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.