Jangan tertukar, biar nggak tukaran

Fire – Yogyakarta

 

Saya minggu lalu baca artikel mengenai razia celana dalam di sebuah media online. Kalo nggak salah ini link-nya (http://nasional.kompas.com/read/2017/05/29/09451721/razia.celana.dalam). Perasaan kok pernah kenal sama yang nulis?

Ah, entahlah, mungkin pernah ketemu di Sarkem atau di Pakem … Yang jelas saya salut, beliau begitu hapal merk-merk celana dalam, mungkin diam-diam beliau adalah pemerhati celana dalam … entah di jemuran yang mana …. wakakak ….

Yang terbayang di benak saya, malah razia celana dalam di kost-kost-an cowok, gara-gara ada penghuni yang merasa celana dalamnya tertukar. Mungkin begini jalannya razia:

“Wah, yang ini kok sudah bau banget, mesti pemakaiannya “double-side” ini, hari ini side-A, besok side-B”
Berikutnya. “Lho, yang ini kok berenda-renda dan ada gambar bunganya? Ngembat jemurannya ibu kost ya?”

Saya malah jadi ingat suatu joke mengenai “razia” celana dalam yang dilakukan istri karena khawatir suaminya selingkuh. Suatu malam seorang suami telat pulang dengan alasan lembur. Karena kecapekan (entah kecapekan ngapain) ia langsung tidur tanpa berganti pakaian. Paginya selesai mandi, istrinya sudah menghadang menanyakan mengapa pada tumpukan pakaian kotornya nggak ditemukan celana dalam. Si suami lantas menjerit, “Astaga, saya semalam dirampok ….”

Baiklah, kali ini saya akan berfokus pada celana dalam laki-laki saja, karena perihal celana dalam perempuan biarlah diurusi oleh Betari Kona van Kiwir-kiwir. Seandainya ada kuis di mana yang ditanyakan bukanlah nama-nama ikan atau nama-nama pulau, tetapi nama merk celana dalam, maka yang paling duluan nyamber adalah anak kost.

Niteni kost-kost-an itu gampang, dilihat saja kalo keberagaman merk celana dalam di jemurannya cukup variatif. Siapa bilang perbedaan itu memicu konflik? Justru keberagaman (celana dalam) bisa meminimalkan potensi konflik. Coba bayangkan kalo satu kost merk celana dalamnya Hings semua, bakalan sering ketukar, sehingga berujung jadi tukaran … Apalagi kalo ukuran celana dalamnya sama. Mungkin bisa timbul keraguan saat dikenakan,

“Ini beneran celana dalam saya, bukan? Kok, kayak ada “rasa-rasa” …?” Tapi kalo merk-nya beda-beda, ada Hings, GtMan, Rider, Crorodile, Sony (ini merk celana dalam kok kayak piranti elektronik ya?), kan nggak gampang ketukar …

Di saat sekarang sudah marak laundry kiloan, dengan tarif murah, yang menjadi solusi masalah cuci pakaian bagi anak kost. Jaman dulu kalo nggak nyuci sendiri ya mencucikan ke tempat emak-emak yang menerima cucian di sekitar tempat kost. Hemat tenaga memang, tapi kadang ada juga dampaknya. Salah satunya adalah pakaian yang kelunturan, karena mungkin dicampur begitu saja saat mencuci. Bagaimana bila yang kelunturan adalah celana dalam. Yang kelunturan hitam, mungkin nggak begitu masalah. Kalo yang kelunturan merah, bisa jadi pink. Yang penting ingat peribahasa “Don’t judge the book by the cover”, jadi kita nggak boleh menghakimi kalo tampilan luar celana dalam itu mencerminkan kualitas “isi”-nya ….

Celana dalam ada yang menyingkat dengan kata “CD”. Padahal CD juga berarti kepanjangan dari compact disc. Nah, kalo ngobrolnya beda persepsi, bisa kejadian begini:

“Bro, masih punya CD kosong, nggak?”
“Tuh, ambil sendiri di jemuran …”

“Bro, CD kamu merknya Sony apa Hings?”
“Verbatim …”

“Bro, ini CD kamu error nggak bisa kebaca.”
“Mungkin kemarin kelunturan waktu di laundry.”

Kalo kita sudah terbiasa dengan suatu merk, rasanya kurang nyaman pake merk lain. Karena tiap merk punya perilaku tersendiri. Ada merk yang terasa lebih ketat, tapi ada juga yang memungkinkan “pergerakan internal” yang lebih akomodatif. Ada juga yang meminimalkan potensi “mlengse”. Mungkin perlu ada standar kekuatan celana dalam, misalkan “C&TBME” alias “certified & tested by mak erot”, wakakak ….

Saya pernah beli celana dalam murah-meriah di kaki lima, atau istilahnya beli di “dasaran”. Sepuluh ribu bisa dapat tiga waktu itu. Beli di dasaran, baru dicuci tiga kali, ternyata kolor sudah molor… Akibatnya gampang mlorot .. Ntar, pake celana dalam masak harus dikencengin dengan peniti.

Mungkin, celana dalamnya belum sesuai dengan standar SNI, Standar Ndaleman Indonesia ….. Menurut saya, sebaiknya penjual celana dalam dengan kualitas tersebut menyertakan bonus, jadi jual celana dalam “include” peniti. Begitu lebih fair. Saya ingat kalo beli arloji bertenaga batre di lapak PKL, saya tanya “Kuat berapa lama?” Sama penjualnya biasanya dijawab, “Tergantung pemakaian ..” Tapi pas saya beli celana dalam, kok jawabannya nggak seperti itu ya …? Mungkin perlu ada penjelasan di kemasannya, celana dalam ini tahan dicuci berapa kali. Dan juga tahan diplorotin berapa kali. Biar kolornya nggak cepet dol, perlu ada petunjuk untuk jangan buru-buru waktu mlorotin, atau mungkin terjemahan Inggris-nya “Do it smoothly and gently”

Saya ingat suatu joke. Sebuah tim peneliti mengadakan penelitian mengenai pakaian yang paling mendukung kecepatan atlet lari. Dikumpulkanlah sejumlah atlet dengan kecepatan lari yang setara, tetapi mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang pake jas dan dasi lengkap. Ada yang pake celana training. Ada yang pake celana pendek. Ada yang pake celana jeans. Ada yang sarungan. Pokoknya bermacam-macam. Ketika diadu larinya, ada seorang atlet yang melejit jauh meninggalkan yang lainnya. Yang manakah itu gerangan? Ya, yang nggak pake celana ……

Baiklah teman-teman, berapa merk celana dalam yang pernah panjenengan coba? Ada yang lebih dari 5? Ya .. sudah, sana sepedanya diambil …

 

 

About Fire

Profile picture’nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi.

Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

6 Comments to "Jangan tertukar, biar nggak tukaran"

  1. Dewi Aichi  16 June, 2017 at 17:53

    Sepedanya ngambil di mana? Malah digebukin orang nih ya nanti, dikira maling sepeda hahaa..gara-gara celana dalam..

  2. Lani  16 June, 2017 at 12:30

    Al: betooool mau model kayak apa ndak ngaruh yg penting katun…….mau warna polos atau kembang2 atau yg lainnya monggo waelah………

    James: hah? 90cm waistnya? perlu disingset ken……..pasti CD nya no 15 ya?????? kkkkkkk

  3. James  16 June, 2017 at 05:29

    Ci Lani dulu nomor waist 90 sekarang 85 karena berat badan turun, tapi sdh sekitar 10 th an gak beli tapi dikasih adik ipar yg kerja buat Bonds jadi gratisan deh

  4. Alvina VB  16 June, 2017 at 01:40

    Dua dibelakang mbakyu Lani. Kl masalah celdam, saya gak peduli mau potongan kaya apa, merek terkenal/gak yg penting bahannya katun/silk/bamboo/bahan natural yg lainnya, yg baik utk kulit kita. Polyester is a big NO, NO…

  5. Lani  15 June, 2017 at 11:48

    “Saya pernah beli celana dalam murah-meriah di kaki lima, atau istilahnya beli di “dasaran”. Sepuluh ribu bisa dapat tiga waktu itu. Beli di dasaran, baru dicuci tiga kali, ternyata kolor sudah molor… Akibatnya gampang mlorot .. Ntar, pake celana dalam masak harus dikencengin dengan peniti”.
    ++++++++

    Kang Geni: wakakak..salahe sopo tuku CD dilapak dasaran kaki 5. Opo ora kwalik, bukannya dipakai 3 kali dicuci sekali njur mbrodoli karetnya….hahaha…….

    Ketahuan suka yg murah meriah atau malah yg gratisan???

    Jelas klu mlorot, jeroannya melu melorot kkkkkk…….hadoh ngakak sampai nibo tangi aku……ditambah gejol2
    +++++++++++++++

    “Baiklah teman-teman, berapa merk celana dalam yang pernah panjenengan coba? Ada yang lebih dari 5? Ya .. sudah, sana sepedanya diambil …”
    +++++++++++++++++++

    Jelas pertanyaan kuwi tdk ditujukan buat orang wadon, jd monggo dijawab masing2 yg sesama jago……..

    Wakakak…….nomer CD dpt kado speda……..jiaaaaaan penulisnya kenthir!

    James: hayo dijawab pertanyaan kang Geni, brp no CD mu…………klu tdk berani jawab nggak dpt hadiah speda dr pentulisnya lo kkkkkkkk

  6. Lani  15 June, 2017 at 11:34

    Kang Geni: Pertamax!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *