Paradiso 2106

Ki Ageng Similikithi

 

Pagi yang cerah, tetapi cuaca masih terasa dingin. Bangun agak terlambat. Semalam diskusi sampai larut malam. Di hotel bintang lima yang megah, warna serba putih. Ruang makan itu terkesan besar, mungkin memuat ratusan kursi. “Good morning. What is your room number Sir?”. Saya menjawab nanar, belum jernih benar pikiran ini, “Paradiso 2106”. Waiter wanita itu menunjuk meja di ujung ruangan.

Ada kursi masih kosong. Beberapa teman sedang asyik menikmati sarapan di sana. “Coffee or tea?”. Saya menjawab singkat “Coffee please”. Wah nanti minum kopi sama French bread dan cheese Danish Luurpak. Cekatan waiter itu melayani. Raut muka nampak serius, mungkin karena banyaknya tamu yang harus dilayani. Ada enam kursi di meja itu. Hanya satu yang kosong. Saya sudah kenal beberapa teman yang ada di situ. “Good morning”. “Slept well Ki ?”. Saya jawab ringan “ So so, a little overslept”.

Ada pisau dan sendok terbungkus kain putih di atas meja. Tiba-tiba saya sadar tidak ada garpu di meja saya. “Give me a fork please. My kuchara”. Saya selalu kesulitan mengingatnya, kuchara garpu dan kukaracha kecoa. Dengan sigap waiter itu memberi saya garpu, “ Sorry Sir”.

Bau sedap European breakfast menusuk hidung. Saya mencari makan pagi hangat. Fried tomato, beef bacon, kacang merah, sosis, toast, strawberry marmalade dan cheese. Kok gak ada semua ya? Akhirnya dapat Spanish omelette dan orange juice. Tetapi terlihat berbagai jenis steak, beefsteak ukuran besar, lebih tebal dari telapak tangan. Juga grilled fish ukuran besar. Aneh makan pagi kok steaknya segini besar.

Seorang waiter pria nampak gagah berkulit sawo matang, menawarkan steam fish. “Thats good for you Sir”. Steam fish warna putih, ukuran sedang. Saya minta satu dan saya ambil beberapa sayuran segar di salad corner. Saya kembali ke meja. Teman-teman sudah selesai sarapan. Sudah pergi dari ruang makan. Saya ingin memulai menyantap sarapan. Tadi tidak ada garpu, lalu sudah diberi oleh waiter. Tetapi sekarang ada garpu, tetapi pisau gak ada. Waiter wanita tadi sudah gak kelihatan. Ruang makan mulai sepi. Waiter pria yang memberikan steamed fish tadi mendekat. “No problem Sir. In my island homeland, we use our hand. No need knife nor kuchara. Wash your hand ”.

Dia mencoba menjelaskan dengan ramah. Memberikan semangkuk air bersih untuk cuci tangan. Saya semakin bingung. “Come on, where is the knife ?”. Tiba2 suara gemerontang menggema di depan saya. Seonggok pisau sama garpu terserak di meja. Gak tahu dari mana asalnya. Terkejut bukan kepalang. Saya berteriak keras. Nyi membangunkan saya. Matahari sudah meninggi. Wah mimpi sehabis sahur pertama. Tentang suasana makan pagi yang selalu saya alami saat bepergian karena tugas. Paradiso 2106, dimana ya?

Salam damai dan selamat menunaikan ibadah puasa.

Salam Paradiso 2106

Ki Ageng Similikithi

 

 

 

5 Comments to "Paradiso 2106"

  1. Alvina VB  14 June, 2017 at 23:48

    dr. Budiono, selamat menjalankan ibadah puasa bersama kel. tercinta.

  2. Alvina VB  14 June, 2017 at 23:47

    Ha…ha….cuman mimpi aja ternyata….. Paradiso 2106 ya di P.Kapuk, Ki he…he….

  3. James  14 June, 2017 at 08:39

    smile……ternyata buka puasa dalam mimpi tapi tetep bikin ngiler foto2 nya

  4. Dj. 813  14 June, 2017 at 00:20

    Hallo Ki . . .
    Hahahahahahahahaha . . . bisa saja . . .
    Tapi ditahun 2012 di Jogya bukan mimpi . . .

    Saat di Jogya , ditengok Ki di Ambarukmo Hotel . . .
    Saat itu juga bulan puasa dan kelihatan semua pegawai hotel mengenakan pakain
    hitam bawahan nya dan putih atasan nya .
    Yang wanita memakai kerudung putih . . .
    Ruang makan juga sangat luas, bahkan di iringi dengan gamelan yang lirih .
    Suasana yang sangat menyenangkan . . .
    Terlebih karena diantar oleh Ki pribadi sampai di Hotel di Semarang .
    Ingat juga sopoir Ki kena tilang, karena melanggar garis putig yang tidak terputus . . .
    Ingat juga dijamu di Ambarawa di rumah Ki yang begitu besar . . .
    TERIMAKASIH KI . . .
    Satu kenangan yang tidak akan terlupakan . . .
    Salam manis dari Mainz , juga untuk Nyi, mas Gondo dan seluruh keluarga di Jogya

  5. Lani  13 June, 2017 at 23:05

    Ki Ageng: wakakakak jebule ming ngimpo to? Wah asem yo Ki

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *