Jamuan Mewah di Selat Malaka

Bayu Amde Winata

 

“Di sini saja” ujar salah seorang nelayan setelah melihat GPS yang berada di dekat tongkat kemudi. “Pasang masih dua jam lagi, ikan masih bisa dapatlah,” sambungnya. 17 Nautical Mile atau 32 Km jarak yang sudah ditempuh oleh kapal yang saya tumpangi. Pulau Jemur sudah tidak terlihat lagi. Kapal kami berada di laut lepas. Empat orang nelayan yang bersantai di belakang kapal, bergegas menuju haluan. Jaring sepanjang 1 Mile/1.6 Km dipersiapkan setelah mendapat posisi dimana kemungkinan ikan banyak berkumpul. Tiang pancang dengan bendera ungu kusam dijatuhkan ke dalam laut. Tangan para nelayan memandu kapal agar jaring yang disebar tidak mengenai baling-baling. Mesin dimatikan, kami menunggu.

Terombang Ambing di Perairan Selat Malaka

Perairan Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau sejak dahulu dikenal sebagai daerah penghasil ikan. Dalam tulisan Bauke Jan Haga, seorang kontroler Belanda yang diterbitkan pada jurnal De Economist, January 1917 berjudul “De Beteekenis Van Der Industrie Vissherij van Bagan Api Api en Here Teokomst” menjelaskan bahwa Belanda memonopoli industri garam di Pulau Jawa untuk dibawa ke sentra-sentra ikan asin di Bagan Siapiapi agar industri ikan di Bagan tetap hidup, garam-garam ini berasal dari Kalimantan, Sumatra Barat, dan Madura.

Hal ini diperjelas dalam buku Revenue Farming in The Netherlands East Indies, 1816-1925 oleh Howard Dick, Michael Sullivan, dan Jhon Butcher, dijelaskan pada tahun 1914, pendapatan dari pajak garam meningkat tajam karena ekspor ikan kering dan asing menuju Jawa, Singapura dan Penang meningkat. Pada puncak industri ikan di Bagan Siapiapi, di tahun 1904, sebanyak 25,9 juta ton ikan asin dieskpor dan 10,1 juta ton terasi disekpor dari Bagan Siapiapi.

Menembus Gelombang Sembari Menikmati Segelas Kopi

Nelayan Menjahit Jaring

Dari industri ikan, Kota Bagan Siapiapi memiliki Bank. Bank BRI yang dahulu bernama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi berkebangsaan Indonesia yang didirikan di Purwekorto pada tahun 1895 membuka kantor cabang ke dua mereka di Bagan Siapiapi. Bank bernomor register 0002 melayani kredit para pengusaha ikan. Bahkan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (Dutch for Royal Packet Navigation Company) membuka pelayaran langsung Singapura ke dan dari Bagan Siapiapi. Pada tahun 1890-an sampai 1940-an, kota Bagan Siapiapi menjadi kota metropolis karena ikan.

Namun, kejayaan industri ikan ini pelan-pelan surut karena sedimentasi yang terjadi di muara sungai Rokan. Kota yang dahulu mendapat julukan Ville Lumiere (Kota Cahaya), cahayanya mulai meredup. Kejayaan Bagan Siapiapi menjadi cerita.

Memprsiapkan Sarung Tangan untuk Mengangkat Ikan

Menarik Jaring ditengah Selat Malaka

Nelayan menunggu Jaring Terisi

Sudah dua jam kapal kami berhanyut. Gps di kapal mempelihatkan sudah 1 Nautical Mile/1.8 Km kami terbawa arus menjauh dari titik awal. Mesin kapal mulai meraung, membelah laut yang sunyi. Di haluan kapal teriakan gembira nelayan terdengar. Ikan senangin (Eleutheronema Tetradactylum), Kurau (Senohong), Bawal, Lomek (Harpodon Nehereus), Terubuk, dan anak ikan Hiu masuk ke jaring nelayan. Hasil hari ini menggembirakan, jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Saat kami akan masuk ke perairan pulau Jemur yang berjarak 46 Nautical Mile atau 70-an Km dari kota Bagan Siapiapi. 800 meter jaring yang disebar ke laut, kami hanya mendapatkan tiga ekor ikan.

Ikan Cucut dari Selat Malaka yang Terjaring

Nelayan-nelayan yang Berada di Perairan Pulau Jemur, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau

Senohong atau Kurau, Ikan Khas dari Perairan Selat Malaka

Mengepak Ikan untuk Dibawa ke Bagan Siapiapi

Beberapa ekor ikan yang terjaring, langsung dimasak di dapur kapal. Harum cabe hijau yang ditumis bersama bawang putih tercium. “Nak dimasak pindang” ujar salah seorang nelayan. Tidak perlu menunggu lama, ikan pindang sambal hijau dihidangkan. Manisnya daging ikan dengan tekstur lembut tertangkap lidah. Kuah pindang segar yang sedikit berasa asam dihirup,“Sruup” nikmat. Kami berebut kepala ikan.   Hidangan sore itu meskipun dimasak sederhana namun terasa mewah, di ufuk barat, semburat oranye matahari terlihat. Selat Malaka memanjakan kami.

Kejayaan industri ikan pada zaman dahulu di kota Bagan Siapiapi bisa dihadirkan kembali dengan wisata mancing. Bersama dengan nelayan-nelayan yang dengan ramah menceritakan cerita dari laut mereka.

 

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Jamuan Mewah di Selat Malaka"

  1. Bayu Winata  26 July, 2017 at 09:20

    mba Linda Cheang: mari mba, #ayokebagan

  2. Linda Cheang  5 July, 2017 at 17:22

    Mas BW : wah, sedapnya kalo bisa makan ikan khas Selat Malaka….

  3. Lani  15 June, 2017 at 08:27

    BW: yg jelas aku tungguin artikelmu………

  4. Bayu Winata  14 June, 2017 at 21:08

    Mba Lani: Insyaallah mba

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *