Menjaga Akhlak

Wesiati Setyaningsih

 

Akhlak itu apa sebenarnya? Parameter atau ukurannya apa? Pertanyaan ini berkubang dalam benak saya dan belum ada jawabannya sampai sekarang.

Ceritanya beberapa hari lalu ada orang tua murid mengirim pesan lewat WA ke saya. Kayanya beliau kesal karena anaknya meminta dia menandatangani surat pernyataan akan meningkatkan akhlak anaknya. Yang menyuruh guru agama Islam. Beliau tersunggung dengan kata “meningkatkan akhlak” di situ.

“Kok kesannya anak saya itu nakalnya minta ampun sampai harus meningkatkan akhlak,” tulisnya.
Karena saya sendiri sedang lelah mengurus pendaftaran siswa baru dan pada saat yang sama mesti lembur nilai, saya cuma bisa jawab, “coba besok saya tanyakan sama gurunya, Bu.”
Beliau puas dan menunggu kabar dari saya.

Baru beberapa hari kemudian saya bisa menemui guru agama tersebut. Saya langsung tanyakan apa maksudnya surat pernyataan tersebut.

“Namanya, anak kan kadang ada nakalnya to, Bu,” kata pak guru agama Islam yang ganteng dan masih muda ini. “Kadang pas solat dhuhur dia nggak solat, pas diterangkan malah main hape, atau kita lihat dia duduk di meja. Itu yang saya maksud biar orang tuanya memperbaiki akhlak anaknya.”

Saya tercenung. Tiba-tiba saya paham kebingungannya. Sebagai guru agama dia dapat tanggung jawab yang luar biasa: ‘meningkatkan akhlak’. Padahal akhlak adalah hal yang sangat nisbi. Relatif. Nggak jelas ukurannya apa. Akhlak bisa baik atau buruk tergantung yang melihat. Sungguh subyektif sekali.

Di mata saya, anak yang kena tugas bikin surat pernyataan itu adalah anak yang baik. Selalu semangat di kelas dan nilainya bagus-bagus. Tapi kalau ternyata ada guru yang baperan, bisa saja dia dibilang “nakal”. Who knows? Jadi yang namanya akhlak ini sungguh membingungkan kalau diminta ada peningkatannya. Wong kondisi awalnya aja nggak keliatan kok.

Demi lancarnya belajar mengajar, saya kasi saran saja. Besok lagi kalau ada pelanggaran, ditulis saja. Ada tanggal dan bentuk pelanggaran, anak diminta paraf. Jadi dia tahu pelanggaran yang telah dia lakukan. Di akhir semester kalau mau nyuruh bikin surat pernyataan lagi, ini bisa dilampirkan. Teman saya ini mengiyakan. Hal ini saya sampaikan kepada ibu tadi.

Waktu terima rapot, si Ibu curhat lagi, “anak saya lulusan sekolah Islam lo bu. Kok bisa disuruh bikin surat pernyataan karena nggak solat. Wong malah dia yang suka ngajak temannya solat, katanya. Anaknya nangis-nangis kemarin. Saya sungguh kaget karena ada tulisan “meningkatkan akhlak”. Dikata anak saya ini bejat apa?”

Ini ceritanya ada yang lebay menyangkutkan pelanggaran kecil sebagai rendahnya akhlak. Dan ada orang tua yang nggak bisa menengarai guru juga bisa lebay saking bingungnya dengan tugas yang dia emban.


Akhlak, akhirnya, ibarat ular siluman. Dia nggak keliatan dan nggak punya ukuran. Mereka yang memujanya, bakal tertipu. Menjaganya habis-habisan bisa tiba-tiba kehilangan. Sementara yang pernah melihat juga belum tentu tak punya.

Makanya aneh kalau ada gelar “berahlak mulia” yang bisa disematkan pada seseorang. Karena sama aja menyematkan pin ular siluman. Magic!

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Menjaga Akhlak"

  1. James  24 June, 2017 at 05:31

    mbak Lani, pokoknya kalau ahlak buruk jangan ditiru saja

  2. Lani  23 June, 2017 at 05:11

    Kang Monggo: jossssssssss……….sampeyan, mungkin mmg akhlak tdk hanya mblundeeeeeeeeeer didalam soal agama saja……….

    Gimana James menurutmu???

  3. James  23 June, 2017 at 05:08

    Ha ha ha bener setuju dengan bung Sumonggo

    Halo para Kenthirs yang berahlak di Baltyra

  4. Sumonggo  23 June, 2017 at 03:43

    Akhlak itu adalah:
    -Antre dengan tertib
    -Mematuhi peraturan lalu lintas
    -Tidak menyebarkan kabar hoax
    -Tidak melakukan diskriminasi baik itu suku, agama, ras, gender, disabilitas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *