Revolusi dari Sungai Merah

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Revolusi di Sungai Merah

Penulis: Agus Marwan

Tahun Terbit: 2017

Penerbit: Ombak

Tebal: xx + 204

ISBN: 978-602-258-439-1

 

Vietnam adalah sebuah negara yang sangat menarik untuk dipelajari. Khususnya tentang kekuatan mereka dalam perjuangan dan rasionalitas mereka dalam mengupayakan kemajuan. Negara yang dilanda peperangan berpuluh, bahkan beratus tahun ini terbukti unggul dalam berjuang. Tak ada bangsa yang begitu kuat bertahan dari perang yang susul-menyusul dan menang. Meski demikian, saat mereka telah merdeka, dengan cepat mereka membenahi arah negara untuk mencapai kemakmuran. Mereka tak terbelenggu dengan dendam masa lalu kepada China, Perancis, Jepang dan Amerika yang pernah menjajahnya dan telah membunuh banyak anak bangsanya. Saat mereka harus membangun, mereka lupakan luka masa lalu dan bergandeng tangan dengan pihak-pihak yang bisa membantunya menyejahterakan rakyatnya.

Sejarah Vietnam juga sangat menarik, karena bisa disandingkan dengan sejarah Indonesia sebagai sebuah studi perbandingan. Sebab kedua negara ini memiliki kemiripan, sekaligus perbedaan, seperti dijelaskan oleh Muljadi J. Amalik, sang editor. Mulyadi membandingkan sejarah komunisme di Vietnam dan Indonesia yang nasibnya berbeda. Muljadi juga membahas perjuangan rakyat antara kedua negara yang tiada pernah lelah mengupayakan kemerdekaan dari kungkungan penjajah.

Buku “Revolusi di Sungai Merah” karya Agus Marwan ini adalah salah satu buku yang membahas kehebatan Vietnam dalam merebut kemerdekaan dan mengupayakan kesejahteraan rakyatnya di jalur sosialisme. Agus Marwan juga membahas rivalitas antar faksi di tubuh Partai Komunis Vietnam dan bagaimana para elite bisa mengelola rivalitas tersebut sehingga tidak menjadi penghalang dalam mengupayakan kesejahteraan rakyat.

Mula-mula Agus Marwan memaparkan sejarah pergerakan kemerdekaan Vietnam. Ia menelisik jauh sampai abad kedua, dimana Vietnam berada di bawah kekuasaan Tiongkok selama 900 tahun. Pada abad kedua itulah nama Viet Nam mulai dipakai. Pada abad 19, ketika bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi dan kolonisasi, Vietnam berada di bawah jajahan Perancis. Perancis yang berupaya keras melakukan asimilasi budaya dengan pendekatan devide and rule akhirnya harus takluk kepada gerakan kemerdekaan rakyat Vietnam. Demikian pun dengan nasip Jepang dan Amerika. Kedua negara ini juga takluk kepada perjuangan kemerdekaan Vietnam. Bahkan Amerika bukan saja kalah perang, tetapi juga mengalami kekalahan moral dalam perang Vietnam ini. Meski tak secara langsung menyampaikan kesimpulannya, namun Agus Marwan menunjukkan banyak fakta bahwa keberhasilan Vietnam merebut kemerdekaan adalah karena adanya kaum muda terdidik yang kuat dalam ideology dan mau terjun secara langsung dalam peperangan. Salah satu pemuda itu adalah Ho Chi Minh.

Setelah merdeka, persoalan yang dihadapi oleh Vietnam adalah membangun negeri. Di sinilah kelihatan bagaimana Vietnam mampu mengelola perbedaan faksi-faksi yang tergabung dalam satu-satunya partai di negara tersebut, yaitu Partai Komunis Vietnam. Ada faksi yang pro Soviet, ada faksi yang pro Tiongkok. Ada faksi yang setia pada perjuangan garis sosialis keras, ada juga faksi yang lebih pragmatis. Namun mereka tetap setia pada pesan Ho Chi Minh untuk mempertahankan kepemimpinan kolektif kolegial. Sistem kepemimpinan kolektif kolegial ini bisa menjadi jembatan terakomodasinya semua faksi dalam pengambilan keputusan.

Bangsa Vietnam adalah bangsa yang berosientasi pada kesejahteraan rakyatnya. Buktinya ketika suatu pendekatan pembangunan ekonomi tidak berjalan, mereka dengan cepat mencoba pendekatan yang lain. Dalam membangun ekonomi negeri, Vietnam bisa mengesampingkan hubungan kurang baik di masa lalu. Vietnam bisa bergandeng tangan dengan Tiongkok dan kemudian membuka diri kepada Amerika untuk menyejahterakan rakyatnya. Meski Vietnam membuka diri terhadap investasi dari luar, namun Vietnam tetap mempertahankan sistem sosialis. Hasilnya? Kini Vietnam sudah tumbuh secara luar biasa dan siap menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia Tenggara.

Buku yang hanya 204 halaman ini memuat informasi yang sangat kaya tentang bagaimana bangsa Vietnam bisa berevolusi dengan cepat dan berhasil. Setelah membacanya saya jadi tertarik untuk membandingkan lebih dalam sejarah Vietnam dengan sejarah Indonesia. Misalnya tentang sistem kepemimpinan politik kolektif kolegial, mengapa Vietnam bisa menerapkan, sementara Indonesia kurang memakai sistem ini? Mengapa faksi-faksi yang seakan bertentangan tersebut bisa tetap bersama-sama membangun negeri, sementara perbedaan ideologi di Indonesia justru saling serang? Bukankah kedua negara ini sama-sama memiliki sejarah penjajahan yang lama? Bukankah Vietnam dan Indonesia sama-sama memiliki tokoh seperti Ho Chi Minh dan Sukarno? Bukankah kedua negara memiliki militer yang berasal dari rakyat?

Mengapa Vietnam bisa mengesampingkan sejarah kelam hubungannya dengan Tiongkok dan kemudian Amerika, sementara Indonesia masih terus menempatkan kepahitan masa lalu sebagai pertimbangan penting dalam menapak masa depan? Semoga Agus Marwan berkenan membuat buku lanjutan yang berisi studi komparasi sejarah Vietnam dan sejarah Indonesia. Kita tunggu.

 

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Revolusi dari Sungai Merah"

  1. Handoko Widagdo  18 June, 2017 at 11:15

    Avy, dari tahun 2006 sampai dengan 2012 saya menjadi konsultan di Vietnam. Proyeknya meliputi provinsi-provinsi di utara dan di selatan. Saya merasa bahwa utara jauh lebih maju daripada selatan.

    Tentu saya saya pernah melancong ke Ha Long Bay. Bahkan tulisan tentang pantai yang indah ini pernah terbit di KOKI. Juga menyaksikan water puppet di Hanoi tak lupa menyeruput espresso Vietnam dan menenggak bia hoi.

  2. Alvina VB  18 June, 2017 at 05:37

    Han, berarti sekarang Vietnam Utara dah jauh berkembang ya…. Dulu program pertukaran dan persahabatan 21st century utk para guru dari JICA program yg saya pernah ikutin (hampir 30 thn yg lalu), Vietnam Utara jauh terkebelakang saat itu di bidang pendidikan dan terakhir (mungkin 6/7 thn y.b.l) tanya temen yg masih suka ke Vietnam, mereka bilang tahunya Vietnam Utara blm juga berkembang, kl malam hari terbang lewat Vietnam yg terang itu bagian selatan, bagian utara masih gelap. Pernah ke Ha Long Bay gak dari Hanoi? Lain waktu kita bicara ttg org Vietnam yg gigih/pantang nyerah dan gak lupa sama sejarah negaranya. Ini salah satu key utk bisa maju yg org Ind kurang kembangkan, org Ind kadang ngikutin arus yg salah dan amnesia, he..he…

  3. Lani  16 June, 2017 at 12:26

    James: Aku lebih suka Bun drpd Pho…….

  4. Handoko Widagdo  16 June, 2017 at 08:22

    Benar James, apalagi kalau menyantapnya sambil duduk di kursi kecil di tepi jalan.

  5. Handoko Widagdo  16 June, 2017 at 08:21

    Avy, terima kasih untuk penjelasannya tentang situasi Indonesia dan Vietnam di tahun 1960-an. Namun kondisi Vietnam Utara dan Selatan sekarang sudah lebih seimbang. Dan bahkan menurut saya Vietnam bagian utara jauh lebih berkembang dari selatan karena pemerintah Vietnam memang banyak membangun di utara. Saya sering sekali ke Vietnam untuk menjalankan proyek pertanian di sana.

  6. James  16 June, 2017 at 05:37

    Pho Vietnam enak disantap kala Wunter

  7. Alvina VB  16 June, 2017 at 00:43

    Han, Kalau mempelajari tentang Vietnam dan Indonesia, sebetulnya ada benang merahnya. Rakyat biasa, khususnya para petani dua negara ini dulunya pro komunis dan yg gerah tentunya negara America yg lagi menghadapi perang dingin dan takut kl di negara spt Indonesia dan Vietnam, komunis akan berkembang pesat dan pengaruh Rusia akan lebih kuat dari Amerika sendiri. Mereka mengira kl komunis di Vietnam jatuh, maka pengaruh komunis di Asia Tenggara juga akan jatuh (unsur domino), ttp ternyata Vietnam lebih kuat dari prediksi mereka, makanya Gerakan 30 Sept adalah kudeta terselubung untuk menjatuhkan partai komunis di Indonesia yg punya hubungan akrab dengan Soekarno, sedangkan di Vietnam sana, partai komunis ternyata lebih kuat dan sampai saat ini di Vietnam Utara masih pro Komunis dan tidak berkembang pesat spt Vietnam Selatan yg lebih demokratis. Nanti lanjut ya komennya….

  8. Handoko Widagdo  15 June, 2017 at 12:28

    Lani, selamat mencari waktu membaca.

  9. Lani  15 June, 2017 at 11:55

    Hand: pertanyaanmu pd alinea terakihir “mengapa???” Mungkin sulit utk dijawab klu pikiran orang Indonesia tdk mau berubah……….jadi silahkan bertanya pd rumput yg bergoyang………..

  10. Lani  15 June, 2017 at 11:36

    Hand: buku ttg perang Vietnam………bacanya nyusul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *