Gara-gara Jessie

Gunawan Budi Susanto

 

Cerita Kinanti Gurit Wening

“Anak-anak, karena hari ini ada rapat guru, kalian semua boleh kembali ke kamar. Kalian juga boleh keluar asrama,” kata Bu Ana.

Aku, Aisyah, dan Zeta kembali ke kamar.

“Hmm…, sepertinya hari ini akan membosankan,” kata Zeta.

“Iya. Apa yang akan kita lakukan?” tanya Aisyah.

Aku mengangkat bahu.

Kami melihat Jessie dan Salsa sedang berdandan, memasukkan dompet, dan telepon seluler ke dalam tas jinjing.

“Kalian hendak ke mana?” tanyaku.

“Belanja. Kata Bu Ana, di sekitar sini ada mal,” ujar Jessie.

Mereka pun pergi meninggalkan kamar.

“Bagaimana kalau kita ke taman kota?” usul Zeta.

“Apakah tidak membosankan? Seingatku, di sana hanya ada pohon, bunga, dan ayunan,” kataku.

“Kalian tidak akan menyesal ikut aku,” kata Zeta sambil merapikan jilbab.

Kami menunggu di halte bus. Setelah bus datang, kami segera naik. Sampai di taman, kami mengikuti Zeta dari belakang. Dia mengajak kami menyewa sepeda.

“Mengapa naik sepeda?” tanyaku.

“Agar lebih mengasyikkan,” jawabnya.

Kami berkeliling dengan sepeda. Wah, ternyata Zeta benar. Taman kota kini tidak lagi membosankan seperti dulu. Ada gazebo tempat bersantai, tempat persewaan sepeda, penjual es krim dan makanan lain, kotak foto, ayunan, kolam ikan, pohon-pohon, dan masih banyak lagi.

“Ayo beli es krim!” ajak Aisyah.

Setelah membeli es krim, kami menuju kotak foto.

“Wah, sangat menyenangkan ya!” seruku.

Pukul 11.00. Kami melanjutkan perjalanan menuju mal tak jauh dari taman. Aisyah meminta kami menemani membeli boneka. Setelah membeli boneka besar, kami menuju toko buku.

“Kalian mau beli buku?” tanya Aisyah.

“Iya. Kan kau sudah beli boneka. Kami mau belanja buku sekarang,” ujarku.

Aisyah memutuskan menunggu kami di ruang baca.

“Kalian sedang apa di sini?” tanya seseorang.

“Ha!?” Aku terkejut melihat Jessie dan Salsa di sebelahku.

“Kami sedang belanja buku. Kenapa?” tanya Zeta.

“Kukira orang seperti kalian lebih suka bermain di kamar. Ternyata kalian juga suka belanja,” ejeknya.

“Wah, kau ini. Mengapa tidak mau berdamai dengan kami sih? Apa enaknya punya banyak musuh?” kataku.

“Hei! Aku tidak mencari musuh. Kalian saja yang sok pintar. Aku jadi malas berteman dengan orang sok pintar.”

“Apa katamu?! Kami sok pintar? Dengar ya. Kami memang pintar, tapi tidak sombong. Dasar jelek!” seruku.

“Bweek!” Jessie menjulurkan lidah padaku.

“Hhh!” Aku menjambak rambut Jessie. Jessie juga menjambak rambutku.

“Adik-adik, sudah! Tolong jangan ganggu ketenangan ya. Mari saya antar keluar,” kata seorang pegawai toko buku.

Rasanya sangat malu. Ini semua gara-gara Jessie! Aku, Aisyah, dan Zeta pulang naik taksi.

“Kau ini! Mengapa bertengkar di depan umum sih?” tanya Aisyah.

“Entahlah. Aku sangat kesal. Jadi aku menjambak rambutnya,” kataku.

Aisyah membantuku merapikan rambut, sedangkan Zeta membaca buku.

“Karena sibuk bertengkar, kau lupa tujuanmu ke toko buku bukan?”

Aku menoleh pelan.

“Ini semua gara-gara Jessie!” kataku.

“Sudahlah. Jika kau tadi tak menghiraukan, kalian tidak akan bertengkar. Oh, iya, jangan sampai berita ini tersebar. Atau kalian akan dihukum,” saran Zeta.

Aku mengangguk pelan.

Sampai di asrama, aku masuk ke kamar dan mencari Jessie.

“Mau apa kau kemari?!” bentak dia.

“Hei, hei! Ini kan juga kamarku,” jawabku tak mau kalah.

“Lalu, tempat tidurmu di sana kan?” ujar Jessie menunjuk kasurku yang berwarna biru.

“Aku ingin minta sesuatu padamu,” kataku.

“Minta apa? Minta maaf? Huh. Karena kau tadi, rambutku jadi berantakan.”

“Aku? Minta maaf? Ha-ha-ha! Aku hanya minta, jangan sampai berita ini tersebar. Atau kita akan dihukum,” kataku sambil menuju tempat tidurku.

“Terlambat. Sudah kuceritakan semua pada Bu Ana. Aku bilang, kau yang menyebabkan ini semua,” kata Jessie.

Aku berbalik arah.

“Apa?! Kau sudah kehilangan akal? Bagaimana jika nanti kita dihukum?”

“Entahlah,” jawabnya singkat.

Rasanya aku ingin kembali memukul Jessie.

Keesokan hari, aku bangun pagi. Setelah sarapan, aku bergegas menuju kelas.

“Nabilla, Jessica! Setelah kelas berakhir, temui Ibu di ruang guru,” kata Bu Ana.

“Baik, Bu,” kataku dan Jessie bersamaan.

“Ini semua karena ulahmu,” kataku pelan.

“Bweek!” Jessie kembali menjulurkan lidah padaku, membuatku makin kesal.

Setelah kelas berakhir, kami menemui Bu Ana.

“Nabilla, Jessica, apa benar kalian membuat keributan di toko buku?” tanya Bu Ana.

Kami mengangguk.

“Ini semua karena Nabilla, Bu. Saya sedang membaca buku bersama Salsa, lalu dia dan teman-temannya menjambak rambut saya.”

“Jessica, Ibu belum meminta kalian bicara. Anak-anakku, kalian bukan lagi anak kecil. Seharusnya kalian bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kali ini, Ibu memaafkan kalian. Ibu tidak butuh penjelasan. Tapi jika kalian melakukan kesalahan yang sama, Ibu akan menghukum kalian,” kata Bu Ana.

Lalu beliau memperbolehkan kami kembali ke kamar.

“Ada apa?” tanya Aisyah dan Zeta.

“Ya, Bu Ana bilang jika kami melakukan kesalahan yang sama, kami akan dihukum,” kataku sambil merebahkan diri di kasur dan tertidur.

Hari ini sangat melelahkan.

 

Patemon, 26 Februari 2017

ilustrasi: buku van gogh dari AkuBuku – WordPress.com

Kinanti Gurit Wening, siswa kelas VIIA SMP Islam Al Madina Kota Semarang

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *