Viral Fenomenal

Juwandi Ahmad

 

~Saya ditanya, apa yang membuat Afi mendadak viral-fenomenal? Selain kecenderungan masyarakat Indonesia yang suka mendramatisir, menyinetronkan sesuatu, setidaknya ada dua hal yang membuatnya viral-fenomenal~

~Pertama, ketidakakraban. Banyak remaja kita yang berprestasi, entah akademik, seni, menemukan, atau menciptakan sesuatu. Tapi agaknya, bergulat dalam dunia pemikiran (sosial-politik, budaya, keagamaan, kefilsafatan) tak begitu diakrabi oleh remaja kita. Maka, pemikiran, tulisan-tulisan Afi itu dipandang sebagai suatu lompatan. Atau katakanlah sebagai prestasi langka yang tak dimiliki kebanyaan remaja. Meskipun kalau dipandang dari perkembangan kognitif, itu bisa dibilang hal yang wajar saja. Usia antara kira 11 sampai 15 tahun itu merupakan tahap operasional formal, dimana individu sudah dapat berpikir dalam cara lebih abstrak, idialis, logis, penalaran hipotetis. Singkatnya, dilihat dari fase perkembangan kognitif, sangat mungkin bagi seseorang yang berusia diatas 15 tahun punya pemikiran-pembawaan yang idialis, logis, jernih, bahkan progresif. Tentu saja, ada banyak faktor yang mempengaruhinya~

~Kedua, Mewakili ideologi negara. Pemikian Afi sejalan dengan ideologi Pancasila, yang sedang gencar-gencarnya diserukan, sebagai reaksi atas kelompok yang berhasrat menggantikan Pancasila dengan ideologi lain (kekhilafahan). Afi yang masih remaja itu dapat menjadi peluru, kritik, dan juga cemooh bagi mereka yang sudah berumur juga gelar berderet, tapi dianggap berotak beku, terkungkung dogma. Memviralkan Afi, membuatnya fenomenal, dapat menjadi sebentuk serangan~

~Terkenal itu, artinya Anda disorot dari berbagai sisi. Terlebih bila Anda terkenal karena ide-ide Anda yang sejalan dengan satu fihak dan berseberangan dengan fihak lain. Saat Anda dianggap melakukan kekeliruan, kesalahan, Anda akan segera tahu, siapa yang akan paling getol menguliti, dan mencemoh Anda. Termasuk, siapa yang paling tidak suka melihat Anda terkenal. Kalau gagasan saya berseberangan dengan gagasaan Anda, dan karena gagasan itu lalu saya terkenal, tentu itu akan sangat menyakitkan bagi Anda~

~Nah, kasus plagiat yang dituduhkan ke Afi itu dipersoalkan, semata-mata karena ia mendadak terkenal. Gambarannya, Ada seseorang anak mengambil kaleng di teras rumah Anda. Anda biarkan saja, sebab hanya kaleng yang tak penting bagi Anda, juga bagi banyak orang. Nah, situasinya menjadi lain ketika ada orang yang mau beli itu kaleng 1 Milyar. Apa yang terjadi. Heboh.! Jadi perbincangan. Munculah, perkataan, “Padahal itu kaleng colongan.” Atau, “Dia mencuri.” Yang lain bilang, “Nggak papalah cuma kaleng. Toh niatnya baik untuk celengan. Lagian dia juga masih bocah.” Dan yang lain lagi menimpali, “Ambil tanpa ijin, itu salah.”

Nah, tentu saja yang paling berbahagia dengan muculnya tuduhan plagiat itu adalah orang-orang yang berseberangan dengan Afi. Gambarannya, seperti saya bilang tadi, kalau gagasan saya berseberangan dengan gagasaan Anda, dan karena gagasan itu lalu saya terkenal, itu akan sangat menyakitkan bagi Anda. Dan ketika gagasan saya itu dianggap plagiat, dan atau terbukti plagiat, maka itu momen terbaik bagi Anda untuk menyerang saya sekeras yang Anda bisa. Itu akan menyenangkan sekali bagi Anda. Anda bisa bilang, “Huh terkenal karena ide colongan!”~

~Apa yang ditulis Afi, memicu, membangkitkan syahwat politik-keagamaan di kedua kutub. Ada gesekan, benturan disitu, sehingga apa yang disebut sebagai plagiat dan prestasi disitu menjadi semu. Atau dengan kata lain, bila dikatakan bahwa gagasan Afi itu luar biasa, layak contoh, dan bahwa ia tak melakukan plagiat, itu hanya dari satu sudut pandang saja. Di fihak lain, Afi plagiat, dan bukan saja tak layak contoh, tapi juga menyesatkan.~

~Dan, seperti sering sekali saya katakan, “Berpikir dan dianggap sesat jauh lebih bermartabat daripada tidak berpikir namun selalu merasa benar. Siapa yang lebih mungkin tersesat, yang berpikir atau kah yang merasa benar?” Dari sisi itu, Anda segera tahu bahwa saya segagasan dengan Afi. Dan saya tak keberatan bila Anda menyebutnya sebagai: syahwat politik-keagamaan saya~

 

 

3 Comments to "Viral Fenomenal"

  1. Dewi Aichi  19 June, 2017 at 21:49

    Pada bobok manis…kekenyangan..

  2. James  19 June, 2017 at 17:37

    pada kemana nih ?

  3. James  19 June, 2017 at 10:10

    1……kadir menantikan para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *