Pilkada Paling Jahanam

Audry Djayasupena – Belanda

 

Pilkada paling jahanam sudah berakhir tapi suasana kedua kubu masih suka saling sindir dengan kemenangan yang tidak jujur. Sebagaimana kita tahu ketika menjelang pilkada banyak terjadi intimidasi seperti melarang menyolatkan jenazah di mesdjid-mesdjid  yang memasang spanduk sebagai bentuk intimidasi. Bagi warga Jakarta yang tinggal di gang-gang sempit tentu menjadi sangat sulit  ketika di intimidasi hidupnya jadi tertindas dan serba salah.

Pilkada yang seharusnya bebas dan rahasia sepertinya sudah tidak berlaku lagi, sebagian warga ingin tahu warganya memilih siapa sebagai calon Gubernur Jakarta yang akan dipilihnya. Sebagian warga Jakarta yang terintimidasi tentu punya rasa takut walau sebenernya berat untuk memilih Gubernur  yang bukan jadi pilihan hatinya, tapi toh mereka memilih juga karena punya rasa takut entah rasa takut percaya bakal masuk neraka jika memilih Gubernur non Muslim atau karena rasa takut dikucilnya warga sekelilingnya?

Aparatpun terlihat sangat lambat dalam menangani intimidasi terhadap warga Jakarta kesannya malah ada oknum-oknum aparat  ataupun oknum  pemerintah seolah-olah memang setuju dan membiarkan intimidasi tersebut. Setelah pilkada selesai baru ada aparat pemerintah menghimbau tidak boleh begini, tidak boleh begitu, mengintimidasi orang. Aduuh sudah telat dong waktu menjelang pilkada kemana aja kok baru bersuara sesudah pilkada?

Tapi ternyata imbas dari intimidasi kepada pemilih yang ingin memilih Gubernur non Muslim akhirnya membawa sial atau karma pada orang yang menyeru-nyerukan intimidasi tersebut. Kebetulan orangnya punya usaha Cafe atau Resstaurant mereka nggak memikirkan bahwa usaha menjual makanan itu yang makan di Cafe/Restonya bukan para pendukungnya saja, bukan orang Muslim saja, tapi dari berbagai suku dan agama yang berbeda mereka lupa akan hal itu kan?

Sebaiknya kalau jadi pengusaha yang menjual makanan atau menjual  jasa lainnya nggak usah ikut berpolitik apalagi sampe gembar gembor di media sosial atau didunia nyata. Kalaupun mendukung salah satu calon Gubernur sebaiknya kasih lihat sikap yang netral atau sikap yang tidak usah memojokkan para pendukung calon Gubernur non Muslim kan?

Ketika semua sudah terjadi Cafe atau Restonya sepi pengunjung baru deh minta maaf dan memelas pada para pendukung Gubernur non Muslim  yang pernah dihinanya. Melihat sepinya Cafe atau Resto tersebut kita bisa menilai bahwa pendukung calon Gubernur non Muslim itu adalah pengunjung Cafe atau Restonya yang pemiliknya Muslim dan  rasis. Jadi ketahuan kan selama ini pemilik yang rasis itu dapet rejeki dari siapa? Dari para pendukung Gubernur non Muslim yang mereka suka ejek-ejek itu kan? Kalau bukan dari para pendukung Gubernur non Muslim  yang mereka suka ejek-ejek itu nggak mungkin kan Cafe atau Restonya mendadak sepi berartikan para pendukung Gubernur yang sudah terpilih itu  kalangan menengah ke bawah yang umumnya jarang masuk Cafe dan Resto di Mall.

Kalau mau rame lagi Cafe dan Restonya tulis aja gini “Yang nggak  mau makan di Cafe/Resto ini matinya nggak disholatin” Hahahahahahahahahhaha…. LOL!

 

Salam Bhinneka Tunggal Ika

 

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "Pilkada Paling Jahanam"

  1. Dewi Aichi  19 June, 2017 at 16:17

    Makanya saya setuju kalau masih diberlakukan LUBER, langsung, umum, bebas, rahasia. Tidak usah memperlihatkan saya dukung siapa, saya kontra siapa, milih aja secara diem-diem.

    Lha lihat aja banyak sekali kita-kita ini seolah-olah juru kampanye, pilih ini saja, jangan pilih yang itu…etc…etc….akhirnya sikut-sikutan sendiri yang tiada gunanya, mana sama teman sendiri.

    Kesadaran masing-masing saja , mulailah dari diri sendiri tidak usah menampakkan dukung-dukungan segala, karena toh masyarakat kita memang belum dewasa.

  2. padiyo  16 June, 2017 at 15:42

    Kl zaman ku dulu disebut pilkada semprul….

  3. Alvina VB  7 June, 2017 at 11:31

    Kok sampe segitunya itu org yg punya cafe yak…..org kl rasis kayanya susah buat kompromi krn otaknya sempit, ttp kl dah nyenggol duit, ternyata otaknya bisa mikir juga, he…he…..gak dech…itu krn terpaksa aja…gak mau bangkrut aja…
    James, he..he….

  4. Lani  6 June, 2017 at 23:28

    James: akur……..biar dikatakan kenthir tp malah lebih dan sgt waras dibandingkan dgn yg ngakunya waras……..ironis ya

  5. Audry  6 June, 2017 at 18:40

    Swan Lion Ben: Abuella Cafe di Jakarta juga sepi. Mau minta maaf karna isyaf atau nggak yg pasti dia sadar dengan perbuatannya kalau merugikan.

    Kalau yng di Belanda itu karna nggak banyak warga keturunan yang tinggal di Belanda seperti di Sydney maka gak begitu dampaknya nggak begitu besar tapi lama2 juga sepi kok lihat aja.

    James: Menurut aku TNI/POLRI kurang tegas nggak tau kenapa dan ada apa.

  6. Swan Liong Be  6 June, 2017 at 17:25

    @Audry, Cafe atau Resto mana yang dimaksud dalam artikel diatas, yang diSydney , yang kehilangan customernya sampai minta maaf, bukan karena insyaf, melainkan karena kepèpèt: atau yang di Belanda, yang seperti aku dengar atau baca dampaknya gak besar seperti Resto diSydney.

  7. James  6 June, 2017 at 12:45

    Pilkada Paling Jahanam ala Indonesia kagak ada duanya di Dunia

  8. James  6 June, 2017 at 12:44

    1….Indonesia itu terkenal ABRI/TNI nya keseluruh Dunia yang Katanya sangat Kuat, pasukan Elitenya saja begitu banyak dipamerkan ke dunia, ada kerusuhan Dalam Negeri ? kagak bersuara satu pun alias Bungkem, sekarang malah Indonesia lebih terkenal Bukan Negara Demokrasi, Bukan Negara Toleransi karena hanya Omdo, mata Internasional masih menantikan Respon Tegas dari Pemerintah Indonesia

    para Kenthirs jauh lebih Toleransi dan Demokrasi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *