Mengapa Ada KTR (Kawasan Tanpa Rokok)?

Wiwit Sri Arianti

 

Sampai sekarang aku tak bisa mengerti kenapa orang mau meracuni diri sendiri dengan menghisap rokok yang jelas-jelas mengandung racun? Menurut informasi yang saya baca, beberapa racun atau bahan kimia berbahaya yang ada di dalam rokok adalah seperti  bawah ini:

Selain itu, beberapa penyakit yang dapat diderita oleh para perokok adalah kecanduan, kanker paru, serangan jantung, impotensi, dll. Namun semua itu tidak mampu menghentikan seseorang yang sudah terlanjur memiliki ketergantungan pada rokok. Bahkan seorang ayah pecandu rokok lebih memilih membelanjakan uangnya untuk rokok dibanding membeli makanan bergizi untuk keluarganya maupun untuk membayar sekolah anak-anaknya. Benarkah? Hehehe….

Aku salut dengan upaya yang pernah dilakukan oleh masyarakat di daerah Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), demi keberlangsungan pendidikan anaknya, para lelaki di daerah tersebut rela mengurangi bahkan ada yang berhenti merokok. Dan hasilnya luar biasa, anak-anak yang semula menunggak pembayaran sekolahnya menjadi terlunasi dan tidak menunggak lagi. Meskipun sekarang sudah ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah), namun biaya pendidikan tetap tinggi karena banyak sekali iuran dari sekolah yang harus dibayar oleh para orang tua dan walimurid. Semoga para lelaki di daerah tersebut tetap konsisten mengurangi bahkan berhenti merokok demi masa depan anak-anak mereka.

Aku juga selalu salut pada perokok yang bisa berhenti dan ketika kutanyakan kiatnya memang ada bermacam-macam alasan yang mendorong mereka untuk berhenti merokok, namun dari semua alasan dan motivasi tersebut yang paling penting menurut mereka adalah niat yang kuat dari dalam diri sendiri, tanpa itu akan sia-sia dan kambuh-kambuh lagi. Pikiran nakal yang kemudian muncul dari dalam diriku, kalau begitu apakah sebetulnya memang tidak ada niat yang kuat dari dalam diri mereka yang sudah “diperbudak”  oleh rokok sehingga jumlah perokok tidak berkurang bahkan semakin banyak terutama anak-anak remaja sebagai perokok pemula.

Ketika sedang diskusi tentang rokok, ada banyak hal yang menarik, pro dan kontra. Teman-temanku para aktivis yang mendampingi petani tembakau tentu akan bersuara lantang untuk membela dampingannya, mereka akan mengatakan kalau yang anti rokok tidak pernah memikirkan nasib petani tembakau dan buruh pabrik rokok jika rokok menghilang dari Bumi Pertiwi. Mendengar hal itu aku sering tersenyum sendiri, karena tembakau tidak hanya untuk rokok, tapi juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan yang dapat menyehatkan. Jika produk di rokok terhenti, buruh pabrik rokok bisa mencari pekerjaan di perusahaan yang lain, atau mengembangkan ketrampilan yang dimiliki yang selama ini tidak pernah diasah. Memang tidak semudah itu, tapi aku yakin kalau ada niat yang baik dan berusaha sungguh-sungguh disertai doa, Insha Allah pasti ada jalan yang baik.

Kata temanku para aktivis kesehatan kampanye anti rokok karena meyakini rokok itu berdampak buruk bagi kesehatan perokok dan orang-orang di sekitarnya, bahkan katanya perokok pasif itu lebih berbahaya. Tapi menurut aktivis lain yang pro rokok, mereka bilang, yang anti rokok sudah menjadi anteknya orang Barat karena ide anti rokok itu bergulir dari Barat. Jadi diskusi pro dan kontra tentang rokok memang jadi menarik. Di bawah ini salah satu kampanye sehat agar orang berhenti merokok. Bagaimana menurut teman-teman?

Beda lagi dengan aktivis perlindungan anak, mereka mendukung kampanye anti rokok karena ingin “menyelamatkan “ generasi dari bahaya asap rokok, sehingga getol  terlibat dalam berbagai kegiatan untuk penyusunan dan pengesahan regulasi tentang  kawasan tanpa rokok (KTR). Salah satu kawasan tanpa rokok adalah lingkungan sekolah, dalam rumah dan dalam gedung-gedung layanan publik yang ber AC. Karena ketika kita membiarkan orang dewasa merokok di lingkungan sekolah, secara tidak langsung kita mengumumkan bahwea rokok aman dan boleh dikonsumsi, bahkan sekaligus memberi contoh. Demikian juga jika di dalam ruangan ber AC ada yang merokok maka asap rokok akan cepat beredar di dalam ruangan dan tidak bisa keluar sehingga membuat orang yang berada di ruangan tersebut akan terpapar asap rokok dan bagi yang tidak tahan akan merasa pusing dan mual akhirnya bisa keracunan asap rokok tersebut.

Untuk di sekolah, Mendikbud sudah mengesyahkan Permendikbud  Nomor 64 Tahun 2015 tentang Kawasan Tanpa Rokok Di Lingkungan Sekolah. Yang dimaksud dengan kawasan tanpa rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual dan / atau mempromosikan rokok. Kawasan tanpa rokok ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan bebas rokok, sehingga anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan aman di sekolah. Sedangkan sasaran dari kawasan tanpa rokok di lingkungan sekolah adalah kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, dan pihak lain di dalam lingkungan sekolah.

Meskipun sudah ada Permendiknas, namun ketika aku kunjungan ke sekolah masih saja kulihat ada kepala sekolah merokok di halaman sekolah bersama komite sekolah yang datang, ketika dengan halus kuingatkan bahwa sekolah adalah kawasan bebas rokok, jawab beliau: “Maaf bu, saya hanya ngobyongi pak komite”. Tidak hanya itu, bahkan ada guru yang mengajar olah raga sambil merokok, ironis bukan? Dan yang lebih parah, masih ada saja kutemui guru mengajar di dalam kelas sambil merokok, ini sangat bertentangan dengan guru yang katanya digugu lan ditiru atau dipercaya dan dicontoh perilakunya. Itu artinya dengan merokok di depan peserta didik, secara tidak langsung guru mengatakan kepada anak-anak bahwa rokok itu aman dan tidak apa-apa merokok di sembarang tempat, bahkan di dalam ruang kelas.

“Foto puntung rokok di ruang guru”

“Foto puntung rokok di ruang tamu sekolah”

Foto-foto di atas membuktikan bahwa lingkungan sekolah belum bebas rokok, jadi masih banyak “PR” kita para aktivis peduli kesehatan dan perlindungan anak untuk terus kampanye penyelamatan anak dari bahaya asap rokok.

Hal yang mengagetkan, ketika kami mengadakan FGD (Focus Group Discussion = Diskusi Kelompok Terfokus), hal yang membuat anak-anak tidak senang belajar di sekolah adalah karena guru mengajar di kelas sambil merokok, sehingga mereka tidak konsentrasi dan sering pusing. Sejak itu, setiap aku ke sekolah dan melihat guru, kepala sekolah dan siapapun yang merokok di lingkungan sekolah, apalagi di dalam kelas, pasti kuingatkan dengan halus. Beberapa memang terlihat malu dan membuang rokoknya serta basa basi berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Di Republik ini masih sangat kuat budaya mencontoh meskipun yang dicontoh sering kali hal yang buruk dan tidak seharusnya dicontoh. Kalau di sekolah ada  kepala sekolah dan guru yang merokok di lingkungan sekolah, bahkan di dalam kelas waktu mengajar. Beda dengan di kantor dinas, di banyak Kantor Dinas Pendidikan kabupaten, kota dan provinsi yang pernah kukunjungi, tidak kalah parahnya. Pejabat Dinas Pendidikan juga merokok di ruang ber AC,  dan di sembarang tempat, bahkan di dekat baliho dan poster larangan merokok di lingkungan kantornya. Menurutku itu sangat memalukan dan menunjukkan bahwa pejabat tersebut tidak peduli dengan kepentingan orang lain. Pejabat yang tidak bisa memberi contoh dan berperilaku baik, menurutku tidak pantas jadi pejabat.

Di bawah ini bukti upaya pemerintah untuk penyelamatan anak-anak dan masyarakat dari bahaya asap rokok, sehingga membuat batasan-batasan pada kawasan tertentu untuk bebas dari asap rokok.

Poster tersebut dipasang di dinding salah satu sekolah dan di depan ruang kepala sekolah, tapi kutemukan ada seorang bapak, entah guru atau bukan yang dengan tenang merokok di dekat poster tersebut tanpa rasa malu dan tanpa merasa bersalah.

Poster di atas dipasang di dinding kantor Dinas Pendidikan, namun ada juga beberapa pejabat yang dengan tenangnya merokok di dekat poster tersebut dan ketika kuingatkan, dijawanya dengan bercanda, jadi masih parah juga.

“Foto kampanye anti rokok di dalam BusTrans Jakarta”


“Kampanye Bahaya Rokok” Foto: Grandyos Zafna/detikcom


“Seorang anak SMP Negeri 104 Jakarta membersihkan iklan rokok di sekitar sekolahnya” (Foto: Glery Lazuardi/Tribunnews.com)

Aku punya pengalaman yang buruk dengan rokok, beberapa tahun yang lalu waktu aku masih bekerja untuk anak-anak di Organisasi Internasional Non Pemerintah atau dikenal dengan “INGO”, ada banyak teman kerjaku yang merokok baik laki-laki maupun perempuan. Semacam ada pernyataan tidak tertulis bahwa perempuan pekerja di lingkungan organisasi internasional, merokok itu keren sehingga ada banyak temanku yang perempuan merasa bangga bisa merokok sama dengan para perempuan “bule” di kantor. Waktu itu aku sakit tenggorokan tidak sembuh-sembuh dan hasil USG, menurut dokter pita suaraku sobek/luka dan penyebabnya adalah terlalu lama berada di lingkungan yang penuh asap rokok. Dokter menyarankan aku harus menghindar dari lingkungan tersebut dan tidak boleh bicara selama 2 minggu, sehingga semua komunikasi kulakukan dengan tulisan, termasuk ketika sedang rapat.

Sejak itu aku seperti tersadarkan bahwa rokok memang sangat berbahaya, jadi aku harus terlibat dalam berbagai upaya untuk mengurangi korban rokok terutama anak-anak. Aku terlibat dalam diskusi-diskusi penyusunan Perda KTR di Surabaya dan Sidoarjo, kota dimana hidup kupertaruhkan. Aku juga mendukung gerakan perempuan anti tembakau, dimanapun kutemui orang merokok di sembarang tempat dan mengganggu, kuperingatkan baik2 agar tidak menyinggung perasaannya. Kepala sekolah, guru, dan siapapun yang kutemui merokok di lingkungan sekolah, termasuk di kantor-kantor Dinas, terlebih Dinas Pendidikan, juga kuperingatkan dengan halus. Aku melarang siapapun merokok di dalam rumahku termasuk di dalam kamar mandi, kalau mau merokok ya harus keluar rumah, bisa di teras depan atau belakang, jadi di ruang tamu juga tidak tersedia asbak. Aku juga tidak bersedia dititipi membeli rokok dan melarang siapapun meminta tolong anak-anakku untuk membeli rokok.

Seringkali aku travel ke daerah dengan menggunakan kendaraan rental, pada saat berhenti di salah satu toko untuk membeli air mineral dan makanan kecil, tiba-tiba kasir bilang kalau sopirnya mengambil rokok dan aku disuruh membayar. Tentu saja aku tidak mau bayar, kupanggil pak sopir, aku minta maaf dan menjelaskan kalau dia harus membayar sendiri rokoknya dan kujelaskan pula alasanku kenapa aku tidak mau membayar pembelian rokoknya. Tapi aku akan membayar makanan yang dibelinya meskipun lebih mahal harganya dari rokok yang diambilnya. Alhamdulillah pak sopir paham dan minta maaf juga padaku.

Sering kali orang tidak suka bahkan tersiksa dengan asap rokok namun tidak mau bicara pada yang merokok karena sungkan, atau tidak berani, atau alasan yang lain sehingga merugikan diri sendiri. So…bagi para perokok, sebetulnya kita sama-sama mempunyai kepentingan, yang anti rokok karena ingin hidup lebih sehat dan bisa menghirup udara yang bersih. Sehingga disediakan tempat-tempat tertentu supaya perokok bisa merokok namun tidak mengganggu bagi mereka yang anti rokok. Pesan terakhir ada di foto di bawah ini, dan yang lebih penting bahwa “Setiap orang itu pasti mati, baik yang merokok maupun yang tidak merokok. Namun, hidup sehat adalah pilihan, jadi terserah masing-masing mau memilih yang mana”. Karena setiap pilihan itu pasti mengandung konsekuensi, jadi bersiaplah juga dengan konsekuensi dari masing-masing pilihan…

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Mengapa Ada KTR (Kawasan Tanpa Rokok)?"

  1. Alvina VB  14 June, 2017 at 08:34

    Ya lebih miris lagi, kok ya hari ini lihat ibu yg hamil ngerokok di jalan, sedangkan dia sama anaknya yg balita….weleh……weleh……bayinya blm lahir aja udah dikasih nikotin dan anaknya yg masih kecil ikutan menghisap rokok juga. Ini betulan egois…….gak bisa tungguin sampe anaknya lahir?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *