Yang Paling Galak – The Spoiled Child

Dian Nugraheni

 

Kisah panjang ini, adalah pelajaran bagi kami…

Semalam, keluarga besar Eyangnya Cedar bisa berkumpul, lebih karena ada acara Engagement party, pesta lamaran, pertunangan, yang diselenggarakan oleh salah satu adiknya Eyang. Aku pun, sudah sangat lama tidak ikut-ikut kumpul dengan keluarga besar yang orang-orangnya selalu ceria dan penuh senda gurau bila sedang berkumpul. Terus terang ini sangat berbeda dengan keluarga besarku yang most of them adalah kaku diwarnai hal-hal yang sifatnya kurang santai.

Cucu-cucu Eyang, semuanya tinggal di Purwokerto, meski tidak satu rumah, cuma satu yang waktu itu selalu tinggal di kota yang cukup jauh dari Purwokerto. Semalam, mereka bisa saling bertemu. Dan, ohhh…time flies so fast…, cucu-cucu ini sudah beranjak dewasa…Kerongkonganku tersedak-sedak aja semalam, air mata memaksa menyeruak dari kelopak mata…

Cedar, adalah cucu yang lahir urutan ke tiga, dengan jarak yang cuma satu tahunan dengan sepupu-sepupu lain. Dan ketika itu, aku dan anak-anak lah yang tinggal serumah dengan Eyangnya karena waktu itu Bapaknya Cedar Alma sudah ada di Amrik. Dan kebiasaan nenek kakek di mana-mana adalah memanjakan cucu-cucunya yang kadang, berlebihan. Ini bikin Cedar menjadi “spoiled child.” Sikapnya menangan, apa-apa harus dapet seketika itu juga, dan memang ada yang mengakomodir…he..he..

Aku ingat, ketika itu tahun ajaran baru, ketika Eyangnya membeli 2 pak buku tulis, total berisi 24 buah. Eyang membaginya untuk 3 cucu yang kebetulan sedang ada di rumah, yaitu dek Anis, Cedar, dan Alma. Eyang membaginya 12 buah untuk dek Anis, 6 untuk Alma, dan 6 untuk Cedar. Seingatku Alma masih kelas Nol, Cedar kelas 3.

Entah gimana, terdengar suara Cedar membentak dan menyalahkan Eyangnya, “Eyang bisa hitung nggak, 24 (buku) dibagi 3 itu hasilnya berapa..? Kenapa dek Anis dapet 12, aku sama Alma cuma dapet 6..?”

Lalu kudengar Cedar Alma serempak teriak, “Eyang tidak adil..!”

Aku bingung, Eyangnya juga bingung, lalu, “Aniis, sini bukunya kembalikan Eyang, dibagi rata…”

Dek Anis, “Udah ditulisin nama semua kok, Yang…”

Suasana tegang. Anak-anakku protes barengan, tanpa pernah aku duga.

Lalu untuk meredakan suasana, aku bawa anak-anak ke rumah kakak perempuanku yang tinggal satu kota dengan kami, bertemu Bude, Pakde dan sepupu-sepupu dari pihakku di sana.

Aku dengar anak-anak mengadukan masalah pembagian buku dengan Pakdenya. Duuh, padahal dari segi pandang orang dewasa, aku pun mampu membelikannya satu gerobak buku, tapi mereka menolak.

Sebentar kemudian, anak-anakku dan sepupu-sepupu diajak Pakdenya ke toko, ternyata masing-masing dibelikan satu pak buku tulis. Lalu ketika pulang ke rumah Eyang, Cedar Alma berbarengan menghadap Eyangnya, “Aku udah dibelikan satu pak buku sama Pakde…”

Cedar Alma nampak puas, diam, tenang, mungkin merasa “menang” dan sekarang keadaan menjadi “even” menurut kedua bocah cilik itu. Masalah selesai dengan cara mereka. Aku ga campur tangan karena posisiku saat itu “kalah” dan nggak pernah didengar terutama oleh si Kakak Cedar yang sudah telanjur jadi spoiled child, hixixixi..

Maka, mungkin teman-teman akan sering melihat postinganku mengatakan betapa aku bersyukur tinggal di Amrik ketika anak-anak bertumbuh, adalah, salah satunya, ketika kami tinggal di Amrik, kami sama sekali bukan orang berada yang apa-apa serba mudah. Dari kebiasaan kami di Indo selalu bermobil kemana-mana, apa-apa ada, menjadi keadaan di mana kami harus jalan kaki, naik kereta atau bus menembus musim yang begitu dingin atau begitu panas dalam kurun waktu 4 musim.

Bla..bla..bla.., anak-anakku diasah oleh tajamnya “ampelas” berpasir kehidupan sehari-hari Amrik, di mana kata “please” dan “thank you” menjadi pelajaran pertama orang tua untuk mendidik anaknya, di mana prinsip “trying to be nice” kepada semua orang benar-benar diterapkan.

Dan sejauh yang aku rasakan, pendidikan, terutama oleh sekolah dan lingkungannya, adalah berhasil. Terutama Cedar yang dulu spoiled, menjadi anak-anak yang benar-benar berbeda saat ini. Dia anak yang tau tanggung jawab, tau sopan santun, helpfull dan peduli terhadap sekitarnya, dan cukup tau, harus bagaimana berlaku sehari-hari, meski sifatnya yang sok galak, sok ngatur, nggak bakalan ilang (ciri khas anak sulung..? ha..ha.., soalnya aku dan Alma adalah bungsu).

Pencapaian ini, mungkin tak akan terjadi bila kami terus tinggal di Indonesia, dan anak-anak terus menerus diperlakukan dalam kemanjaan yang tanpa terasa, sering kebablasan…

Ketika kuceritakan hal ini pada anak-anak, terutama Cedar, anak-anakku tertawa terbahak-bahak, “apa iya sih..? ha..ha..ha..aku nggak inget..!”

(Foto: Cedar Alma dengan sepupu-sepupu sebaya dari pihak Bapaknya, dek Anis, dek Diko, dan mbak Aliya, masih ada 3 lagi yang kecil-kecil tidak ikut berfoto di sini)

A spoiled child, spoiled brat, or simply a brat is a derogatory term aimed at children who exhibit behavioral problems from being overindulged by their parents. Children and teens who are perceived as spoiled may be described as “overindulged”, “grandiose”, “narcissistic” or “egocentric-regressed”.(wikipedia)

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

4 Comments to "Yang Paling Galak – The Spoiled Child"

  1. Alvina VB  30 June, 2017 at 23:56

    Ha…ha….mbakyu Lani, sama2 demen kebersihan, makanya kl ada yg jorok2 lariiiiii…..he..he….
    James, saya mah anak yg nurut sama org tua, he..he…soalnya takut kualat kl punya anak, anaknya gak nurut sama org tua, he…he…. Duluuu sering protest sama org tua ttp ada alasannya, sama aja sekarang sering diprotest sama anak, ttp kl alasannya kuat, ya kita terima donk. Untungnya, punya anak yg gampang diurus, krn udah disiplinin dari kecil, kl dah gede mah telat dah…

  2. Lani  30 June, 2017 at 12:28

    James: kenthir satu ini dulu terkenal sbg anak rebellious………tp semakin bertambah usia berubah yg tdk pernah berubah adalah menyukai kebersihan, semua tertata rapi, dan pd tempatnya masing2……..plg tdk tahan melihat tempat jorok amit2 dah……..

  3. James  30 June, 2017 at 06:07

    Perkembangan anak akan menyesuaikan diri dgn berjalannya usia si anak dan perkembangan keadaan sekitar

    Bagaimana dgn para Kenthirs yaitu anak anak Baltyra?

  4. James  30 June, 2017 at 06:03

    Pertumbuhan anak akan selalu menyesuailan diri dengan berjalannya usia si anak dan perkembsngan keadaan

    Bagaimana dengan para Kentnirs yaitu anak anak Baltyra?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *