Kehidupan Purba di Lahan Gambut

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kehidupan Purba di Lahan Gambut

Editor: Bambang Budi Utomo

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: PT Aksara Sinergi Media

Tebal: x + 142

ISBN: 978-602-1-58040-0

 

Diskusi tentang dimana sesungguhnya pusat kerajaan Sriwijaya masih terus berlangsung. Meski awam sudah menyepakati bahwa Palembanglah pusat kadatuan Sriwijaya, namun para ahli sejarah dan arkelolog masih terus mendiskusikan berdasarkan temuan-temuan termutakhir. Buku tipis ini memang tidak secara langsung membahas Kadatuan Sriwijaya. Namun fakta-fakta yang dibahasnya sangat berhubungan dengan kerajaan besar yang pernah menguasai Nusantara ini. Pemukiman-pemukiman purba di lahan gambut di situs Air Sugihan dan di Kota Kapur yang letaknya dipisahkan oleh selat.

Bambang Budi Utomo mengumpulkan hasil penelitian geologi dan geoarkeologi untuk mengungkap pemukiman purba di lahan gambut di situs Air Sugihan dan Kota Kapur. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan dari tahun 1990 -2000-an menunjukkan bahwa pemukiman di kedua situs ini sudah ada sejak jaman pra Sriwijaya. Kedua pemukiman tersebut juga sudah menjadi pemukiman yang berbasis perdagangan dengan Cina dan India daripada sekedar pemukiman agraris subsisten.

Artikel yang ditulis oleh Agustijanto Indradjaja, Eko Putrina Taim dan Johan Arif menunjukkan bahwa Air Sugihan sudah menjadi pemukiman kuno jauh sebelum kerajaan Sriwijaya (hal. 75). Pemukiman tersebut terus berlanjut sampai dengan era Sriwijaya. Hal ini dibuktikan bahwa bentuk dan bahan rumah dari pemukiman yang lebih tua berbeda dari bentuk dan bahan rumah yang lebih muda (dari era Sriwijaya). Berdasarkan temuan-temuan ini, Indradjaja dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa pemukiman mula-mula terjadi di wilayah hilir sungai dan kemudian berkembang kea rah hulu (hal. 76).

Sedangkan di artikel kedua, Budi Wiyana menyimpulkan bahwa pemukiman di Air Sugihan adalah pemukiman yang berbasis perdagangan, bukan sekedar pemukiman pertanian subsisten. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya banyak peninggalan perahu kuno dan artefak-artefak yang mirip dengan yang ditemukan di Funan (Oc-eo) (hal. 93). Pemukiman Air Sugihan diduga sudah ada sejak abad I dan berlanjut sampai dengan abad XIII.

Nurhadi Rangkuti menunjukkan bahwa budaya tungku kran dan perahu kajang yang masih eksis di wilayah Kayuagung adalah bukti bahwa wilayah Kayuagung berhubungan dengan migrasi orang Austronesia. Kemungkinan leluhur orang Kayuagung memiliki tradisi penjelajah bahari Austronesia yang berlanjut pada masa Sriwijaya di Sumatra Selatan (hal. 110).

Situs Kota Kapur adalah situs tertua yang ditemukan di Pulau Bangka. Bambang Budi Utomo mengungkapkan bahwa Situs Kota Kapur sudah eksis dari sejak abad VI. Arca-arca bercorak Agama Hindu yang sangat dipengaruhi oleh India ditemukan di wilayah ini. Arca-arca tersebut umurnya lebih tua dari Sriwijaya yang beragama Budha. Kemungkinan Kota Kapur menjadi sasaran para pedagang India adalah karena kandungan timah yang sangat dibutuhkan untuk pembuatan perunggu (hal. 126).

Baik dari data geologi maupun data arkeologi menunjukkan bahwa wilayah Air Sugihan dan Kota Kapur sudah menjadi pemukiman jauh sebelum masa Sriwijaya. Temuan ini menggugurkan teori yang mengatakan bahwa hilir Sungai Musi, dimana terletak Kota Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya adalah laut lepas. Bukti-bukti yang disajikan oleh Bambang Budi Utomo ini mengajukan teori baru bahwa pemukiman dan perdagangan internasional (dengan Cina dan India) mula-mula terjadi di wilayah hilir yang bergambut dan kemudian pelan-pelan menuju ke tempat yang lebih hulu.

 

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Kehidupan Purba di Lahan Gambut"

  1. Handoko Widagdo  6 July, 2017 at 07:50

    Avy, ini buku serius yang ditulis oleh para peneliti dengan back up fakta-fakta arkelolgi yang banyak.

  2. Alvina VB  5 July, 2017 at 23:55

    Tanah Indonesia, merupakan surga bagi archeologists.
    Semoga buku2 spt ini banyak muncul, ttp harus di back-up sama fakta2, bukan cuman alkisah aja.

  3. Handoko Widagdo  5 July, 2017 at 07:46

    Hennie, Ari Sugihan ada di Provinsi Jambi.

  4. Hennie Triana  5 July, 2017 at 05:55

    Terima kasih Mas Handoko. Menarik sekali pasti membaca buku ini. Air Sugihan itu di mana?

  5. James  5 July, 2017 at 05:33

    Jelas yang Purba lbh bagus dong mas Hand, kalau korupsi kan membuat Hutang Indonesia semakin Membengkak tahun ini kan?

  6. Handoko Widagdo  4 July, 2017 at 16:03

    James, aku lebih suka yang purba tanpa korupsi.

  7. James  4 July, 2017 at 15:56

    Kehidupan Modern di Lahan DPR

  8. Handoko Widagdo  4 July, 2017 at 15:49

    Buku bagus yang membahasa Nusantara di masa lalu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *