Aku Berharap tak Pernah Lagi Mengigau

Gunawan Budi Susanto

 

Sore tadi, dedaunan bertebaran di pekarangan samping rumah. Namun aku malas menyapu. Aku juga malas membantu Ita, istriku, yang bersibuk di dapur: memasak. Aku pun lagi jenuh membaca. Padahal, aku selalu tak nyaman saat tak melakukan apa-apa. Sialan!

Akhirnya aku masuk ke ruang kerja dan duduk di balik meja. Kubuka laptop, masuk ke jejaring sosial. Kampret! Kebanyakan status berupa hujatan, penistaan, dan kenyinyiran; menyinyiri seseorang yang lari ke luar negeri ketika hendak ditangkap dalam kasus percakapan mesum, menyinyiri gubernur petahana yang kalah dalam pemilihan dan kini jadi penghuni rumah tahanan, menyinyiri bocah lulusan SMA yang menjiplak tulisan soal agama warisan dan jadi selebritas dadakan – diundang unjuk bincang di universitas ternama dan stasiun televisi nasional serta diundang ke istana sang presiden — atau menyinyiri apa saja yang bisa dinyinyiri sesuka-suka.

Memuakkan! Ah, mending bikin cerita ketimbang bengong. Cerita apa saja. Namun, celaka, di benakku tak muncul gambaran menarik mesti menulis apa. Rasaku juga tak berkedut seperti biasa ketika merasa ada bahan cerita yang elok.

Elok? Ah, menyebut kata itu aku teringat Elok. Kini, Elok berada di Prancis. Aku tak tahu persis program apa yang dia ikuti, sehingga bisa tinggal sepuluh bulan di negara itu. Sekali waktu, di sesela jadwal program itu, dia bahkan bisa pelesir pula ke Belanda.

Kenapa pula tiba-tiba aku ingat dia, sedangkan kenal pun cuma selintas? Apa pula yang bisa kuceritakan soal gadis manis berkacamata itu? Tak ada! Jika aku nekat bercerita soal Elok, alamat kisah yang kaubaca akan jadi omong kosong belaka. Kisah yang sepenuh-penuh imajinatif. Padahal, kau tahu, aku tak bisa menulis kisah macam itu.

Lagipula bisa saja ada yang tersinggung kalau aku ngotot berkisah tentang dia. Tersinggung karena mengira aku telah bla bla bla…. Atau, mungkin saja ada yang mengira apa yang kutulis sepenuhnya benar, lalu jadi rumor, misalnya, bahwa aku punya hubungan khusus dengan dia. Nah, coba, jika rumor ngawur itu sampai ke kuping Ita dan dia percaya begitu saja, apa tak bikin runyam?

Jadi, lupakan saja soal elok atau Elok.

Aku membuka dan menggagapi laci meja. Kutemukan secarik kertas bertulisan tangan. Pesan Ibu! Ya, itulah tulisan tangan Ibu yang kutemukan di sesela buku koleksinya, sepekan setelah Ibu meninggal dunia.

Ada enam pesan Ibu. Pertama, janganlah kamu mempunyai musuh. Kedua, tetangga adalah saudara. Ketiga, saudara adalah saudara. Keempat, meskipun kamu dimusuhi orang lain, janganlah engkau membalas dan berbaikanlah kamu seakan-akan kamu tidak tahu bahwa kamu dimusuhi. Kelima, jangan mempunyai rasa dendam karena dendam itu akan merampas dirimu sendiri. Keenam, berilah maaf kepada orang yang minta maaf kepadamu, karena Tuhan pun selalu memberi maaf. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Maka saling memberi maaf adalah budi pekerti yang luhur!

Poin kedua itu, ah betapa sulit! Jika tetangga adalah saudara, berarti tak boleh dong saling mencintai sebagai sepasang kekasih. Jika nekat menjalin cinta, lalu menikah, inses dong!

Namun, kau pasti tahu, bukan makna itulah yang Ibu maksudkan bukan? Ya, aku pun paham, Ibu memaksudkan hubungan dengan tetangga seyogianya macam hubungan dengan saudara: saling menyayangi, saling memberi, dan berbagi.

Persoalan muncul lantaran semua tetanggaku macam kampret. Melek saat malam, cari makan, pulang pagi, tidur, ngorok keras-keras, bangun-bangun saat beduk asar terdengar dari langgar yang nyaris tak pernah lagi digunakan bersembahyang, kecuali oleh sang muazin sekaligus marbot.

Betapa mungkin aku sekeluarga bisa menyayangi mereka? Setiap kali kami pergi ke luar kota, lalu pulang, ada saja barang berharga di rumah telah lenyap. Bajingan! Mereka semua bajingan.

Suatu kali, kami pergi ke Blora dan ketika pulang, pompa air di belakang dapur raib. Kali lain, bahkan meja kayu jati yang kusimpan di gudang terpisah dari rumah induk pun lenyap. Lalu burung beo dan perkutut terbang entah ke mana sekalian bersama sangkar mereka. Jangankan barang berharga, bahkan ember bocor dan sepeda rongsokan pun tersingkirkan dari pekarangan belakang rumah kami.

Dan Ibu menyuruh kami memperlakukan tetangga sebagaimana memperlakukan saudara: penuh kasih sayang, saling memberi, dan berbagi kegembiraan? Omong kosong! Begitu kau berbaik-baik, mereka pun ngelunjak. Orang bilang, mereka adalah sekumpulan manusia yang berperikelakuan diwenehi ati, ngrogoh rempela; diberi hati, merogoh ampela. Keranjingan bukan?

Sekali waktu aku ingin memasang jebakan, perangkap, entah berupa apa. Kubayangkan, aku menaruh barang berharga – yang entah apa pula, sekarang belum lagi kupikirkan, yang kuhubungkan dengan perangkap – yang juga belum terpikirkan berupa apa. Jadi jika barang itu pun kelak raib, yang pasti mereka colong, aku bisa tahu pasti siapa sang maling. Perkara tindakan apa yang harus kulakukan pada dia, itu pun belum kupikirkan pula. Biarlah sambil jalan saja.

Kini aku mencari-cari, memilah dan memilih, apa barang berharga di rumah yang bisa kujadikan umpan untuk menangkap atau paling tidak mengetahui tetanggaku yang doyan barang milik orang lain – yang oleh ibuku mesti diperlakukan bagai saudara. Laptop? Jelas tidak. Ke mana pun pergi, barang itu selalu kubawa. Bukankah aku harus menulis dan selalu menulis di mana pun dan kapan pun?

Buku-buku? Bagiku, itulah harta paling berharga. Namun tampaknya para tetangga yang baik hati itu tak tahu nilai tak tepermanai dari buku-bukuku, sehingga tak hendak mengusik jajaran buku di rak ruang kerjaku. Ya, tak pernah satu pun buku hilang tercuri, kecuali puluhan yang tak kembali karena sang peminjam tahu persis aforisma: adalah bodoh meminjamkan buku, tetapi lebih bodoh lagi mengembalikan buku pinjaman.

Menyadari buku bukan barang yang mereka incar membuatku bersyukur sekaligus bingung. Lalu apa barang berharga yang bisa kujadikan umpan? Televisi tabung model lama 21 inci yang bahkan kutaruh di teras rumah itu pun tak lagi memikat para maling. Telepon bulukan milikku pun tak bakal mereka lirik. Apalagi? Apa yang berharga di rumah kami? Tak ada! Benar-benar tak ada? Padahal, bukankah sebelumnya ember bocor, gagang pengepel lantai, sepeda kecil yang tinggal rongsokan pun mereka embat?

“Wuk, apa sih yang berharga di rumah kita?” tanyaku pada Ita.

“Keutuhan keluarga, itulah kebahagiaan kita,” jawab Ita.

Wow! Aku tertawa, senang bukan kepalang, lalu sujud dan berguling-guling di lantai. Ita cuma tersenyum melihat ulahku.

Sejenak kemudian aku bangkit dengan napas ngos-ngosan. “Kau punya tabungan?”

“Sudah kubelikan gelang.”

“Gelang itu dan cincin kawin kita masih kausimpan?”

“Kan sudah kita jual untuk mengganti pintu dapur yang jebol?”

Oh, ya, ya belum lama benar aku mengganti pintu dapur yang jebol lantaran terlampau sering kutendang ketika jengkel, marah, dan geram tetapi tak bisa melampiaskan setiap kali ada sesuatu yang hilang ketika kami pulang dari bepergian. Setan!

“Eh, Wuk, benarkah keutuhan keluarga adalah kebahagiaan dan itulah harta paling berharga di rumah kita? Kau tak menyindir suamimu yang tak pernah mampu mengganti cincin kawin itu kan?”

“Untuk apa menyindirmu, kalau itu justru menjauhkan kita dari kebahagiaan?”

“Bahagiakah engkau, Istriku?”

Ita tak menjawab. Namun aku menangkap senyum mengorak di bibirnya. Perasaanku kembali melambung. Kebahagiaan berkeluarga, sesederhana itukah?

“Aku tahu jawabanmu lewat senyum manismu, Istriku,” ujarku sambil meremas jemari tangannya.

“Kau yakin, Mas?”

“Memang begitu kan? Atau kau tersenyum lantaran perkara lain?”

“Aku bahagia, sungguh bahagia, kita tak hendak menggugurkan keutuhan keluarga kita. Aku mensyukuri setiap saat yang kita lalui bersama. Bersamamu, bersama anak-anak, adalah kebahagiaan yang tak bakal kutukar dengan apa pun. Cuma itu yang kuharap tak akan tercuri dari kita.”

“Subhanallah. Matur nuwun, Wuk, terima kasih.”

“Elok, Mas, jika kita mampu merapatkan pintu, sehingga tak ada siapa pun mencuri kebahagiaan kita,” ujar Ita sambil bangkit, lalu berjalan menuju ke kamar anak-anak, Kinanti dan Kinasih.

“Lo, pintu dapur kan sudah kuganti?” batinku sambil melangkah, mengekor di belakang dia.

Ita berdiri di dekat ujung kaki anak-anak yang terlelap di pembaringan. Dia membungkuk, membenahi selimut mereka, lalu kembali tegak. Kupeluk dia dari belakang, sembari mencermati wajah kedua anak kami.

“Kau tahu, Mas, bagi mereka berdualah seharusnya segala perhatian dan kasih sayang kita tumpahkan. Perhatian dan kasih sayang itulah sarana bagi kita menghantarkan mereka menuju masa depan. Masa depan yang mereka raih dengan selalu berada di jalan kebaikan dan kebenaran,” ucap Ita pelan. “Bukan masa depan yang teraih lewat kemunafikan, kelicikan, dan semangat saling menistakan. Aku tak rela anak-anak menikmati hidup dalam kebohongan.”

Aku melengak. Kenapa ucapan dan nada bicara Ita jadi insinuatif?

“Apa maksudmu?” tanyaku sembari melepaskan pelukan, lalu duduk di tepi pembaringan. Kuamati wajah Ita, yang masih berdiri di dekat ujung kaki anak-anak.

Ita berbalik, keluar dari kamar. Aku bangkit dan kembali mengekor. Dia duduk di depan pesawat televisi di ruang tengah. Di layar tertayang “Kick Andy”. Aku duduk di samping dia.

“Ucapan terakhirmu rasanya mengandung kemarahan. Ada apa, Wuk?”

“Siapa Intan?” sahut dia ketus.

Intan? “Intan siapa?”

“Tak usah berlagak bego.”

Kok berlagak bego? Piye sih! Aku terdiam, tak paham maksudnya.

“Siapa Intan yang kausebut-sebut dalam tidur?”

Hah! “Intan? Intan siapa!”

“Mas! Kau masih hendak mengelak?”

Aduh! Apa pula hendak kukatakan? Aku tak paham, sebenar-benar tak paham maksud dia. Kalau benar aku mengigau dan menyebut-nyebut nama itu, aku tak tahu: benar atau tidak. Kini, mau tak mau, aku mesti mengingat-ingat kapan pula bermimpi, sehingga sekali waktu tercetus nama itu dalam tidur. Nihil!

“Oh, kalau benar yang kaumaksud Intan, barangkali memang Intan yang kukenal. Namun kau pun kenal dia. Beberapa kali dia ke kedai kita kan? Sekarang, katanya, dia sudah sebulan di Jogja. Bekerja. Kau tahu, tak mungkin kami berhubungan lebih dari hubungan antara pengelola kedai kopi dan pelanggan. Lagipula belum pernah sekali pun, seingatku, aku bermimpi atau memimpikan dia. Bukan, bukan lantaran dia tak menarik. Dia manis dan cerdas. Kau tahu itu. Namun tak mungkin bukan aku menjalin hubungan cinta, misalnya, dengan gadis seusia anak kita? Apalagi aku tak pernah kegedhen rumangsa merasa cukup menarik dijatuhcintai seseorang.”

Ita mengubah saluran. Breaking news. Presiden Basuki Tjahaja Purnama menerima delegasi Asosiasi Penambang Intan Kalimantan. Aku menepuk jidat! Itulah, itulah, barangkali yang menelusup dalam mimpiku dan terlontarlah kata “intan” dalam igauan. Ya, aku yakin itulah yang telah terjadi.

“Itu, itu! Perbesar volume, Wuk!”

Ita diam saja. Kurebut pengendali dan kuperbesar volume televisi.

“Sore ini di Istana Negara, Presiden Basuki Tjahaja Purnama menerima delegasi Asosiasi Penambang Intan Kalimantan (APIK) yang dipimpin Danang Cahya Firmansah. Mereka menemui Presiden untuk menyumbangkan intan temuan seberat 25 kilogram. Itulah sumbangan bagi pendirian Universitas Persahabatan Internasional Kalimantan (UPIK) di ibu kota negara, Palangkaraya.”

Nah, itu, itulah yang kuigaukan! “Itulah mimpiku, Wuk. Ya, itulah yang kuigaukan. Intan itulah!”

Namun Ita masih terdiam. Matanya kosong menatap layar televisi, yang kini sudah berganti tayangan.

“Wuk, tidurlah dulu. Nanti kususul setelah selesai bikin cerita bersambung. Malam ini dead line,” ujarku memecah kebisuan.

Aku bangkit, melangkah ke kamar kerja, menghidupkan laptop, memasang modem. Menunggu jaringan internet tersambung, aku menghapus nomor Intan dari telepon. Ketika jaringan tersambung, kubuka jejaring sosial pertemanan. Kubuka kotak pesan Intan dan kutulis pesan.

“Intan, Ita mencium hubungan kita. Bikinlah akun baru. Tak perlu kaupasang fotomu, apalagi foto kita. Sori, nomor teleponmu kuhapus. Ganti nomor lain. Kini, akunmu kublokir. Kita pindah saluran.”

Beres! Tak ada lagi Intan dalam telepon, tak ada lagi Intan dalam jejaring pertemanan. Dan semoga tak ada Intan pula dalam igauan. Aku bahkan berharap tak bakal mengigau lagi.

 

Patemon, 4 Juni 2017: 06.16

· ilustrasi saya ambil dari Jalan Teater – blogger

 

 

3 Comments to "Aku Berharap tak Pernah Lagi Mengigau"

  1. Alvina VB  1 July, 2017 at 09:41

    Ini cerita apa pesennya ya? Suami yg selingkuh ampir ketahuan istrinya? he…he….
    James, di Indonesia sayangnya banyak anak2 gak pernah dididik sama org tuanya dari kecil “jangan mengambil yg bukan hak milikinya”, makanya maling kecil sampe koruptor ada semua di masyarakat dan pemerintahan.

  2. Lani  30 June, 2017 at 12:30

    James: betul sekali

  3. James  30 June, 2017 at 06:19

    Ha ha ha fi Indo srgala bisa raib ole maling bangsat pencuri, kuburan aja bida di bongkar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.