Salahmu

Elisabeth Oktofani

 

Delapan tahun yang lalu, seorang dokter mengatakan bahwa saya hanya akan punya waktu 10 tahun lagi kalau penyakit hati saya tidak diobati. Lucunya, meskipun berkata demikian sang dokter tidak memberikan saya resep untuk mengobati penyakit tersebut karena Pak dokter berasumsi saya tidak punya uang. Waktu itu ada dua jenis obat, obat A seharga 3 juta rupiah dan obat B seharga 8 juta untuk satu bulan. Mahal sekali kan? Melihat penampilan saya maka Pak dokter berasumsi saya tidak mampu maka ia tak memberikan saya resep. Yang ada, ia hanya memberi vitamin saja yang ternyata sama sekali tidak membantu.

Saya pun mencari second opinion. Dokter kedua pun mengatakan demikian dan lucunya Bu dokter justru menyalahkan gaya hidup saya karena suka minum wine, cocktail dan teman-temannya. Padahal, saya cuma social drinker. Lagi, bu dokter tidak menawarkan pengobatan karena dianggap anak nakal dan yang ada justru menyalahkan. Bahkan katanya, saya tidak bisa punya anak sehat. Aneh ya?

Jujur saja, saya cukup putus asa. Saya pun kemudian ke Singapura. Saya bertemu dengan dua orang dokter. Kedua dokter kepada saya bahwa saya tidak perlu mempercayai kata dokter tersebut. Yang terpenting adalah mengobatinya. Harganyapun tak semahal yang ditawarkan oleh dokter Indonesia tersebut. Dan sekarang, I am healthy with a healthy baby boy too.

Lalu kejadian lain lagi terjadi ketika saya mulai tinggal di Jakarta. Saat itu, saya mengalami keputihan parah karena air yang saya gunakan untuk memberikan vagina sepertinya tidak bersih. Saat itu juga, saya baru saja selesai menstruasi. Kebetulan saya suka pakai tampon. Tahu apa kata dokter? “Makanya jangan sok kebarat-baratan pakai tampon segala!” Padahal dokter tersebut bekerja di rumah sakit internasional di kawasan Mega Kuningan.

Ada juga kejadian dengan dokter di rumah sakit swasta di kawasan Semanggi yang tidak bisa membaca hasil lab tetapi mengatakan saya punya penyakit dan menyarankan untuk membeli obat seharga dua juta rupiah?! WTF?!

Sorry to say…. tapi tiga pengalaman tersebut membuat saya ragu akan dokter di Indonesia yang terlalu sibuk untuk menghakimi dan berjualan daripada mengobati pasien. Nah membaca artikel tentang kematian Jupe dan Kanker Serviks, banyak artikel yang kemudian menghakimi gaya hidup Jupe sebagai penyebab kematiannya. Come on…. who are you to judge?! Bagus kalau kita mulai mengenali tentang kanker serviks dan penyakit lain, dengan demikian kita dapat melakukan tindakan pencegahan. Namun yang ingin saya tanyakan adalah bisa enggak sih tanpa embel-embel “Penyebab kematian Jupe…” It’s sickening! The most important thing is that we need to educate ourselves!

 

 

About Elisabeh Oktofani

Lahir di Yogyakarta, 1987, Elisabeth Oktofani adalah seorang jurnalis dan penulis yang kini berdomisili di Jakarta. Lulusan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2010. Kecintaan Oktofani pada dunia tulis menulis dan ketertarikannya pada isu sosial membuat Oktofani senang berkenalan dan bergaul dengan orang-orang dari berbagai kalangan. Bule Hunter adalah buku Oktofani pertama yang ditulis dengan metode jurnalistik, yakni melalui riset, wawancara dan observasi lapangan dengan sudut pandang perempuan Indonesia.

My Facebook Arsip Artikel Website

5 Comments to "Salahmu"

  1. Lani  30 June, 2017 at 12:22

    Saya pernah pengalaman tdk bagus dgn dokter Indonesia sdh lama sekali ktk di Indonesia. Dokter mulut ember krn apa yg dibicarakan dikamar praktek disebar kepada umum……..aku sampai ngamuk. Benar2 tdk mentaati kode etik dokter

    Selama di America amit2 dah belum pernah punya pengalaman buruk baik dokter wanita/pria semuanya baik dan bisa diajak komunikasi tdk sok dokternya, krn bagaimanapun pasien yg plg tahu apa yg dirasakan……….

    Klu sebagian dokter di Indonesia suka main tebak2-an, atau tdk senang klu pasiennya banyak bicara dan dianggap sok keminter……..

  2. James  30 June, 2017 at 05:52

    Al, pernah punya 2 Dr keluarga asal Indo di Sydney, sy mabur dari kedua Dr ini, 1 mata duitan dan 1 keras kepala semau gue, skrg Dr asal Indo juga tapi asli lulusan Sydney, sdh 4 tahun mulus deh pengertian banget, semoga panjang deh

  3. James  30 June, 2017 at 05:44

    Dr di Indonesia lbh dr 90% KOMERSI, mereka bukan tujuan menyembuhkan tapi tujuan mengembalikan uang waktu kuliahnya, maka kalau dibanding dr LN bedalah segi kemanusiaannya pd hal gak ada Kemanusiaan Pancasila

  4. Alvina VB  30 June, 2017 at 01:27

    Lanjut komennya ya……Hampir 18 thn yg lalu, anak saya masih pitik, pulang ke Ind dia kena diare. Jadi dibawa ke dr. Ini dokter pertama kasih resep yg ajubilah……gak salah apa? ada sirop penurun panas, vitamin, etc, etc. Pokoknya begitu liat resepnya yg gak masuk akal dan harganya yg juga gak masuk akal, kita datengin dr. ke 2. di perumahan org tua. Ternyata dr. ini temennya adik saya main tennis jadul, dia ketawa liat resep yg kita ujukin ke dia. Dia bilang utk menyetop diare anak kecil, mah gampang aja, kasih air kanji (saat menanak nasi, air rebus di atas nasi tsb). Lakukan berulang kali, pasti itu diare stop. Bener aja, kita lakukan nasehat dr. ke 2 berhasil. dr. 1 resepnya ya ke laut aja….he…he…..

  5. Alvina VB  30 June, 2017 at 01:20

    Iya…..saya setuju sama pendapatnya Elisabeth, musti cari pendapat dr. ke-2/3/4 utk cari yg masuk akal. Kl gak masuk akal lagi, apalagi sama biayanya ya lebih baik ke LN. Dr. di Indonesia (gak semuanya sich) gak bisa dipercaya lagi, krn ‘uang’ yg jadi tujuan utama mereka. Para kenthirs punya pengalaman gak enak dgn dr. di Indonesia? Saya punya pengalaman gak genaken waktu anak saya kena diare duluuuuuu pas pulkam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *