Lelaki Indonesia dan Dapur

Hariatni Novitasari

 

Ini berawal dari diskusi tidak serius dengan teman baik saya tadi malam. Awalnya, kita hanya ngobrol ringan tentang oppa-oppa yang bisa memasak. Kenapa coba mereka bisa masak? “Ya karena ada wamil kali ya… Jadi mau tidak mau mereka harus mandiri….” kata teman baik saya tebak-tebak buah manggis. Masuk akal. Pernah dengar budae jigae? Nama keren lainnya adalah army-based stew yang intinya isi dari stew ini adalah apa saja yang ada. Jadi ada ramen, toppokki, sedikit daging, sosis, kimchi, etc etc, apapun yang ada di lemari dapur bisa dimasukkan. Kayaknya itu, tentara-tentara yang malas masak macam-macam tetapi kelaparan, jadi mencampur semuanya dalam satu wadah. “Lagian, bumbu mereka kan cuma diiris-iris doang.. Jadi gampang kan.

Coba lu bayangkan kalau oppa-oppa itu pada ngulek cabe di cobek?” tambah teman saya. :))))) Duh, tiba-tiba saja aku membayangkan Park Hae-jin ngulek sambal bajak di cobek pakai kemeja putih dengan bordir di krah yang dia pakai di MxM closing scene… HAHAHAHAHAHAHAHA. Benar juga, akan wagu…..

Nah, terus lelaki Indonesia bagaimana? Eh bukan rahasia ya kalau pria Indonesia jarang yang bisa atau mau memasak. Selama 30 plus tahun umur saya, lelaki Indonesia yang bisa memasak dan mau memasak itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kalau mereka melakukan itu biasanya karena ya hobby atau karena terpaksa… HAHAHAHAHA.

Ini barangkali alasannya…. Terlepas dari budaya patriarkhi di negara kita yang masih ada yang “melarang” lelaki untuk menjamah dapur, masakan Indonesia itu memang bisa menjadi faktor yang membuat lelaki “ogah” ke dapur. Masakan Indonesia itu, bukanlah sesuatu yang simple. Tetapi masakan yang penuh dengan ritual dan melibatkan sekumpulan bumbu lengkap dan proses nan rumit. Bayangkan, untuk membuat masakan yang paling enak nomor satu di dunia versi CNN, rendang, dibutuhkan waktu berapa jam coba? Bumbu yang serba lengkap itu harus diulek satu persatu di cobek dengan dicampur santan sedikit-sedikit. Begitu seterusnya. Lalu, kemudian masak rendangnya yang bisa menghabiskan waktu 24 jam.

Juga, kadang masakan Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada pelengkapnya. Sebut saja nasi kuning. Kita tidak hanya makan nasi yang warnanya kuning. Tetapi juga dengan segenap ubarampenya mulai dari ayam goreng, telur dadar, sambel goreng ati, dendeng, dan masih banyak lagi. Tentunya, selain memasak nasi, kita juga harus mempersiapkan masakan-masakan lainnya yang juga membutuhkan waktu. Memang, umumnya masakan Indonesia jarang yang bisa berdiri sendiri; selalu membutuhkan pelengkap dengan masakan yang lain. Masakan Indonesia yang paling simple adalah NASI GORENG!

Saya membayangkan masakan Indonesia sudah gigrik. Sebagai penganut 30 minutes (maksimal) meal, kalau saya memasak seperti itu, waktu saya akan habis di dapur. Saya saja ogah seperti itu, apalagi bagi kaum lelaki. Mendingan waktu saya pakai untuk kegiatan yang lainnya.

Ohya, satu faktor lagi. Harga makanan matang di Indonesia untuk tingkat warung masih sangat terjangkau. Di Surabaya, nasi bungkus sadukan saja masih boleh Rp. 6 ribu. Di daerah saya di Candi, dengan Rp. 12 ribu sudah bisa dapat nasi dengan lauk telur, tahu, dan sepotong daging. Apalagi, di daerah yang lebih kecil di Jawa. Kapan hari makan di Pacitan berempat, makan sepuasnya dan sekenyangnya. Kami cuma membayar Rp. 28 ribu (sudah saya tehnya lho….). Coba, apa tidak semakin bikin para lelaki malas ke dapur????

 

 

6 Comments to "Lelaki Indonesia dan Dapur"

  1. Swan Liong Be  9 July, 2017 at 17:17

    Dalam kesempatan ini aku teringat akan suatu joke sbbg: Tanya sang Suami sama idtri: Sayang,kapan kita bisa makan? Jawab istri: Tunggu 20 menit lagi ya mas, tapi supaya lebih cepet kamu bisa bantu saya. Jawab suami: Oh 20 menit okaylah!

  2. Lani  8 July, 2017 at 00:43

    “Nah, terus lelaki Indonesia bagaimana? Eh bukan rahasia ya kalau pria Indonesia jarang yang bisa atau mau memasak. Selama 30 plus tahun umur saya, lelaki Indonesia yang bisa memasak dan mau memasak itu jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Kalau mereka melakukan itu biasanya karena ya hobby atau karena terpaksa… HAHAHAHAHA”.
    +++++++++++++++++++

    Emon: aku kutip dr artikelmu, mmg ada benarnya “karena hobby atau terpaksa atau dipaksa”

    Krn pd eraku atau mungkin sampai skrg pun msh ada yg mengatakan “pria itu kepala RT, pencari duit, tdk pd tempatnya masuk dapur bla……blaaaaa……”

    Dapur itu wilayah para wanita, termasuk ngopeni anak2, bersih2 dst……..

    Walau aku lahir di era tsb aku tetap tdk setuju, aku punya pendpt wanita dan pria itu setara “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah” saling menghormati, saling membantu, tdk dikotak-kotakkan ini tugas wanita saja itu pria saja, mmg ada yg benar hamil dan melahirkan adalah karunia Tuhan buat wanita, tp utk hal2 lainnya aku tidak setuju.

    James: aku setuju pendpt SLB kamu mah mmg engga mau memasak, maunya dimasakin dan setor mangap doank hahaha…………

    Untuk aku pribadi aku mmg hobby memasak, dan belajar memasak………sdh masuk dapur sejak usiaku 9 tahun krn belajar memasak dr mama

  3. Swan Liong Be  7 July, 2017 at 20:40

    @James mungkin kamu lebih condong kearah tidak mau masak dairpada tidak bisa masak, correct me if I’m wrong, hehehehe……

  4. Swan Liong Be  7 July, 2017 at 20:37

    Memang di Indonesia lelaki indonesia “dilarang” masak, at least pengalamanku waktu remaja diIndonesia. Begitu anak lelaki indonesia keluar negeri untuk menuntut ilmu mereka mau tidak mau harus juga menuntut ilmu masak dan belanja kalo gak mau kelaparan. Aku kenal banyak orang indonesia dari indonesia gak bisa masak, diluar negeri jadi “jago” masak. Sebetulnya masak tuh gak sulit, asal ada kemauan aja, apalagi sekarang ada banyak bumbu jadi.

  5. Linda Cheang  6 July, 2017 at 17:47

    Memasak masakan Indonesia itu memang perlu ketelatenan dan kesabaran. Makanya ada blogger yang berani menyatakan bahwa masakan Indonesia adalah masakan terenak sedunia.

    Aku sendiri walau bisa memasak, namun tidak hobi memasak. Lebih karena terpaksa dan dipaksa. Hahahaha. Lebih seperti HN yang 30 minutes meal jadi.

    Kalo lagi ingin lihat para lelaki masak di dapur, ya, paling ke restoran yang open kitchen.

  6. James  6 July, 2017 at 17:40

    saya termasuk salah satu pria yang tidak nisa masak dan tidak mau masak cuma mau makannya doang, just eat but no cooking at all

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *