Lelaki yang Berdiam di Makam

Gunawan Budi Susanto

 

Seorang mantan serdadu Belanda, yang alih profesi jadi juru warta, suatu kali meliput Perang Aceh. Sepenuh kekaguman dia melaporkan, pada 11 November 1902, di Gampong Biheu antara Sigli dan Padang Tiji, pasukan marsose berpatroli rutin. Belasan personel marsose di bawah komando T.J. Veltman itu menyusuri jalanan di Biheu dengan senjata lengkap; karaben dan kelewang.

Di sebuah persimpangan, mereka memapasi seorang perempuan. Seorang marsose curiga melihat sesuatu menyembul di balik sarung perempuan itu. Dia menyuruh perempuan itu berhenti. Saat dia hendak menggeledah, perempuan itu menghunus sebilah rencong dari balik sarung.

“Mati kau jika menyentuh tubuhku!” seru perempuan itu.

Lalu dia pun melabrak pasukan itu. Namun dia terkulai dengan dua tetakan kelewang di kepala, dua di bahu, dan satu di otot tumit hingga putus. Dia rubuh bersimbah darah, dengan tangan kanan erat menggenggam rencong. Namun dia tak menyerah.

Serdadu itu hendak membunuhnya. Namun sang komandan mencegah. Pasukan pun melanjutkan patroli, membiarkan perempuan itu terkapar.

Keluarganya menemukan dan mengobati dia. Beberapa hari berikutnya, marsose menemukan dia di balik tumpukan pakaian rombeng di rumah seorang penduduk.*)

Penguasa jajahan menangkap dan membuang dia ribuan kilometer dari tanah kelahiran ke sebuah kota kecil yang dikelilingi hutan jati terbaik sedunia. Dialah yang meminta, lantaran tahu di sana hidup sekelompok orang yang secara gigih, tanpa kekerasan, melawan penguasa jajahan. Kota dengan penduduk yang selalu dirundung kemiskinan. Kota yang selalu seperti kehilangan harapan – tetapi lalu muncul seseorang yang menyebut diri Panembahan Herucakra, yang mengobarkan perlawanan tanpa senjata.

Di tanah asal, dia panglima perang. Panglima yang tak pernah tunduk, tak pernah takluk, di hadapan karaben, bayonet, kelewang tajam penjajah berkulit putih, berhidung panjang, berambut merah.

Namun, kini, dia tak lagi berada di kelebatan hutan belantara di tanah tercinta. Kini, dia berada di sebuah kota di tengah kelebatan hutan jati yang belum dia ketahui tabiat dan watak penghuninya. Dia hanya boleh bepergian tak jauh dari rumah yang disediakan penguasa jajahan – yang khawatir dia bakal memengaruhi siapa saja untuk angkat senjata.

Bahkan penguasa jajahan pun masih sibuk mencari cara menjinakkan dia. Bukan lewat jalan kekerasan, melainkan siasat yang melembutkan: perkawinan! Ya, mereka berupaya agar sang panglima menikah kembali dengan entah siapa, yang belum bisa mereka tentukan – agar tak lagi bermimpi tentang kemerdekaan bagi tanah tercinta, karena kemerdekaan pribadi pun kelak sirna justru dalam mahligai rumah tangga. Mereka berupaya mengubah dia menjadi perempuan sebenar-benar betina – yang hanya melahirkan anak, tanpa perlu jadi pahlawan bagi siapa pun. Namun gagal.

Dia bisa dialahkan dan ditangkap lantaran pengkhianatan sang suami. Dia dibuang bersama seorang kerabat dan seorang putra, yang setia mendampingi melawan perampok kekayaan dan kesucian tanah kelahiran. Putra sulungnya sudah lebih dulu dibuang ke Tondano, Sulawesi.

Kini, di tanah yang gersang, di dalam rumah yang selalu diintip telik sandi, dia hidup tanpa pernah tahu: kapan bisa angkat senjata kembali di kelindapan hutan belantara di ujung baratlaut negeri kepulauan ini. Di rumah itulah dia tinggal bersama anak hasil pernikahan dengan lelaki yang tak cuma mengkhianati dia. Namun mengkhianati pula tanah suci yang diperuntukkan Allah bagi mereka.

“Betapa tega Abu mengkhianati kita, Ma,” ujar sang putra.

“Dia pengecut keji, Nak! Tak perlu kausebut dan ingat dia lagi!” sahut dia.

“Ya. Dia tak layak saya ingat lagi, Ma,” sahut sang anak.

“Camkan, Putraku, kita tak pernah menyerah. Kita kalah, tetapi tak pernah menyerah. Sampai kapan pun, Putraku, kita harus terus berlawan!”

“Bagaimana mesti melawan, Ma? Sedang kini cuma tubuh milik kita?”

“Kita punya pikiran, kita punya hati. Itulah senjata kita!”

Begitulah, dia menolak setiap lelaki yang disodorkan pemerintah jajahan. Dia menolak jatuh cinta. Dia tahu, siapa pun lelaki itu adalah umpan, jebakan, agar dia tunduk dalam siasat jahat penguasa.

“Tak tersisa celah sesempit apa pun di hatiku bagi kehadiran lelaki. Cintaku telah kulunaskan bagi kejayaan negeriku. Cintaku pada lelaki melenyap sudah bersama pengkhianatan. Siapa pun hendak merebut hatiku, hanya akan beroleh empedu. Siapkah Anda menelan kepahitan dan kenyerian itu?” tetak sang perempuan kepada setiap lelaki yang datang silih berganti.

Para lelaki pun terbirit-birit, serupa anjing yang mengempit ekor di selangkangan. Melesat tanpa mendengking, tanpa menguik.

Menghadapi jalan buntu, penguasa jajahan mengubah siasat. Mereka sibuk menelisik, mencari, lalu berupa mempertemukan gadis – anak pegawai kolonial dan priayi terpilih — dengan putra sang panglima. Sang putra jatuh cinta pada seorang gadis – cantik, cerdas, dan perwira. Mereka menikah. Berhasilkah siasat penjinakan itu?

***

Perempuan perkasa itu wafat 20 September 1937. Sang Gagah Berani, julukan dari Veltman, dimakamkan di tanah pengasingan. Makam itu selalu dijaga sang cucu, Marko – nama yang diambil dari seorang digulis.

Gambaran sang nenek dengan kaki terpincang-pincang terus melawan penjajah tak lekang dari benak Marko. Ya, betapa mungkin dia menghapus kepahlawanan sang nenek dari ingatan? Itu pula yang membuat dia sadar, sekali melenceng dari jalan kebenaran, dia bagai menetakkan kembali pengkhianatan pada sang nenek.

Kini, dia tak lagi muda. Namun masih setia menunggui makam neneknya, sejak berpuluh tahun lalu. Apa yang membuat dia bersiteguh?

Ketika berkesempatan pergi ke kota kecil itu, aku pun menelisik kebenaran kabar tersebut. Setelah bertanya kian-kemari, aku menjumpai dia di pekuburan tua di tepian kota.

“Teuku, maaf mengganggu. Jika tak keberatan, saya ingin berbincang,” ujarku pada lelaki sepuh yang masih pengkuh itu.

Dia melengak, menatap tajam. Angin berkesiur. Cecerowet burung melenyap. Daun bambu berkeresik diterpa angin. Aku berdebar, menunggu.

“Apa yang ingin kauketahui, Nak?” tanya dia. Suaranya dalam, menggeletar.

“Apa yang Anda lawan dengan berdiam diri di makam?”

“Kau tahu, makam siapakah ini?”

“Nenek Anda.”

“Siapakah nek inoeng-ku?”

“Perempuan perkasa yang tak kenal menyerah.”

“Kubur siapakah di sebelah nek inoeng-ku ini?”

Aku menggeleng.

“Istriku,” lanjut dia, lalu terdiam.

Sejenak tatapannya melunak. Perlahan dia berdiri dan melangkah. “Ikuti aku,” ujar dia.

Aku bangkit, mengikuti dia ke gubuk di tepian makam. Tak jauh dari pusara kedua perempuan itu.

“Duduklah.”

***

Aku likuran tahun saat bergabung dengan laskar dan bertempur melawan Belanda. Saat itulah aku bertemu seorang gadis sukarelawan. Eng Hwa Nio.

Ketika merdeka, kami menikah. Aku keluar dari ketentaraan, membantu Nio berjualan di toko kelontong di rumah kami. Toko kami ramai. Sayang, kami tak dikarunia anak.

Di samping toko ada ruang kosong yang acap digunakan kawan-kawan Nio bertemu dan berapat. Akhirnya ruang itu jadi sekretariat organisasi mereka. Mereka berkehendak membaur, menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa dan negara ini. Pembauran tanpa kehilangan karakter dan ciri kultural. Itu mereka tunjukkan antara lain lewat ketidaksediaan mengubah nama. Bukankah itu bagian dari keragaman kekayaan kita?

Mungkin karena sikap itulah, berbelas tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan negeri kita, rumah kami didobrak. Toko kami dijarah, istriku ditangkap dan ditahan. Dia meninggal di tahanan, tanpa pernah diajukan ke pengadilan.

Rumah kami disita dan dijadikan markas militer sampai sekarang. Aku terusir dan kembali ke rumah keluarga peninggalan nek inoeng-ku. Ketika penguasa berganti, aku menuntut pengembalian rumah itu lewat pengadilan dan meminta ganti rugi atas penjarahan toko kami. Namun apa yang terjadi? Aku diintimidasi tak henti-henti. Aku tak peduli. Rumah itu hakku. Hak yang kuperoleh secara sah lewat perkawinan dengan Nio, yang menerima warisan dari orang tuanya.

Aku kalah di pengadilan tingkat pertama. Aku banding, tetapi lagi-lagi kalah. Aku mengajukan kasasi. Menang! Jadi seharusnya rumah itu dikembalikan bukan? Namun tidak! Bukan itu yang terjadi. Nah, apalagi yang mesti kulakukan untuk memperjuangkan hak?

Aku sudah tua. Kini, tak ada lagi yang kutakutkan. Hak tetap hak. Mesti kurebut, kuperjuangkan. Karena itu, hampir dua puluh tahun sudah aku tinggal di makam ini. Inilah perlawananku. Perlawanan diam. Aku mengukuhi amanat Nek Inoeng; pantang menyerah melawan ketidakadilan dan kebengisan. Secara hukum aku menang, tetapi ternyata itu tak cukup.

Inilah yang bisa kulakukan. Meski berdiam diri, aku tetap melawan. Sampai kapan? Aku tak tahu. Jika aku mati di sini, itulah takdirku. Namun tak perlu berlebihan memaknai perlawananku. Ini tak sebanding dengan perlawanan Nek Inoeng dan Abu. Aku cuma memperjuangkan hak pribadi. Mereka melawan untuk kepentingan jauh lebih besar, jauh lebih agung!

***

Di kamar hotel, aku menjublak diam menatap layar laptop. Aku nyaris tak berkedip mengamati foto lelaki tua itu yang sedang menekuri kedua makam perempuan tercinta: sang nenek yang perkasa dan istri tercinta.

Aku belum tahu kabar atau kisah macam apa yang bakal kutorehkan. Kabar atau kisah yang tak sekadar mengulang peristiwa yang telah dan sedang terjadi. Aku ingin kisah itu bisa membangkitkan kesadaran pembaca: seseorang harus melakoni hidup secara bermartabat – apa pun jalan yang dipilih dan risiko yang dialami.

Aku mengeklik dan muncul foto lain: profil perempuan perkasa dengan tatapan tajam menetak. Aku menatap dengan takzim. Dialah panglima perkasa yang gagah berani, panglima yang tak pernah menyerah. Dialah….

 

Gebyog, 28 Maret 2017: 18.09

 

*) Terima kasih pada, antara lain, Iskandar Norman, “Inong Aceh di Mata Belanda: Ceubeh”, 09 April 2015, archives.portalsatu.com/histori/ino… ; “Pocut Meurah Intan, Sang Ratu Perang”, www.atjehcyber.net, Wednesday, August 17, 2011 21:58 WIB. Kisah gubahan ini saya tulis, setelah membaca dua artikel tersebut, sebagai wujud rasa hormat dan penghargaan kepada sang Gagah Berani.

ilustrasi foto dari Sariman Lawantiran

 

 

 

2 Comments to "Lelaki yang Berdiam di Makam"

  1. Ubarito  4 October, 2018 at 14:27

    Mas Marco
    Seorang Digulis beraliran kiri
    Memiliki keponakan beraliran kanan
    Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo

  2. James  21 June, 2017 at 05:53

    Dua Pahlawan Nasional termasuk salah satunya warga keturunan Tionghoa tapi Tidak Dikenal

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.