Seruan bagi Jomblo Takterkalahkan

Gunawan Budi Susanto

 

Saudari-saudara sejomblo-sekesengsaraan, salam!

Pada hari yang suci, hari kemenangan ini, banyak sekali ejekan, sindiran, penistaan kita alami. Siapa pun sang pelaku — teman, saudara, guru, dosen, atasan, bawahan, kolega – kita maafkan. Ya, kita maafkan sepenuh kegembiraan, sepenuh keikhlasan.

Biarlah kita simpan rasa sakit, rasa pedih, rasa perih, rasa sepi dalam keriuhan, dalam balutan keramahan dan kehebohan. Kita pendam dalam-dalam, kita bekap rapat-rapat, segenap rasa sunyi, sepi, hening pada malam yang bening – yang kempling macam gelas-gelas kaca tanpa stiker, tanpa tanda tangan di pipi, dan sebagainya. Biar, biarlah mereka terus menggonggong dan kita pun tak perlu berlalu ke mana-mana.

Kawan-kawan sejomblo-sependeritaan….

Memang sakit, memang pedih, mendengar atau membaca berbagai penistaan terhadap kita, terlebih di jejaring perkawanan ini. Kita disebut sebagai kaum tak beruntung, kaum yang tersisih dari rezeki perjodohan dan percintaan, kaum yang telantar pada saat banyak pasangan tampil sebagai keluarga bahagia. Tak perlu kita bilang sialan, tak perlu kita sebut astaganaga. Biarlah kepedihan kita menjadi hiburan bagi kaum yang merasa berbahagia itu. Itulah kontribusi kita bagi kehidupan bersama: menumbuhkan kesenangan dan kebahagiaan masyarakat di tengah ketidakberuntungan kita. Tak apa. Jangan kecil hati. Toh, seperti pernah ditulis Gunawan Budi Susanto, meski jomblo, sendirian sepanjang puasa dan hari raya, toh kita bisa salat id bersama-sama, lalu bermaaf-maafan berjamaah pula. Coba, kenikmatan apalagi yang hendak kita dustakan!

Sahabat sejomblo-seperjalanan mudik gratis atau tak gratis….

Kecuali status kejombolaan sebagai pilihan filosofis-ideologis, harus kita akui kita memang kaum yang tak beruntung. Namun, percayalah, itu bukan kondisi permanen. Kita, berusaha atau tidak, akhirnya kelak toh harus mengakhiri masa lajang: suka tak suka, terpaksa tak terpaksa, dijodohkan atau menjodoh-jodohkan diri. Maka, mari kita hayati sepenuh hati, seintens mungkin, masa kejombloan kita dengan laku prihatin, menikmati betul pedih-perih, merasakan betul kesepian, kesunyian, keheningan, kengungunan, kenglangutan, atau apa pun istilah yang pas atau tidak pas untuk melukiskan batin kita, sehingga kelak kita bisa merasakan betapa bahagia saat masa penuh cobaan kenyinyiran itu berakhir.

Sohib-sohibul sejomblo-sepermainan….

Saat mudik, berlebaran, di tengah kehangatan keluarga ini, kita acap menerima pertanyaan klise, “Masih sendiri? Kapan menikah?” Bersabarlah, ini ujian. Bukan pujian! Masa-masa sakit dan menyakitkan ini memang harus kita lalui. Ada pepatah: berenang-renang ke hulu, berendam di tepian — bersakit-sakit dahulu, bila jomblo sakit, jangan ke dokter untuk berlebaran. Maka, hanya ada satu kata – sebagaimana pernah secara lantang disuarakan Wiji Thukul: lawan! Ya, mari kita lawan segala ejekan, sindiran, penistaan itu dengan senyum maklum, senyum dikulum, senyum tulus, atau senyum kepalsuan tak apalah. Tak perlu meradang, tak perlu sedu-sedan itu. Atau, nah ini, saya punya gagasan: setelah lebaran, kita adakan kemah kaum jomblo se-Indonesia. Bisa saja saat itu kita gagas pendirian partai: Partai Indahnya Jomblo Akut Takterkalahkan (PIJAT). Kita bisa memilih masuk ke dalam sistem demokrasi elektoral atau berjuang di luar sistem untuk menegakkan kesetaraan hukum melawan penistaan.

Karib-kariban sejomblo-sekeputusasaan….

Akhirnya, untuk meneguhkan tekad mengarungi kehidupan penuh penderitaan, saya mengajak Anda bertemu untuk membicarakan dan menyelenggarakan Kemah Antikemapanan Melawan Penistaan terhadap Kaum Jomblo Indonesia (KAMP-KJI) 2017 di Kedai Kopi ABG Jalan Raya Patemon 48G Gunungpati, Kota Semarang, Selasa, 11 Juli 2017 mulai pukul 20.00.

Perkara lain-lain menyusul….

 

Salam perjuangan, salam setengah merdeka!

Blora, 26 Juni 2017: 19.52

Kluprut bin Naif

 

· gambar ilustrasi dari Pat21sinaga’s Worpress.com

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Seruan bagi Jomblo Takterkalahkan"

  1. Sumonggo  27 June, 2017 at 17:28

    Mungkin perlu segera dilakukan revisi pasal-pasal KUHP, pertanyaan “Kapan kawin …?” dimasukkan ke dalam pasal ujaran kebencian atau melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap orang lain. Ha ha …..

  2. James  27 June, 2017 at 10:34

    biar Jomblo juga pasti punya keindahan hidup tersendiri yang tidak dapat dialami oleh orang lain, be your self that’s it

  3. Lani  27 June, 2017 at 06:50

    Alinea paling akhir komentarku: ada2 aja jomblo aja dibicarakan………diceramahkan kkk

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *